Warga Israel berunjuk
rasa menuntut pembebasan sandera dan menolak pendudukan Jalur Gaza di dekat
kediaman Perdana Menteri Israel di Yerusalem, Sabtu (9/8/2025) malam waktu setempat.@Beritasatu.com/The Jarusalem Post/Yonatan
Sindel/Flash90.
MAJALAHJURNALIS.Com (Istanbul) -
Puluhan ribu demonstran Israel memblokade jalan-jalan pusat kota Tel Aviv,
menuntut kesepakatan pertukaran tahanan dengan faksi-faksi Palestina, serta
menyuarakan penolakan terhadap keputusan terbaru pemerintah untuk menduduki
kembali Jalur Gaza.
Kanal 12 Israel melaporkan sekitar
60.000 pengunjuk rasa berkumpul di Hostage Square, Tel Aviv, Sabtu (9/8/2025)
malam waktu setempat dan menutup sejumlah ruas jalan di pusat kota sebagai
bentuk perlawanan terhadap pemerintahan Kepala Otoritas Israel Benjamin
Netanyahu.
Demonstrasi antipemerintah di Israel
terus meningkat sejak Netanyahu menyetujui rencana pendudukan penuh atas Jalur
Gaza, kebijakan yang menurut keluarga para sandera Israel dan kalangan militer
justru membahayakan keselamatan para tawanan dan menguras sumber daya militer.
“Anak-anak kami masih berada di Gaza
karena seseorang memutuskan untuk meninggalkan mereka,” kata pernyataan
keluarga para sandera Israel yang dibacakan dalam aksi tersebut dikutip dari
Anadolu, Minggu (10/8/2025).
“Keputusan Netanyahu terkait Gaza
bertentangan dengan pendapat Kepala Staf IDF (Eyal Zamir) dan mengorbankan
anak-anak kami,” ucap mereka mengingatkan sambil menegaskan bahwa tindakan
pemerintah “tidak sejalan dengan kepentingan negara maupun rakyat.”
Zamir menentang rencana pendudukan
kembali Gaza yang diusung Netanyahu dan menyebutnya sebagai “jebakan strategis”
yang akan menguras kekuatan militer selama bertahun-tahun serta membahayakan
nyawa para sandera.
Israel sedang menghadapi kemarahan
yang terus memuncak, baik di dalam negeri maupun internasional, atas perang
mematikan yang dilancarkan di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 61.300
orang sejak Oktober 2023.
Kampanye militer tersebut juga telah
menghancurkan wilayah kantong tersebut dan membawanya ke ambang kelaparan.
Pada November tahun lalu, Mahkamah
Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap
Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan
perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga tengah menghadapi gugatan
genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkan di
wilayah kantong tersebut.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar