Ini bukti program pemerintah belum mampu mengentaskan kemiskinan dan ini terus berlangsung, dan selalu dialami oleh rakyat kecil, sementara rakyat kecil hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan makan saja dengan istilah Senin-Kamis, tanpa mampu memenuhi kebutuhan untuk biaya sekolah, sehingga banyak siswa miskin yang putus sekolah
MAJALAHJURNALIS.Com – Program Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI
(Purn) H. Prabowo Subianto tentang MBG (Makan Gratis Bergizi) yang saat ini masih
berlangsung, memang sangat baik untuk peningkatan gizi. Memang ada
kesan untuk membuka lapangan pekerjaan, akan tetapi maaf katanya yang diterima
untuk bekerja kebanyakan diusia rata-rata tergolong sudah berumur dan juga
sudah ada penghasilan dari tempat lain (sampingan), sementara bagi kaula muda
yang baru saja tamat SMA dan Sarjana yang notabene belum pernah bekerja, masih
bisa dihitung dengan jari, kebanyakan sulit diterima, karena berdasarkan Kolusi
dan Nepotisme, sulit kita buktikan. Sementara yang
dibutuhkan mayoritas rakyat Indonesia saat ini yakni Pendidikan Gratis dari
jenjang sekolah TK (Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi (PT) swasta dan negeri, mengingat
biaya pendidikan di Indonesia sangatlah mahal. Apalagi masuk
sekolah keagamaan seperti pesantren, wow… hanya orang-orang tertentu saja yang
bisa masuk, kecuali ada pesantren yang mengratiskan bagi anak-anak Yatim dan
Piatu. Dengan hadirnya
Sekolah Rakyat (SR) yang digalakkan kembali oleh Presiden Republik Indonesia
Prabowo Subianto, diperuntukan bagi keluarga miskin dan kurang mampu. Akan tetapi
belum semuanya tersentuh. Dan itupun hanya sebagian kecil saja karena terbatas
fasilitas dan masih digalakkan hanya didaerah-daerah tentu saja, belum menyeluruh
se-Indonesia. Dan ini membutuhkan waktu yang sangatlah lama dan panjang. Apalagi rakyat
miskin di Indonesia masih sangat banyak dengan notabene pekerja kasar atau kerja
semberaturan. Rakyat miskin dalam mencari nafkah, ibarat kata ‘Pergi pagi
pulang petang, hasilnya pas-pasan untuk dimakan satu hari saja’. Mengapa masalah
ini tak dicari solusinya? Terkesan Pemerintah membiarkan sejak Bangsa Indonesia
dijajah zaman kolonial sampai pada tahun ini, Bangsa Indonesia sudah berumur 80
Tahun Merdeka sebentar lagi 17 Agustus 2026 Indonesia Merdeka ke 81. Tetapi
kemiskinan masih mewarnai bangsa ini.
Ini bukti
program pemerintah belum mampu mengentaskan kemiskinan dan ini terus
berlangsung, dan selalu dialami oleh rakyat kecil, sementara rakyat kecil hanya
mampu untuk memenuhi kebutuhan makan saja dengan istilah Senin-Kamis, tanpa
mampu memenuhi kebutuhan untuk biaya sekolah, sehingga banyak siswa miskin yang
putus sekolah. Jika MBG terus
digalakkan, maka rakyat miskin tak mampu lagi untuk mencapai ke jenjang tingkat
SMA (Sekolah Menengah Atas) sederajat sebagai syarat untuk melamar kerja di perusahaan-perusahaan
ataupun di Pemerintahan, Sipil, Polri dan Meliter, karena bahan pokok untuk
keperluan dapur, semakin tak terjangkau. Pendapatan dari hari ke hari hanya
segitu-gitu saja. Kemungkinan kemiskinan semakin bertambah. Sementara jika
anak kita ingin bekerja dibagian Admin di perusahaan swasta saja, syaratnya minimal Sarjana Muda dengan
istilahnya D1 atau D3. Herannya lagi wajib mengurus surat ini dan itu. Anehnya belum
tentu diterima kerja, sudah keluar biaya. Ribetlah, tentunya memerlukan biaya yang
tidak sedikit. Akhirnya Generasi Bangsa jadi pengangguran, dikarenakan tidak
memiliki biaya untuk mengurus ini dan itu. Untuk mencapai
tingkat Sarjana Muda saja, biaya yang dikeluarkan orangtua, mencapai jutaan rupiah.
Bagaimana mau merubah nasib? Jika ada
program pemerintah seperti Bea Siswa bagi pelajar miskin, itupun masuk kategori
orangtua tertentu, maklumlah yang selalu kita jumpai adalah berkembangnya
Kolusi dan Nepotisme, tanpa mampu dibrantas. Sementara negara
ini wajib maju dan berkembang dengan teknologi semakin canggih ditentukan berdasarkan
SDM (Sumber Daya Manusia) dengan kualitas pendidikan yang terarah dan mampu mencapai
jenjang Perguruan Tinggi secara kontinu. Dan itu kebanyakan dialami bagi
keluarga yang mampu saja. Jika melihat dari
sudut pandang kehidupan, maka pendidikan bagi generasi muda sangatlah penting,
sebab bagi keluarga berada belum tentu skill anaknya dapat diandalkan, akan
tetapi bagi anak yang kurang mampu kebanyakan memiliki skill yang mempuni,
tetapi putus ditengah jalan dikarenakan biaya pendidikan sangatlah mahal di negara
ini.
Maka dari sudut
pandang tersebut, penulis berkesimpulan Pendidikan Gratis dari tingkat TK
sampai dengan Perguruan Tinggi sangatlah dibutuhkan untuk masa depan Bangsa dan
Negara juga masa depan keluarga si miskin yang ingin nasibnya berubah menjadi
lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Maka
diharapkan Pemerintah Indonesia yang berkuasa saat ini, dapat mendengarkan
Suara Rakyat yang mengharapkan Pendidikan Gratis tanpa ada kutipan, semuanya
ditanggung oleh Negara secara gratis. Soal gizi
anak-anak khususnya pelajar, biarlah diurus oleh orangtuanya saja, jika negara ini
sudah mapan, maka bolehlah dilanjutkan ke program MBG. Tidak kita
pungkiri, dengan adanya program MBG, maka kebutuhan pokok di Pasar Tradisoanal
maupun ditempat-tempat lain naik, terus melonjak naik. Dan herannya pemerintah
lupa melakukan pengawasan harga dipasaran, akhirnya rakyat kecil juga yang
menjadi korban.
Sementara jika
mentela’ah gaji buruh atau pekerja naik, maka bahan pokok rumah tangga pun juga
turut naik. Apalagi dengan keberadaan MBG! Aduh…Rakyat Miskin semakin terjepit
dan keterbelakangan. Kasihanlah
rakyat kecil. Mereka sudah tak tau lagi mau mengadu kemana! Wajar dan bukan
dibenarkan, rakyat kecil terkesan melakukan tindakan melawan hukum, seperti mencuri,
merampok dan lain sebagainya. Tujuannya hanya sepele ‘Untuk Bertahan Hidup’. Akan tetapi ada
juga yang melakukan mengemis untuk memperpanjang hidup. Akhirnya kemiskinan
semakin meningkat dan pemerintah tak mampu mensejahterakan rakyatnya. Slogan-slogan
kesejahteraan semasa kampaye bakal jadi mimpi belaka. Kemiskinan semakin
terdepan. (Penulis
adalah Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia ‘DPW APPI’
Provinsi Sumatera Utara dan Sekretaris Umum Dewan Pengurus Wilayah Persaudaraan
Pekerja Muslim Indonesia ‘DPW PPMI’ Provinsi Sumatera Utara)
0 Komentar