MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) - Kondisi jalan
menuju pelabuhan Internasional Belawan dan pelabuhan Unit Terminal Peti Kemas
(UTPK) Belawan kembali menuai sorotan keras. Infrastruktur akses menuju kawasan
vital ekspor-impor di Sumatera Utara itu dinilai memprihatinkan karena dipenuhi
lubang, gelombang, dan kerusakan yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna
jalan. Ironisnya, pelabuhan yang menyandang
status internasional itu justru dinilai memiliki akses jalan yang jauh dari
layak. Kondisi tersebut memantik kritik tajam dari Ketua Forum Komunikasi
Masyarakat Pesisir (FKMP), Ismanto. Menurut Ismanto, kerusakan jalan
menuju pelabuhan merupakan potret buruk pengelolaan kawasan strategis yang
seharusnya menjadi wajah utama gerbang logistik nasional di Sumatera Utara. “Pelabuhan Belawan ini dilabel sebagai
pelabuhan internasional, tapi jalan masuknya berlubang dan bergelombang. Ini
bukan cerminan kawasan strategis nasional, tapi ibarat jalan di desa
tertinggal,” tegas Ismanto, Kamis (9/4/2026) beberapa hari lalu. Ia mempertanyakan sejauh mana
perhatian pemerintah pusat maupun pengelola pelabuhan terhadap kondisi
infrastruktur dasar yang setiap hari dilintasi kendaraan berat, angkutan
logistik, hingga masyarakat umum. Ismanto juga menyoroti kemungkinan
adanya persoalan dalam penganggaran dan prioritas penggunaan dana, terutama
terkait perbaikan akses menuju kawasan pelabuhan yang menjadi urat nadi
perekonomian. “Patut dipertanyakan, apakah
pemerintah pusat tidak mengalokasikan anggaran perbaikan jalan ke PT Pelindo?
Atau memang tidak ada kebijakan penggunaan anggaran pendapatan untuk
memperbaiki akses menuju pelabuhan internasional ini? Kalau pun ada, ke mana
anggaran itu?” ujarnya. Tak hanya soal infrastruktur, FKMP
juga menyoroti ketimpangan sosial yang dinilai masih sangat mencolok di kawasan
sekitar pelabuhan. Menurut Ismanto, besarnya pendapatan dari sektor jasa
pelabuhan Internasional Belawan seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan
kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Namun fakta di lapangan, kata dia,
masyarakat sekitar justru masih bergulat dengan persoalan kemiskinan dan
minimnya dampak langsung dari aktivitas ekonomi pelabuhan. “Pendapatan dari sektor jasa di
Pelabuhan Belawan sangat besar untuk Sumatera Utara, tapi masyarakat sekitar
tetap miskin. Ini pertanyaan serius. Dana CSR ke mana? Jangan sampai hanya
sebatas pencitraan,” katanya. Atas dasar itu, FKMP mendesak Presiden
Prabowo Subianto untuk turun tangan dan memerintahkan aparat penegak hukum
melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola keuangan pelabuhan, khususnya
di sektor pendapatan dan belanja operasional UTPK Belawan. Ismanto meminta Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), Kejaksaan, dan Polri untuk melakukan penelusuran secara terbuka
dan profesional apabila ditemukan indikasi penyimpangan anggaran. “Kalau memang ada dugaan permainan
anggaran pendapatan dan pengeluaran, harus dibuka seterang-terangnya. Jika
terbukti, proses hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegasnya. Sorotan terhadap kondisi jalan menuju
Pelabuhan Belawan bukan kali pertama mencuat. Infrastruktur akses yang rusak
selama ini kerap dikeluhkan para sopir angkutan, pelaku usaha, hingga warga
sekitar karena dinilai menghambat mobilitas dan meningkatkan risiko kecelakaan. Sebagai salah satu pelabuhan utama di
Indonesia bagian barat, kondisi akses menuju Pelabuhan Internasional Belawan
dinilai semestinya menjadi prioritas pembenahan. Sebab, wajah pelabuhan bukan
hanya ditentukan oleh aktivitas bongkar muat dan arus peti kemas, tetapi juga
oleh kualitas infrastruktur dasar yang menopangnya. Hingga berita ini diturunkan, belum
ada keterangan resmi dari pihak PT Pelindo maupun pengelola UTPK Belawan
terkait kritik dan desakan audit yang disampaikan Ismanto. (red)
0 Komentar