MAJALAHJURNALIS.Com (Teheran) - Dalam
perjalanan keduanya ke luar negeri sejak perang di Ukraina, Presiden Rusia
Vladimir Putin akan bertemu Presiden Iran Ebrahim Raisi di Teheran pada Selasa
(19/7/2022). Di Teheran,
Putin akan bergabung dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk membahas
situasi di Suriah, di mana Iran, Rusia, dan Turki menempatkan angkatan
militernya.
Pertemuan itu juga akan memberikan kesempatan bagi Moskow dan
Teheran, yang saat ini dikenai sanksi oleh Barat, untuk mengembangkan kerja
sama militer dan ekonomi, serta menunjukkan kepada Barat bahwa mereka tidak
terisolasi.
Iran diduga memasok drone ke
Rusia Teheran
dan Kremlin memiliki tujuan yang sama, dengan para pejabat dari kedua negara
berulang kali menyatakan kesediaan mereka untuk memperluas kerja sama komersial
dan politik. Kunjungan Putin
terjadi sekitar seminggu setelah Washington mengungkap bahwa Teheran sedang
bersiap untuk menjual drone bersenjata ke Moskow untuk digunakan dalam perang
di Ukraina.
Namun, Iran menyebut kerja sama teknologi dengan Rusia sudah
berlangsung lama sebelum perang, tanpa mengonfirmasi atau menyangkal klaim
Amerika Serikat. Ditengah
meningkatnya isolasi diplomatik, peningkatan perdagangan dengan Rusia dapat
menciptakan kelegaan bagi ekonomi Iran, yang telah mengalami kesulitan di bawah
sanksi minyak dan perbankan AS selama bertahun-tahun. Rusia, di sisi
lain, melihat Iran sebagai penyedia senjata potensial, menawarkan rute
perdagangan dan keahlian dalam menghindari sanksi dan mengekspor minyak. Perang Ukraina mengubah "Perhitungan" Kemitraan
militer antara Teheran dan Moskow telah berkembang sejak pecahnya konflik yang
berlangsung selama satu dekade di Suriah. "Sebagian
besar tetap merupakan kerja sama taktis atas masalah kepentingan bersama di
kawasan itu," kata Abdolrasool Divsallar, profesor tamu studi Timur Tengah
di Universit Cattolica del Sacro Cuore di Milan, Italia, kepada DW. Para pejabat
Iran, terutama garis keras konservatif yang saat ini memerintah negara itu,
selalu berusaha mengembangkan hubungan mereka dengan Rusia, tetapi perang di
Ukraina kini telah menjadikan Iran elemen yang lebih sentral dalam diplomasi
Putin. Pesaing di Pasar Energi Selama beberapa
bulan terakhir, perdagangan antara kedua negara telah berkembang, menurut
beberapa laporan oleh media Iran. Selama pertemuan
dengan Presiden Raisi di sela-sela pertemuan puncak regional di Turkmenistan
bulan lalu, Putin mencatat bahwa perdagangan antara kedua negara naik 81% pada
tahun 2021. Meskipun
demikian, hubungan antara kedua negara diperumit oleh masalah energi karena
Rusia semakin memotong pangsa pasar Iran dalam upayanya mencari pembeli baru
untuk minyaknya sendiri. "Rusia dan
Iran sebenarnya bersaing, terutama di pasar energi," Hamidreza Azizi,
seorang peneliti di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan
(SWP) mengatakan kepada DW. Saat ini, Iran
tampaknya kehilangan pangsa pasar energinya karena minyak Rusia, yang sekarang
dijual dengan harga yang lebih murah. Pembeli baja terbesar Iran, termasuk Cina
dan Korea Selatan, juga telah beralih membeli baja Rusia dengan harga yang
lebih murah, surat kabar harian Iran Shargh melaporkan pada 21 Mei 2022. Iran dan Rusia Belum Menjadi Sekutu Pada Maret lalu,
Rusia hampir menyabotase negosiasi atas Rencana Aksi Komprehensif Bersama
(JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran, yang resolusinya dapat mengarah pada
relaksasi beberapa sanksi terhadap ekonomi Iran. "Iran dan
Rusia belum menjadi sekutu," kata Abdolrasool Divsallar. "Iran enggan
mengutuk invasi Ukraina, tetapi mereka telah berulang kali menentang perang,
respons yang sangat berbeda dari apa yang diharapkan dilakukan sekutu,"
katanya. Sikap Teheran
didasarkan pada penentangan terhadap perang di mana pun di dunia, Menteri Luar
Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan kepada Menteri Luar Negeri
Ukraina Dmytro Kuleba pada Jumat (15/7/2022). Iran Mitra Dalam Konfrontasi Rusia dengan Barat Alih-alih
mendukung Rusia dalam perang Ukraina, Teheran memiliki motif lain untuk
mendekati Moskow, kata Divsallar.
Dengan pembicaraan nuklir yang sekarang
terhenti, "Iran mungkin hanya ingin menunjukkan kepada Barat bahwa ia
memiliki alternatif, bahwa ia dapat memiliki pengaruh yang melampaui Timur
Tengah." Hamidreza Azizi
dari SWP mengatakan pemulihan hubungan Iran dengan Rusia berasal dari pandangan
yang sama terhadap dunia dan terus mendalam selama beberapa dekade terakhir. "Kedua
negara memposisikan diri melawan dominasi AS dalam hubungan internasional dan
keduanya memiliki ambisi untuk melawannya," kata Azizi.
"Selain itu,
ketegangan antara Iran dan kekuatan Barat terus meningkat, sejak Republik Islam
didirikan pada 1979."
Tidak seperti
Azizi, Divsallar berpendapat bahwa kesepakatan nuklir yang dihidupkan kembali
dan pencabutan sanksi selanjutnya dapat membatasi hubungan Iran dengan Rusia
dengan memberi negara itu pilihan untuk membangun hubungan perdagangan dengan
Barat sebagai gantinya. "Sebagian
besar motif Iran untuk bekerja sama dengan Rusia didorong oleh kebutuhan ekonomi
yang mendesak dan kurangnya alternatif," kata Divsallar. "Iran tidak
dapat mengabaikan hubungannya dengan kekuatan Timur seperti Rusia, selama tidak
ada pilihan dari Barat." Sumber : detiknews.com
0 Komentar