Ipi Maryati
Kuding.@Sudutpandang.id
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta)
- KPK mengingatkan politik
uang menjadi salah satu ancaman yang harus diantisipasi menjelang tahun politik
2024.
"Praktik tersebut dalam kontestasi politik sudah menjadi
karakter lingkungan yang membudaya, mengkonstruksi, dan mempengaruhi sistem
politik demokrasi. Akhirnya politik uang di Indonesia menjadi hal yang lumrah
terjadi," ujar Juru Bicara Pencegahan KPK Ipi Maryati Kuding dalam
keterangannya, Sabtu (6/5/2023).
Di Indonesia, menurut Ipi, uang dapat menentukan seseorang
terpilih atau tidak. Pemberian uang, barang, jasa atau materi lainnya yang
dapat dikonversi dengan nilai uang menyebabkan politik berbiaya tinggi.
Imbasnya, praktik ini berpotensi menghadirkan para pemimpin
yang hanya peduli kepentingan pribadi dan golongan, bukan masyarakat yang
memilihnya. Akhirnya setelah menjabat, ia berpotensi melakukan kecurangan,
penerimaan suap, gratifikasi atau korupsi lainnya dengan berbagai macam bentuk.
"Jika hal ini terus dibiarkan begitu saja, politik uang
dapat menjadi lingkaran setan yang seolah tidak ada ujung pangkal
penyelesaiannya. Maka tidak hanya mencoreng arti demokrasi, tapi juga tatanan
tradisi luhur bangsa Indonesia. Sasaran empuk politik uang adalah para
pemilih," ujar Ipi.
Berdasarkan data olahan DEEP Indonesia pada Pemilu 2019, 44
persen pemilih menolak politik uang, namun faktanya mereka tetap menerima uang.
Mayoritas pemilih yang menolak politik uang tetapi menerima uang adalah
perempuan.
Ipi menjelaskan, alasan perempuan menerima uang seperti
faktor ekonomi, adanya tekanan secara sosial maupun politis, permisif karena
risiko kecil, dan minimnya literasi serta pemahaman tentang politik uang.
Oleh karena itu, KPK terus berupaya memberikan pendidikan
antikorupsi inklusif kepada seluruh elemen masyarakat menjelang Pemilu 2024.
KPK mendasarkan pencegahan politik uang
Program pendidikan antikorupsi ini melibatkan tiga elemen,
yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu),
partai politik, dan masyarakat pemilih.
Sumber : Publicanews
0 Komentar