Polisi
bentrok dengan demonstran di kolong jembatan Pejompongan. @Beritasatu.com/Andrew
Tito.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Situasi aksi unjuk
rasa bertajuk “Revolusi Rakyat Indonesia” kembali memanas pada Senin
(25/8/2025) petang, meski diguyur hujan deras. Kericuhan terbaru pecah di kawasan
Pejompongan, Jakarta Pusat, ketika sekelompok massa tiba-tiba menyerang aparat
kepolisian yang sedang beristirahat di bawah kolong flyover.
Awalnya, aparat berhasil memukul
mundur massa aksi dari depan Gedung BNI ke arah Bendungan Hilir. Hujan lebat
sempat meredakan ketegangan, membuat sebagian besar demonstran mundur dan
membubarkan diri. Aparat pun mengendurkan barisan serta menarik sejumlah
kendaraan taktis ke sekitar Gedung DPR RI.
Namun, ketenangan tak berlangsung
lama. Puluhan personel yang beristirahat di kolong flyover Pejompongan
tiba-tiba diserang kembali. Massa yang semula mundur justru bergerombol dan
melayangkan lemparan batu ke arah polisi yang sedang berteduh.
Insiden ini membuat suasana kacau. Tak
hanya polisi, warga sipil dan pengendara yang ikut berlindung dari hujan turut
menjadi korban lemparan. Banyak yang panik dan berlarian, bahkan ada yang tergelincir
akibat jalan licin.
Aksi pada 25 Agustus 2025 ini diikuti
massa dari berbagai elemen dengan sejumlah tuntutan, di antaranya pembubaran
DPR, percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, penolakan komersialisasi
pendidikan, serta penolakan praktik politik dinasti yang dianggap semakin
mengakar dalam pemerintahan.
Sejak pagi, massa datang membawa
berbagai atribut, termasuk bendera Merah Putih dan bendera unik bergambar
karakter anime One Piece yang sempat menarik perhatian publik. Namun, suasana
memanas ketika demonstran mencoba merobohkan pagar besi dan merusak barikade
beton jalur TransJakarta di depan Gedung DPR. Aparat akhirnya menembakkan gas
air mata setelah massa berupaya menerobos jalur tol dalam kota.
Hingga malam, aparat kepolisian masih
berjaga ketat di sekitar Gedung DPR RI dan sepanjang Jalan Gatot Subroto untuk
mengantisipasi serangan susulan. Beberapa ruas jalan yang sempat ditutup mulai
dibuka, namun arus lalu lintas di sekitar Pejompongan dan Slipi masih padat
akibat kericuhan.
Hingga kini belum ada laporan resmi
mengenai jumlah korban luka maupun kerusakan akibat bentrokan di bawah flyover
Pejompongan. Peristiwa ini kembali menyoroti pola eskalasi massa yang kerap
memanfaatkan momen saat aparat lengah atau beristirahat.
Sumber :
Beritasatu.com
0 Komentar