Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

AS Dituding Korut Picu Ketegangan Asia lewat Pasokan Senjata ke Sekutu

 

AS Dituding Korut Picu Ketegangan Asia lewat Pasokan Senjata ke Sekutu
Bendera Korea Utara.@freepik.com/freepik.com.


MAJALAHJURNALIS.Com (Seoul) - Kementerian Pertahanan Korea Utara (Korut) menuduh Amerika Serikat memperburuk stabilitas keamanan di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur melalui kebijakan penjualan senjata kepada negara-negara sekutunya.
 
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Washington menyetujui penjualan ratusan perangkat pendukung amunisi presisi kepada Korea Selatan dengan nilai mencapai US$ 106 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun.
 
Menurut laporan kantor berita negara KCNA, Minggu (7/6/2026), seorang pejabat dari Biro Persenjataan Umum Kementerian Pertahanan Korut menyebut langkah Amerika Serikat berpotensi meningkatkan ketegangan militer di kawasan.
 
"Penjualan senjata AS yang sembrono menambah ketidakpastian di tingkat regional dan internasional serta tak terelakkan akan memicu penyalahgunaan kekuatan," kata pejabat tersebut kepada KCNA.
 
Kementerian Pertahanan Korut menyoroti keputusan Amerika Serikat yang menyetujui penjualan 708 perangkat ekor (tail kits) untuk amunisi udara presisi KMU-557 serta 58 sistem pemandu KMU-572 kepada Korea Selatan.
 
Pyongyang menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Washington untuk memperkuat kemampuan militer konvensional Seoul dalam menghadapi Korea Utara.
 
Menurut Korut, langkah itu juga mencerminkan perubahan peran pasukan Amerika Serikat di Semenanjung Korea yang kini semakin fokus pada penguatan kemampuan tempur sekutunya. Selain Korea Selatan, Korea Utara juga menuduh Amerika Serikat terus meningkatkan pasokan persenjataan ke negara-negara lain di Asia.
 
Dalam beberapa bulan terakhir, Washington disebut telah menyetujui penjualan berbagai sistem persenjataan canggih kepada Korea Selatan, termasuk bom berpemandu jarak jauh GBU-39, helikopter maritim MH-60R, hingga komponen helikopter serang AH-64E Apache.
 
Korut juga menyoroti dukungan Amerika Serikat terhadap rencana Korea Selatan untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir.


 
Tidak hanya itu, Pyongyang menuding Washington memperkuat Taiwan melalui penjualan sistem roket Himars, rudal antitank Javelin, howitzer, amunisi berkeliaran (loitering munition), serta berbagai perlengkapan militer lainnya.
 
Jepang pun ikut disebut dalam kritik tersebut. Korut mengeklaim Amerika Serikat sedang mempertimbangkan transfer persenjataan serang jarak jauh, termasuk rudal jelajah Tomahawk, kepada Tokyo.
 
Menanggapi peningkatan kerja sama pertahanan antara Amerika Serikat dan sekutunya, Korea Utara menegaskan akan terus memperkuat kemampuan militernya.
 
Menurut pejabat Kementerian Pertahanan Korut, Pyongyang akan mengembangkan langkah-langkah militer dan teknologi pertahanan, baik yang bersifat simetris maupun asimetris, sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai penumpukan senjata oleh negara-negara musuh.
 
Korut juga menyatakan akan mempercepat pengembangan kemampuan pertahanan diri dan sistem penangkal strategis guna menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.
 
Pyongyang menilai peningkatan belanja senjata dan transfer persenjataan oleh negara-negara yang dianggap bermusuhan tidak akan efektif dalam mengubah posisi strategis Korea Utara.
 
Pernyataan terbaru dari Korut muncul di tengah meningkatnya dinamika keamanan di Asia Timur, terutama terkait penguatan aliansi pertahanan antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
 
Sejumlah pengamat menilai peningkatan kerja sama militer tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap program rudal dan nuklir Korea Utara yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
 
Pada sisi lain, Pyongyang memandang langkah tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya sehingga terus mendorong penguatan kemampuan militer sebagai bentuk penyeimbang.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar