Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Memusnahkan Ritel FOMO: Menyelamatkan Pasar Modal dari Euforia Sesaat

 Oleh : Arya Satria Wiraguna
(Manajemen Bisnis Syariah-Manajemen Keuangan Syariah)

Memusnahkan Ritel FOMO: Menyelamatkan Pasar Modal dari Euforia Sesaat



Penelitian Barber dan Odean (2000) bahkan menunjukkan bahwa investor yang terlalu sering melakukan transaksi justru memperoleh imbal hasil lebih rendah dibanding investor yang pasif. Terlalu aktif sering kali berarti terlalu emosional

MAJALAHJURNALIS.Com - Mengapa banyak investor baru membeli saham justru ketika harganya sudah melonjak tinggi. Lalu panik saat harga jatuh?
 
Pertanyaan ini bukan sekadar fenomena individual. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus 11 juta SID dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini patut diapresiasi. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul persoalan serius: dominasi perilaku FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat keputusan investasi lebih didorong emosi ketimbang analisis.
 
Jika tidak dibenahi, pasar modal bisa berubah menjadi arena spekulasi masal bukan instrumen pembentukan kekayaan jangka panjang.
 
Ritel FOMO lahir dari kombinasi lima faktor utama: rendahnya literasi, pengaruh influencer, mental penjudi, kemudahan akses, dan mindset ingin cepat kaya.
 
Pertama, literasi belum sejalan dengan inklusi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022 dari Otoritas Jasa Keuangan mencatat indeks literasi keuangan sebesar 49,68 persen, sementara inklusi keuangan mencapai 85,10 persen. Artinya, banyak masyarakat sudah memiliki akses ke produk keuangan, tetapi belum memahami risikonya.
 
Kedua, media sosial mempercepat penyebaran “insight” tanpa filter. Saham yang viral bisa melonjak tajam hanya karena sentimen. Kasus volatilitas ekstrem pada PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) sempat menunjukkan bagaimana pergerakan harga bisa jauh dari fundamental ketika sentimen ritel mendominasi.
 
Secara global, fenomena ini terlihat jelas pada kasus GameStop pada 2021. Harga sahamnya melonjak ratusan persen akibat dorongan komunitas daring, sebelum akhirnya kembali terkoreksi tajam. Banyak investor yang masuk di puncak harga harus menanggung kerugian besar.
 
Masalahnya Bukan pada Partisipasi Ritel. Masalahnya adalah Kualitas Keputusan


 
Analisis & Argumentasi

Fenomena FOMO bukan hal baru dalam ilmu keuangan. Dalam kajian behavioral finance oleh Barberis dan Thaler (2003), dikenal istilah herd behavior kecenderungan mengikuti kerumunan tanpa analisis mandiri. Ketika semua orang membeli, dorongan psikologis untuk ikut masuk menjadi sangat kuat.
 
Penelitian Barber dan Odean (2000) bahkan menunjukkan bahwa investor yang terlalu sering melakukan transaksi justru memperoleh imbal hasil lebih rendah dibanding investor yang pasif. Terlalu aktif sering kali berarti terlalu emosional.
 
Pengaruh influencer memperkuat pola ini. Di era digital, narasi lebih cepat menyebar daripada laporan keuangan. Ekonom Robert Shiller dalam konsep narrative economics menjelaskan bahwa cerita yang viral dapat membentuk perilaku ekonomi kolektif. Ketika sebuah saham disebut “akan terbang”, narasi itu bisa menjadi kenyataan sementara karena banyak orang percaya dan membeli.
 
Namun, Pasar Selalu Kembali ke Fundamental
 
Kemudahan akses juga berperan besar. Membuka akun saham kini hanya butuh beberapa menit melalui aplikasi. Ini kemajuan luar biasa dalam inklusi keuangan. Tetapi tanpa edukasi memadai, akses yang terlalu mudah bisa mendorong perilaku spekulatif.
 
Di sisi lain, ada argumen bahwa investor ritel justru memperkuat likuiditas pasar. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah. Partisipasi ritel memang penting bagi kedalaman pasar domestik. Namun, likuiditas yang dibangun di atas sentimen rapuh akan menciptakan volatilitas ekstrem.
 
Yang lebih berbahaya adalah mindset “cepat kaya”. Banyak investor pemula terpapar kisah cuan 100 persen dalam hitungan minggu. Padahal, sejarah menunjukkan kekayaan yang berkelanjutan dibangun melalui konsistensi dan waktu. Investor legendaris seperti Warren Buffett selalu menekankan pentingnya kesabaran dan investasi berbasis nilai.


FOMO Adalah Musuh Kesabaran
 
Solusi
Memusnahkan ritel FOMO bukan berarti menyingkirkan investor ritel. Justru sebaliknya:meningkatkan kualitasnya.
 
Pertama, literasi harus menjadi prioritas utama. Edukasi investasi tidak boleh berhenti pada cara membuka akun atau membaca grafik. Investor harus memahami risiko, valuasi, dan manajemen portofolio. Program seperti Sekolah Pasar Modal perlu diperluas dan diwajibkan sebelum akses ke produk berisiko tinggi.  
 
Kedua, perlu penguatan regulasi terhadap pemberian rekomendasi publik. Transparansi kepemilikan saham dan kewajiban sertifikasi bagi pemberi nasihat investasi harus ditegakkan. Media sosial bukan ruang bebas tanpa tanggung jawab.
 
Ketiga, platform sekuritas dapat menambahkan fitur pengingat risiko, simulasi wajib (paper trading), serta pembatasan transaksi margin bagi investor baru. Edukasi bisa diintegrasikan langsung dalam aplikasi.
 
Keempat, narasi publik harus diubah. Dari “trading cepat” menjadi “membangun kekayaan bertahap”. Media dan influencer memiliki peran besar dalam membentuk persepsi ini. Investor ritel adalah tulang punggung masa depan pasar modal Indonesia. Namun, tulang punggung harus kuat bukan rapuh oleh euforia.
 
Penutup
Pasar modal yang sehat bukan hanya tentang banyaknya investor, tetapi tentang kedewasaan dalam mengambil keputusan.
 
Selama FOMO masih menjadi penggerak utama transaksi, volatilitas akan terus berulang saham naik karena viral, lalu jatuh karena realitas.
 
Sudah saatnya kita beralih dari investasi berbasis emosi menuju investasi berbasis
rasionalitas. Dari euforia menuju kedewasaan finansial. 

(Penulisa merupakan Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah dengan Pemfokusan Manajemen Keuangan Syariah Di Universitas Tazkia Bogor, Tertarik dengan PasarModal, Pendidikan, Ekonomi, Public Speaking, serta Pengembangan Diri dan Tim).

Posting Komentar

0 Komentar