Studi terbaru memperingatkan populasi
manusia telah melewati batas daya tampung Bumi. Dengan 8,3 miliar jiwa, keberlanjutan
ekosistem terancam.@Foto: CHARLY TRIBALLEAU / AFP.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta)
- Sebuah studi
terbaru dari tim peneliti internasional memperingatkan bahwa jumlah populasi
manusia saat ini telah melewati batas kapasitas daya tampung Bumi yang
berkelanjutan.
Studi
yang dipublikasikan di jurnal Environmental Research Letters ini menyatakan
bahwa populasi global saat ini yang mencapai 8,3 miliar jiwa tidak akan dapat
bertahan dalam jangka panjang tanpa menghabiskan ekosistem, memperburuk
perubahan iklim, serta mengancam ketahanan pangan dan air.
"Bumi
tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bumi tidak dapat
mendukung permintaan saat ini tanpa perubahan besar," ujar pemimpin
penelitian sekaligus Profesor Ekologi Global dari Flinders University, Corey
Bradshaw, melansir Science Daily, Sabtu (30/5/2026).
Bradshaw
menjelaskan bahwa perhitungan tim peneliti menunjukkan jumlah populasi global
yang benar-benar berkelanjutan sebenarnya hanya berkisar di angka 2,5 miliar
orang. Angka tersebut dengan syarat setiap individu hidup dalam batas ekologis
dan memiliki standar hidup yang aman secara ekonomi.
Dalam
riset ini, tim internasional yang melibatkan mendiang Profesor Paul Ehrlich
dari Stanford University menganalisis data populasi dan lingkungan selama lebih
dari 200 tahun. Mereka menemukan bahwa pola pertumbuhan berubah pada awal
1960-an, ketika laju pertumbuhan mulai melambat meskipun total populasi terus
meningkat.
Penelitian
tersebut memproyeksikan populasi global kemungkinan akan mencapai puncaknya di
angka 11,7 hingga 12,4 miliar orang pada akhir tahun 2060-an atau 2070-an jika
tren saat ini terus berlanjut.
Menurut
para peneliti, tingkat populasi yang tinggi saat ini bisa terjadi karena
masyarakat bergantung pada bahan bakar fosil dan mengonsumsi sumber daya alam
lebih cepat daripada kemampuan Bumi untuk memulihkannya.
Ketergantungan
ini dinilai menyembunyikan efek kelebihan ekologis secara sementara melalui
penyediaan pangan dan pertumbuhan industri, namun di sisi lain memperparah
emisi karbon serta kerusakan lingkungan.
Risiko-risiko
yang dikaitkan dengan situasi ini meliputi memburuknya dampak iklim, hilangnya
keanekaragaman hayati, penurunan keamanan pangan dan air, serta meningkatnya
ketimpangan.
Kendati
demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak memprediksi runtuhnya
peradaban secara tiba-tiba, melainkan sebuah penilaian realistis mengenai
tekanan yang sedang terjadi.
Riset
ini didukung oleh The Kids Research Institute Australia dan lembaga Population
Matters. Tim penulis yang terlibat di antaranya berasal dari Flinders
University, University of Western Australia, University of California, Stanford
University, dan University of Cambridge.
Sumber
: CNN Indonesia
0 Komentar