MAJALAHJURNALIS.Com (Tanjungbalai) -
Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Alwashliyah Kota Tanjungbalai (PD IPA)Tanjungbalai, Habib
Maulana (foto) membuat
pernyataan bahwasanya Walikota Tanjungbalai tidak mau merangkul generasi
pelajar khusus Ikatan Pelajar Alwashliyah Kota Tanjungbalai. Menurut Habib Sebuah polemik mencuat
di Kota Tanjungbalai terkait sikap Pemerintah Daerah terhadap kalangan pelajar,
khususnya organisasi Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA). Pernyataan yang
berkembang ditengah masyarakat menyebutkan Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin
Salim Batubara, dinilai tidak menunjukkan upaya merangkul pelajar, terutama
yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Al Washliyah Kota Tanjungbalai. Hal ini menjadi sorotan karena
dianggap bertolak belakang dengan arahan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif
Nasution. Dalam beberapa kesempatan, Bobby
menegaskan pentingnya peran pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang harus
didukung, dibina, dan dirangkul oleh pemerintah. Ia secara khusus juga menyinggung
pentingnya organisasi pelajar, termasuk Ikatan Pelajar Al Washliyah Sumatera
Utara, sebagai wadah pembinaan karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Perbedaan sikap ini kemudian
memunculkan anggapan bahwa kebijakan Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak sejalan
dengan visi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam membina pelajar. Habib menilai, jika benar adanya
ketidakterlibatan atau kurangnya perhatian terhadap organisasi pelajar, maka
hal ini dapat berdampak pada minimnya ruang pengembangan bagi generasi muda di
daerah tersebut. Di sisi lain, belum ada klarifikasi
resmi dari pihak Pemerintah Kota Tanjungbalai terkait tudingan tersebut. Habib
berharap adanya komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah daerah dan
organisasi pelajar, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut. Pengamat sosial menilai, sinergi
antara pemerintah daerah dan provinsi sangat penting dalam menciptakan
kebijakan yang selaras, terutama dalam hal pembinaan generasi muda. Jika
terdapat perbedaan arah, dikhawatirkan akan menimbulkan kebingungan di tingkat
pelaksana dan masyarakat. Hingga saat ini, isu tersebut masih
menjadi perbincangan di kalangan pelajar dan masyarakat Tanjungbalai, sembari
menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah untuk merespons dan
menjembatani perbedaan persepsi yang ada. (AT)
0 Komentar