Surutnya
air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, memperlihatkan kembali bekas
permukiman Desa Sukarame dan Desa Sukajaya yang telah direlokasi untuk pembangunan
bendungan.@Beritasatu.com/Budiman.
MAJALAHJURNALIS.Com (Rangkasbitung) - Musim kemarau tidak hanya menurunkan
permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten.
Surutnya air juga
membangkitkan kembali jejak dua desa yang telah lama hilang setelah kawasan
tersebut ditenggelamkan untuk pembangunan bendungan.
Pantauan Beritasatu.com pada Minggu
(26/7/2026), bekas permukiman di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan
Sajira, kembali terlihat di dasar bendungan.
Sisa bangunan, ruas
jalan kampung, hingga hamparan sawah dan ladang yang dulu menjadi sumber
penghidupan warga kini muncul kembali setelah lama tertutup air.
Bagi masyarakat yang
pernah tinggal di kawasan tersebut, pemandangan itu bukan sekadar fenomena
kemarau. Lanskap yang kembali terlihat menghadirkan kenangan tentang kampung
halaman yang harus mereka tinggalkan demi pembangunan Bendungan Karian.
Warga Kampung Somang,
Fahruroji (35), mengatakan penyusutan air memang selalu terjadi saat musim
kemarau. Namun setiap kali permukaan air turun drastis, bekas dua desa yang
telah direlokasi selalu kembali terlihat.
"Kalau musim
kemarau memang air mulai surut. Dulu di sini ada dua desa, Sukarame dan
Sukajaya. Sekarang kalau air surut seperti ini bekas kampungnya kelihatan
lagi," kata Fahruroji.
Menurutnya, kawasan
tersebut kini sering disebut warga sebagai "kampung mati", karena
seluruh penduduknya telah direlokasi ke berbagai kawasan permukiman baru,
seperti Kampung Somang Baru dan Cipager.
"Rumahnya dulu
ratusan karena ada dua desa. Sekarang warganya sudah pindah semua,"
ujarnya.
Saat awal Bendungan
Karian selesai dibangun, kawasan yang memperlihatkan sisa-sisa desa sempat
menarik perhatian wisatawan. Namun kini aktivitas itu mulai berkurang. Area
yang muncul lebih banyak dimanfaatkan warga untuk memasang jaring dan memancing
ikan.
Di sisi lain, musim
kemarau juga mulai memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar bendungan. Sejumlah
sumur warga dilaporkan mengering sehingga sebagian warga kembali memanfaatkan
aliran sungai untuk mandi, mencuci, hingga mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kalau kemarau
sumur banyak yang kering. Warga pagi sama sore ke sungai buat mandi, nyuci,
atau ambil air," tutur Fahruroji.
Fenomena tersebut
memperlihatkan sisi lain Bendungan Karian sebagai salah satu Proyek Strategis
Nasional (PSN). Selain berfungsi menyediakan air baku, irigasi, dan pengendali
banjir, bendungan ini juga menyimpan jejak sejarah dua desa yang sewaktu-waktu
kembali muncul ketika musim kemarau menurunkan permukaan air secara drastis.
Bendungan Karian
dibangun di aliran Sungai Ciberang, anak Sungai Ciujung, dan menjadi salah satu
bendungan terbesar di Pulau Jawa. Infrastruktur ini menopang kebutuhan air
baku, irigasi pertanian, serta pengendalian banjir di wilayah Banten.
Namun, setiap musim
kemarau, dasar bendungan kembali memperlihatkan lanskap desa-desa yang pernah
hidup, menjadi pengingat bahwa di balik pembangunan infrastruktur besar
tersimpan kisah relokasi ribuan warga dan kampung yang kini hanya muncul ketika
air surut.
Sumber
: Beritasatu.com
0 Komentar