Peraih Nobel Perdamaian Iran Narges Mohammadi.@AP/Narges
Mohammadi Foundation
MAJALAHJURNALIS.Com (Beirut) - Peraih Nobel
Perdamaian Iran yang dipenjara, Narges Mohammadi, dilarikan ke rumah sakit di
wilayah barat laut Iran setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan yang
sangat serius. Yayasan Narges Mohammadi
mengungkapkan, aktivis hak asasi manusia tersebut mengalami dua kali kehilangan
kesadaran total serta krisis jantung yang parah sebelum akhirnya dipindahkan
dari penjara. Sebelumnya pada hari yang sama,
Mohammadi dilaporkan pingsan dua kali di penjara di Zanjan. Menurut keterangan
yayasan, ia juga diduga mengalami serangan jantung pada akhir Maret,
berdasarkan hasil kunjungan pengacaranya beberapa hari setelah kejadian itu.
Saat itu, kondisinya terlihat pucat, tubuhnya kurus, dan ia harus dibantu
perawat untuk berjalan. Pemindahan ke rumah sakit disebut
terjadi setelah “140 hari pengabaian medis sistematis” sejak penangkapannya
pada 12 Desember. “Pemindahan ini dilakukan sebagai
kebutuhan yang tak terhindarkan setelah dokter penjara menentukan kondisinya
tidak dapat ditangani di tempat. Ada rekomendasi medis yang menyatakan ia harus
dirawat oleh tim spesialisnya di Teheran,” demikian pernyataan yayasan, Minggu
(3/5/2026). Keluarga Narges Mohammadi sebelumnya
telah berulang kali mendesak agar ia dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih
memadai. Mengutip pernyataan keluarga, yayasan
menyebut pemindahan ke rumah sakit di Zanjan sebagai langkah darurat pada
“menit-menit terakhir” yang dikhawatirkan sudah terlambat untuk menangani
kondisi kritisnya. Saudara laki-lakinya, Hamidreza Mohammadi,
yang kini tinggal di Oslo, Norwegia, menyampaikan, keluarga terus berjuang demi
keselamatan Mohammadi. “Keluarga saya di Iran melakukan
segala yang mereka bisa. Namun, jaksa di Zanjan menghalangi semuanya,” ujarnya
dalam pesan audio. Pada 24 Maret, sesama narapidana
menemukan Mohammadi dalam kondisi tidak sadarkan diri. Berdasarkan keterangan
pengacaranya, setelah pemeriksaan di klinik penjara, dokter menyatakan kemungkinan
besar ia mengalami serangan jantung. Sejak itu, ia terus merasakan nyeri dada
dan kesulitan bernapas. Perwakilan hukumnya di Prancis,
Chirinne Ardakani, menyebut kliennya sempat ditolak untuk dirujuk ke rumah
sakit atau menemui ahli jantung, bahkan saat kunjungan pengacara berlangsung di
bawah pengawasan petugas penjara.
Mohammadi, yang kini berusia 53 tahun,
merupakan seorang pembela hak asasi manusia yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian
pada 2023 saat masih berada di balik jeruji besi. Ia kembali ditangkap pada
Desember saat berada di Mashhad dan dijatuhi hukuman tambahan 7 tahun penjara. Keluarga menyebut kondisi kesehatannya
terus memburuk, sebagian akibat kekerasan yang dialaminya saat penangkapan. Ia
mengaku dipukul dan ditendang di bagian tubuh, kepala, dan leher. Komite Nobel
juga mengecam “perlakuan buruk yang mengancam jiwa” terhadapnya. “Dalam beberapa hari terakhir, tekanan
darahnya mengalami fluktuasi parah, naik turun sangat tinggi, dan hari ini ia
tiba-tiba pingsan karena penurunan tekanan darah yang tiba-tiba,” tulis
pengacaranya, Mostafa Nili. Awalnya, dokter penjara memberikan
suntikan obat, tetapi Mohammadi menolak dirujuk ke rumah sakit dan meminta
bertemu ahli jantungnya. Beberapa jam kemudian, ia kembali pingsan hingga
akhirnya seorang ahli saraf merekomendasikan pemindahan darurat ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, ia langsung
dirawat di unit perawatan jantung. Namun, menurut pengacaranya, kondisi tekanan
darahnya masih sangat tidak stabil. Bahkan, tenaga medis di Zanjan sempat
menyarankan penangguhan hukuman selama satu bulan untuk pemulihan, tetapi
keputusan tersebut masih harus diproses oleh otoritas terkait. Sebelum penangkapan terakhir,
Mohammadi telah menjalani hukuman selama 13 tahun 9 bulan atas tuduhan
berkolusi melawan keamanan negara dan propaganda terhadap pemerintah Iran. Ia
sempat dibebaskan sementara sejak akhir 2024 karena alasan kesehatan. Selama masa izin tersebut, Mohammadi
tetap aktif menyuarakan kritik terhadap pemerintah melalui aksi publik dan
media internasional, termasuk melakukan protes di depan penjara Evin di
Teheran. Pada Februari, Pengadilan Revolusioner
di Mashhad kembali menjatuhkan hukuman tambahan 7 tahun penjara kepadanya.
Pengadilan ini dikenal sering mengeluarkan putusan dengan ruang pembelaan yang
terbatas bagi terdakwa. Para pendukungnya menyebut Mohammadi
telah beberapa kali mengalami serangan jantung selama masa penahanan, bahkan
sempat menjalani operasi darurat pada 2022. Ia juga menjadi salah satu dari
sedikit penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang menerima penghargaan tersebut
saat berada di penjara. Penghargaan itu semakin menguatkan posisinya sebagai
simbol perlawanan terhadap tekanan politik di Iran, terutama setelah gelombang
protes yang dipicu kematian Mahsa Amini. Meski menghadapi tekanan berat,
Mohammadi tetap konsisten menyuarakan perubahan, termasuk menyerukan boikot
dalam pemilihan umum 2024 yang dimenangi Presiden Masoud Pezeshkian. Ia percaya
perubahan di Iran suatu hari akan terwujud melalui dorongan rakyat. Sumber :
Beritasatu.com
0 Komentar