Oleh : Arya
Satria Wiraguna
(Manajemen Bisnis Syariah-Manajemen Keuangan Syariah)
(Manajemen Bisnis Syariah-Manajemen Keuangan Syariah)
![]() |
Penelitian Barber dan Odean (2000) bahkan menunjukkan bahwa investor yang terlalu sering melakukan transaksi justru memperoleh imbal hasil lebih rendah dibanding investor yang pasif. Terlalu aktif sering kali berarti terlalu emosional
MAJALAHJURNALIS.Com - Mengapa banyak investor baru membeli saham
justru ketika harganya sudah melonjak tinggi. Lalu panik
saat harga jatuh?
Pertanyaan ini bukan sekadar fenomena individual. Data
dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah
menembus 11 juta SID dalam beberapa
tahun terakhir. Angka ini patut diapresiasi. Namun, di balik pertumbuhan
tersebut, muncul persoalan serius: dominasi perilaku
FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat keputusan
investasi lebih didorong emosi ketimbang analisis.
Jika tidak dibenahi, pasar modal bisa berubah menjadi
arena spekulasi masal bukan instrumen pembentukan kekayaan jangka panjang.
Ritel FOMO lahir dari kombinasi lima faktor utama:
rendahnya literasi, pengaruh influencer, mental
penjudi, kemudahan akses, dan mindset ingin cepat kaya.
Pertama, literasi
belum sejalan dengan inklusi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022 dari Otoritas Jasa Keuangan mencatat indeks
literasi keuangan sebesar 49,68 persen,
sementara inklusi keuangan mencapai 85,10 persen. Artinya, banyak masyarakat sudah
memiliki akses ke produk keuangan, tetapi belum memahami risikonya.
Kedua, media sosial
mempercepat penyebaran “insight” tanpa filter. Saham yang viral bisa melonjak
tajam hanya karena sentimen. Kasus volatilitas ekstrem pada PT Waskita Beton Precast
Tbk (WSBP) sempat menunjukkan bagaimana pergerakan harga bisa jauh dari fundamental
ketika sentimen ritel mendominasi.
Secara global, fenomena ini terlihat jelas pada kasus GameStop
pada 2021. Harga sahamnya melonjak ratusan
persen akibat dorongan komunitas daring, sebelum akhirnya kembali terkoreksi
tajam. Banyak investor yang masuk di puncak harga harus menanggung kerugian besar.
Masalahnya Bukan pada Partisipasi Ritel. Masalahnya
adalah Kualitas Keputusan
Analisis & Argumentasi
Fenomena FOMO bukan hal baru dalam ilmu keuangan. Dalam
kajian behavioral finance oleh Barberis
dan Thaler (2003), dikenal istilah herd behavior kecenderungan mengikuti kerumunan
tanpa analisis mandiri. Ketika semua orang membeli, dorongan psikologis untuk ikut
masuk menjadi sangat kuat.
Penelitian Barber dan Odean (2000) bahkan menunjukkan bahwa
investor yang terlalu sering melakukan
transaksi justru memperoleh imbal hasil lebih rendah dibanding investor yang pasif.
Terlalu aktif sering kali berarti terlalu emosional.
Pengaruh influencer memperkuat pola ini. Di era digital,
narasi lebih cepat menyebar daripada laporan keuangan. Ekonom Robert Shiller dalam
konsep narrative economics menjelaskan
bahwa cerita yang viral dapat membentuk perilaku ekonomi kolektif. Ketika sebuah
saham disebut “akan terbang”, narasi itu bisa menjadi kenyataan sementara karena banyak
orang percaya dan membeli.
Namun, Pasar
Selalu Kembali ke Fundamental
Kemudahan akses juga berperan besar. Membuka akun saham
kini hanya butuh beberapa menit melalui
aplikasi. Ini kemajuan luar biasa dalam inklusi keuangan. Tetapi tanpa edukasi memadai,
akses yang terlalu mudah bisa mendorong perilaku spekulatif.
Di sisi lain, ada argumen bahwa investor ritel justru
memperkuat likuiditas pasar. Pandangan ini tidak
sepenuhnya salah. Partisipasi ritel memang penting bagi kedalaman pasar
domestik. Namun, likuiditas yang dibangun di atas
sentimen rapuh akan menciptakan volatilitas ekstrem.
Yang lebih berbahaya adalah mindset “cepat kaya”. Banyak
investor pemula terpapar kisah cuan 100
persen dalam hitungan minggu. Padahal, sejarah menunjukkan kekayaan yang berkelanjutan
dibangun melalui konsistensi dan waktu. Investor legendaris seperti Warren Buffett
selalu menekankan pentingnya kesabaran dan investasi berbasis nilai.
FOMO Adalah
Musuh Kesabaran
Solusi
Memusnahkan ritel FOMO bukan berarti menyingkirkan investor
ritel. Justru sebaliknya:meningkatkan kualitasnya.
Pertama, literasi
harus menjadi prioritas utama. Edukasi investasi tidak boleh berhenti pada cara
membuka akun atau membaca grafik. Investor harus memahami risiko, valuasi, dan manajemen
portofolio. Program seperti Sekolah Pasar Modal perlu diperluas dan diwajibkan sebelum
akses ke produk berisiko tinggi.
Kedua, perlu
penguatan regulasi terhadap pemberian rekomendasi publik. Transparansi kepemilikan
saham dan kewajiban sertifikasi bagi pemberi nasihat investasi harus ditegakkan.
Media sosial bukan ruang bebas tanpa tanggung jawab.
Ketiga, platform
sekuritas dapat menambahkan fitur pengingat risiko, simulasi wajib (paper trading),
serta pembatasan transaksi margin bagi investor baru. Edukasi bisa
diintegrasikan langsung dalam aplikasi.
Keempat, narasi
publik harus diubah. Dari “trading cepat” menjadi “membangun kekayaan bertahap”.
Media dan influencer memiliki peran besar dalam membentuk persepsi ini. Investor
ritel adalah tulang punggung masa depan pasar modal Indonesia. Namun, tulang punggung
harus kuat bukan rapuh oleh euforia.
Penutup
Pasar modal yang sehat bukan hanya tentang banyaknya investor,
tetapi tentang kedewasaan dalam
mengambil keputusan.
Selama FOMO masih menjadi penggerak utama transaksi, volatilitas
akan terus berulang saham naik karena
viral, lalu jatuh karena realitas.
Sudah saatnya kita beralih dari investasi berbasis emosi
menuju investasi berbasis
rasionalitas. Dari euforia menuju kedewasaan finansial.
(Penulisa merupakan Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah dengan Pemfokusan Manajemen Keuangan Syariah Di Universitas Tazkia Bogor, Tertarik dengan PasarModal, Pendidikan, Ekonomi, Public Speaking, serta Pengembangan Diri dan Tim).





0 Komentar