MAJALAHJURNALIS.Com
(Makassar) -Pengurus Provinsi
Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sulawesi Selatan Masa Bakti
2025–2029 dijadwalkan dilantik dan dikukuhkan pada Jumat, 4 September 2026. Pelantikan
tersebut akan dirangkaikan dengan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) IV PERGATSI
Sulsel Tahun 2026, yang digelar di Mahoni Hall Lantai 2, Hotel Claro Makassar,
mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai. Kepengurusan
baru tersebut dipimpin Ir. Hasbi Syamsu Ali, MM sebagai Ketua Umum, bersama
jajaran pengurus yang mencakup unsur organisasi, usaha dan pendanaan,
perwasitan, pembinaan prestasi dan pelatihan, pengembangan daerah,
perlengkapan, humas dan promosi, serta Komisi Disiplin. Bagi
Hasbi, pelantikan bukan semata-mata pergantian atau pengukuhan struktur
organisasi. Momentum tersebut menjadi titik awal untuk membangun ekosistem
gateball Sulawesi Selatan secara lebih terarah, mulai dari penguatan
organisasi, pembinaan atlet, pengembangan daerah hingga peningkatan kualitas
pertandingan. Namun,
di balik agenda organisasi tersebut, Hasbi melihat gateball memiliki nilai yang
jauh lebih luas daripada sekadar olahraga. Dari Permainan
Sederhana Menjadi Olahraga Dunia Menurut
Hasbi, gateball memiliki sejarah yang menarik karena lahir dari situasi yang
sangat sederhana. Gateball
pertama kali diciptakan di Jepang pada 1947 oleh Eiji Suzuki (Kazunobu Suzuki)
di Hokkaido. Permainan
tersebut terinspirasi dari olahraga croquet dan pada awalnya dirancang sebagai
permainan sederhana bagi anak-anak pada masa sulit setelah Perang Dunia II. "Gateball
lahir dari kesederhanaan. Ia bukan permainan yang membutuhkan fasilitas mewah
atau kekuatan fisik yang luar biasa. Justru dari keterbatasan itu lahir sebuah
permainan yang mengajarkan bagaimana manusia menggunakan kecerdasan, ketepatan,
kesabaran dan kerja sama," kata Hasbi dalam keterangan tertulis kepada
awak media, Kamis (3/9/2026). Seiring
waktu, gateball berkembang menjadi olahraga yang dapat dimainkan lintas usia
dan jenis kelamin. Pada 1984, Japan Gateball Union dibentuk untuk mengembangkan
dan mengatur olahraga tersebut, sementara setahun kemudian World Gateball Union
(WGU) berdiri sebagai organisasi internasional. Kejuaraan Dunia Gateball
pertama kemudian digelar di Hokkaido pada 1986. Di
Indonesia, gateball mulai dikenal sekitar 1994 di Bali, sebelum kemudian
berkembang ke berbagai daerah. Pada 2011, Persatuan Gateball Seluruh Indonesia
(PERGATSI) dideklarasikan dan dikukuhkan sebagai wadah nasional. Gateball
kemudian tercatat sebagai cabang olahraga prestasi dan anggota KONI pada 2013. Bukan Sekadar Memukul
Bola Hasbi
mengatakan, salah satu hal yang membuat gateball menarik adalah filosofi yang
terkandung dalam setiap gerak permainannya. Dalam
gateball, pemain tidak cukup hanya memiliki kemampuan memukul bola. Pemain
harus mampu membaca situasi, memperhitungkan posisi bola sendiri dan lawan,
menentukan arah pukulan, mengukur risiko serta memikirkan konsekuensi dari setiap
keputusan. "Karena
itu saya melihat gateball sebagai olahraga yang sangat filosofis. Kita belajar
bahwa hidup tidak selalu membutuhkan kekuatan yang besar. Yang lebih penting
adalah kemampuan menentukan arah dan mengambil keputusan yang tepat," ujar
pengusaha konstruksi nasional itu. Menurut
Hasbi, satu pukulan yang terlihat sederhana dapat memengaruhi keseluruhan
jalannya permainan. "Kalau
kita salah menentukan arah, konsekuensinya bisa panjang. Begitu juga dalam
kehidupan dan kepemimpinan. Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Maka kita
harus belajar tenang, berpikir sebelum bertindak, membaca keadaan dan
menentukan momentum," katanya. Filosofi
lainnya, lanjut Hasbi, adalah kerja sama. Gateball merupakan olahraga tim.
Keberhasilan seorang pemain tidak selalu berarti harus mencetak poin sendiri.
Dalam situasi tertentu, pemain justru harus mengambil keputusan yang membuka
peluang bagi anggota tim lainnya. "Di
sinilah kita belajar bahwa kemenangan tidak selalu tentang siapa yang paling
menonjol. Kadang-kadang kita harus mengambil peran yang tidak terlihat, tetapi
justru menentukan keberhasilan tim," tuturnya.
Ajarkan Kepemimpinan
dan Karakter Hasbi
juga melihat gateball sebagai olahraga yang dapat menjadi medium pembentukan
karakter. Menurut
dia, permainan ini mengajarkan disiplin, kepatuhan terhadap aturan,
sportivitas, kemampuan mengendalikan ego dan penghormatan terhadap lawan. Bahkan
dalam permainan beregu, terdapat pembagian peran yang menuntut kepemimpinan dan
komunikasi. "Gateball
mengajarkan bahwa dalam sebuah tim setiap orang memiliki peran. Ada pemain, ada
kapten, ada pelatih, ada wasit. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi
saling melengkapi. Ini sebenarnya adalah gambaran kecil tentang bagaimana
sebuah organisasi dan kehidupan sosial bekerja," kata Hasbi. Karakter
gateball sebagai olahraga yang menggabungkan unsur tim, strategi intelektual
dan keterbukaan bagi berbagai kelompok usia juga menjadi salah satu daya
tariknya. WGU menyebut tiga karakter tersebut sebagai salah satu kekuatan utama
gateball dalam perkembangannya di dunia. Karena
itu, Hasbi ingin pengembangan gateball di Sulawesi Selatan tidak berhenti pada
pencapaian prestasi pertandingan. "Prestasi
tentu penting. Kita ingin melahirkan atlet-atlet berprestasi dan membawa nama
Sulawesi Selatan ke tingkat nasional bahkan internasional. Tetapi lebih dari
itu, kita ingin gateball menjadi ruang untuk membangun karakter, persahabatan,
kebersamaan dan kesehatan masyarakat," ujarnya. Momentum Pelantikan
dan Rakerprov Karena
itu, Hasbi berharap pelantikan dan Rakerprov IV PERGATSI Sulsel tidak berhenti
sebagai agenda administratif organisasi. Rapat
kerja diharapkan menjadi ruang untuk menyusun langkah konkret pengembangan
gateball Sulsel dalam periode kepengurusan 2025–2029. "Kita
ingin organisasi ini bekerja dengan perencanaan yang jelas. Pembinaan atlet
harus berjalan, kapasitas pelatih dan wasit harus diperkuat, pengembangan
daerah harus diperluas dan kompetisi harus semakin berkualitas," kata
Hasbi. Ia
menambahkan, perlu ada upaya memperkenalkan gateball kepada kelompok masyarakat
yang lebih luas, khususnya generasi muda. "Gateball
jangan hanya dipersepsikan sebagai olahraga untuk kelompok usia tertentu. Ini
olahraga yang bisa dimainkan lintas generasi. Anak muda bisa bermain, orang tua
bisa bermain, laki-laki dan perempuan bisa bermain. Di situlah kekuatan
gateball sebagai olahraga yang inklusif," katanya. Pada
akhirnya, Hasbi berharap filosofi gateball dapat menjadi semangat bagi seluruh
jajaran PERGATSI Sulsel dalam menjalankan amanah organisasi. "Dalam
gateball, kita tidak dituntut untuk selalu memukul bola dengan keras. Kita
dituntut untuk memukul dengan tepat. Karena itu, bagi saya, filosofi gateball
adalah tentang bagaimana menentukan arah, membaca keadaan, mengendalikan ego,
bekerja bersama dan berani mengambil keputusan. Kemenangan adalah hasil dari
rangkaian keputusan yang tepat," pungkasnya. Dengan
semangat tersebut, Pelantikan dan Rakerprov IV PERGATSI Sulsel diharapkan
menjadi awal dari babak baru pembinaan gateball di Sulawesi Selatan—bukan hanya
mengejar kemenangan di lapangan, tetapi juga membangun manusia dan kebersamaan
melalui olahraga. (red)
0 Komentar