MAJALAHJURNALIS.Com (Lebak)
- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis
Pertamax yang menembus Rp 16.250 per liter mulai menimbulkan efek berantai
hingga ke lapisan ekonomi paling bawah. Di Kabupaten Lebak, Banten, para
pelaku usaha mikro seperti pedagang bumbu dapur dan sayur keliling kini
menghadapi tekanan ganda berupa lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya
distribusi di tengah melemahnya daya beli masyarakat yang semakin menggerus
pendapatan harian mereka. Kondisi tersebut dirasakan langsung
oleh Aswin (35), pedagang sayur dan bumbu dapur keliling di Kecamatan Cileles,
Kabupaten Lebak, Banten. Kenaikan harga BBM dinilainya bukan sekadar menambah
biaya perjalanan, tetapi juga memperberat keberlangsungan usaha yang selama ini
menjadi sumber nafkah keluarganya. Setiap hari, Aswin menggunakan mobil
untuk membeli stok dagangan di Pasar Rangkasbitung sebelum berkeliling
menjajakan berbagai kebutuhan dapur ke sejumlah kampung. Jarak tempuh yang
cukup jauh membuat kebutuhan bahan bakarnya tidak sedikit. "Dampaknya sangat besar. Jarak
perjalanan jauh, harga sayur-sayuran juga sudah naik, sekarang ditambah BBM
naik lagi. Di daerah kami juga tidak ada SPBU yang dekat, jadi saya sering isi
Pertamax," kata Aswin kepada Beritasatu.com, Rabu (10/6/2026). Untuk mendapatkan pasokan dagangan,
Aswin harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer menuju Pasar
Rangkasbitung. Setelah itu, ia melanjutkan aktivitas berjualan keliling ke
sejumlah desa seperti Pasir Gintung dan Gumuruh. Ia mengaku dalam sehari kebutuhan
bahan bakarnya mencapai sekitar 10 liter. Dengan harga Pertamax yang terus
meningkat, biaya operasional yang harus ditanggung pun semakin membengkak. "Keliling dari Rangkas sampai
selesai jualan bisa habis sekitar 10 liter per hari. Sekarang BBM naik lagi,
otomatis pengeluaran bertambah," ujarnya.
Namun, persoalan yang dihadapi tidak
berhenti pada kenaikan ongkos distribusi. Menurut Aswin, lonjakan harga BBM
turut memicu kenaikan harga berbagai komoditas pangan yang dijualnya.
Dampaknya, banyak pelanggan mulai mengurangi jumlah pembelian karena
keterbatasan penghasilan. "Pengaruh juga ke pembeli. Harga
sayur ikut naik karena BBM naik. Kalau harga naik sedikit saja, ibu-ibu sudah
banyak yang mengeluh. Akhirnya yang dibeli jadi berkurang," ungkapnya. Penurunan volume pembelian masyarakat
tersebut secara langsung memukul pendapatan pedagang kecil. Aswin mengaku
penghasilannya terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir,
sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. "Penghasilan jelas turun.
Pemasukan makin berkurang, sementara kebutuhan keluarga tetap harus
dipenuhi," katanya. Fenomena yang dialami Aswin
menunjukkan bagaimana kenaikan harga BBM memiliki dampak yang meluas hingga ke
tingkat usaha mikro. Tidak hanya meningkatkan biaya transportasi dan
distribusi, kenaikan harga energi juga berpotensi mendorong kenaikan harga
pangan yang akhirnya membebani pedagang dan konsumen secara bersamaan. Di tengah kondisi tersebut, para
pelaku usaha kecil berharap pemerintah dapat menghadirkan langkah konkret untuk
menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta menekan biaya distribusi. Kebijakan tersebut dinilai penting
agar usaha mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di daerah
tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar