Oleh:
Hamid Dabashi
Trump (kanan)
berjabat tangan dengan Netanyahu saat pertemuan sebelumnya.@Aljazeera.net.
MAJALAHJURNALIS.Com - Sabtu lalu, ketika
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat melancarkan serangan
besar terhadap Iran, militer Israel menyatakan bahwa operasi gabungan AS-Israel
menarget “puluhan sasaran militer” di Iran.
Trump menyebut operasi ini bertujuan
menghancurkan kemampuan militer Iran, meniadakan program nuklirnya, dan memicu
perubahan pemerintahan. Sementara itu, ledakan besar dilaporkan terjadi di
Teheran, dengan warga melihat asap mengepul dari kawasan yang diyakini menjadi
tempat tinggal pejabat tinggi Iran.
Di tengah arus informasi dan
propaganda dari berbagai pihak, ada empat faktor militer yang kini menentukan
nasib lebih dari 90 juta warga Iran.
Agresi
AS
Faktor pertama adalah kekuatan militer
AS yang dilepas secara penuh. Trump, yang kerap menghadapi berbagai masalah
domestik dan internasional, diduga menggunakan serangan ini untuk mengalihkan
perhatian dari isu internal maupun kegagalan diplomatiknya.
Menurut pengamat, Trump sempat
melakukan negosiasi sandiwara dengan Iran untuk membeli waktu bagi penumpukan
kekuatan militer. Di dalam negeri, perang ini tidak populer, namun media
korporat besar, seperti The New York Times dan The Wall Street Journal, mencoba
menampilkan serangan ini sebagai langkah “pre-emptive” atau pencegahan.
Krisis
Internal Iran
Faktor kedua adalah kondisi internal
Iran sendiri. Negara ini menghadapi protes besar-besaran sejak Desember hingga
awal Januari, dipicu krisis ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun
akibat korupsi internal dan sanksi AS yang membebani.
Akibatnya, kehidupan 90 juta warga
Iran menjadi sangat rentan. Para pakar menilai, konflik ini berpotensi
menciptakan medan perang sipil yang menghancurkan negara, serupa situasi yang
terjadi di Suriah dan Libya.
Peran
Israel
Faktor ketiga adalah Israel, yang
menurut penulis memiliki pengalaman panjang dalam operasi militer mematikan di
wilayah Timur Tengah. Israel sebelumnya terlibat dalam serangan besar terhadap
Palestina, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran pada Juni 2025.
Dalam serangan terbaru ini, Israel
diduga memiliki beberapa tujuan: mengalihkan perhatian dari kecaman
internasional terkait tindakannya di Palestina, memperluas kendali wilayahnya,
dan memecah Iran menjadi enklaf-etnis yang mudah dikontrol. Selain Iran,
negara-negara seperti Turki dan Pakistan juga masuk radar Israel.
Sisa
Dinasti Pahlavi
Faktor keempat adalah sisa-sisa
Dinasti Pahlavi dan kelompok pendukungnya, termasuk intelektual yang berpihak
pada Barat. Dipimpin oleh Reza Pahlavi, mereka berambisi kembali berkuasa hampir
setengah abad setelah rezim mereka digulingkan.
Namun, kelompok ini tidak memiliki
basis populer di Iran. Aliansi mereka dengan Israel dalam agresi militer ini
menunjukkan ambisi mereka yang jelas dan berisiko memperburuk konflik.
Dampak
bagi Warga Iran
Keempat kekuatan ini kini mendominasi
narasi media, berusaha meyakinkan dunia bahwa tindakan mereka adalah “benar.”
Namun, menurut penulis, seluruh propaganda ini menyesatkan. Media besar dan
jaringan online menjadi arena penyebaran informasi yang bias, sementara
kepentingan rakyat Iran terabaikan.
Serangan AS-Israel bukan untuk
membebaskan warga Iran, melainkan memaksa mereka tunduk pada kepentingan
kolonial dan imperial di kawasan. Tujuan jangka panjangnya adalah memicu perang
saudara, memaksa jutaan orang mengungsi, dan menghancurkan peta budaya serta
peradaban Iran.
Trump dinilai tidak memiliki stamina
untuk perang berkepanjangan, sedangkan Israel memiliki tujuan jangka panjang
untuk mewujudkan “Greater Israel.” Di tengah propaganda dan kekerasan yang dilepaskan,
perhatian dunia seharusnya fokus pada keselamatan lebih dari 90 juta warga Iran
yang terjebak dalam kekacauan ini.
*Hamid Dabashi adalah Profesor Hagop
Kevorkian dalam Studi Iran dan Sastra Perbandingan di Columbia University in
the City of New York, tempat ia mengajar Sastra Perbandingan, Sinema Dunia, dan
Teori Pascakolonial. Buku-buku terbarunya antara lain The Future of Two
Illusions: Islam after the West (2022); The Last Muslim Intellectual: The Life
and Legacy of Jalal Al-e Ahmad (2021); Reversing the Colonial Gaze: Persian
Travelers Abroad (2020); dan The Emperor is Naked: On the Inevitable Demise of
the Nation-State (2020). Buku dan esainya telah diterjemahkan ke dalam banyak
bahasa. Artikel ini diambil dari opininya di Middle East Eye. (Artikel ini dikutip dari Gaza Media)
0 Komentar