Ketua Fraksi Gerindra DPRD Medan Tia Ayu
Anggraini Dukung Kepala Daerah Dipilih DPRD.@Analisadaily/Istimewa.
MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) -
Wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) oleh DPRD mendapat dukungan dari Ketua
Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Medan, Tia Ayu Anggraini S.Kom MH. Menurutnya, Pilkada dipilih oleh DPRD
akan memberikan banyak dampak positif kepada masyarakat dibandingkan Pilkada
langsung oleh rakyat. Diantaranya, menguatkan daya dorong DPRD sebagai lembaga
legislatif terhadap kepala daerah sebagai pihak eksekutif. "Selama ini daya dorong DPRD
tidak maksimal, tidak terlalu didengar kepala daerah. Karena dipilih langsung
oleh rakyat, kepala daerah hanya merasa bertanggungjawab langsung kepada
rakyat. Padahal fungsi DPRD itu jelas, mewakili rakyat dalam mengawasi jalannya
pemerintahan yang dilakukan oleh eksekutif, baik dari sisi anggaran maupun
kebijakan," ucap Tia Ayu, Sabtu (10/1/2026). Dikatakannya, dengan dipilihnya kepala
daerah oleh DPRD, maka DPRD akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam ikut
menentukan jalannya arah kebijakan yang dilakukan kepala daerah.
"DPRD juga akan punya daya dorong
yang lebih kuat untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan yang diambil oleh
kepala daerah sebagai kebijakan yang pro terhadap rakyat," ujar anggota
Komisi II DPRD Medan itu. Selain itu, Tia Ayu juga menilai
pemilihan langsung yang selama ini terjadi juga berpotensi dalam menimbulkan
perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Khususnya, perpecahan antara pemilih
yang menang dengan pemilih yang kalah. "Pemilihan langsung ini
menimbulkan pecah belah antara pemenang maupun yang kalah. Contohnya sampai
saat ini, masih adanya sebutan 'anak abah', 'gemoy' dan sebutan lainnya. Itu
semua dampaknya sampai ke pemilihan gubernur, bahkan bupati dan walikota. Bila
dipilih oleh DPRD, maka persatuan di tengah-tengah masyarakat akan lebih
terjaga," kata Ketua PD TIDAR Sumut itu. Selanjutnya, Tia Ayu Anggraini juga
menilai, selama ini pelaksanaan Pilkada langsung telah menelan biaya yang
sangat besar. Besarnya biaya itu bukan hanya ditanggung oleh pemerintah, namun
paslon kepala daerah juga harus menanggung besarnya biaya politik. "Biaya kampanye ataupun pemilihan
itu yang terlalu mahal, alhasil paslon yang menang akan mencari cara untuk
mengembalikan modal yang telah dia keluarkan selama kampanye. Inilah yang
membuat banyaknya korupsi di kalangan kepala daerah. Kepala daerah korupsi APBD
untuk mengembalikan biaya kampanye, masyarakat yang menanggung
kerugiannya," tegasnya. Tia Ayu melanjutkan, sudah saatnya
pemerintah melakukan evaluasi terhadap pilkada langsung. "Kita melihat pilkada langsung
lebih banyak memberikan mudharat, maka hal ini patut untuk dievaluasi. Yang
jelas ini untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan elit politik atau
pihak-pihak lainnya," pungkasnya. Sumber: Analisadaily.com
0 Komentar