Ticker

7/recent/ticker-posts

Kawasan Amerika Latin Memanas, Mantan Gerilyawan, Presiden Kolombia Ancam Angkat Senjata Lawan Trump

 

Kawasan Amerika Latin Memanas, Mantan Gerilyawan, Presiden Kolombia Ancam Angkat Senjata Lawan Trump
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengancam akan kembali angkat senjata demi kedaulatan negara setelah AS menangkap Nicolas Maduro dan mengintimidasi dirinya.@Google


MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Ketegangan di kawasan Amerika Latin semakin memanas setelah Presiden Kolombia, Gustavo Petro, pada hari Senin (5/1/2025) menyatakan kesiapan untuk "angkat senjata" lagi dalam menghadapi ancaman dari Presiden AS, Donald Trump.
 
Pernyataan keras ini dilontarkan Petro menyusul operasi militer AS pada akhir pekan yang berhasil menangkap pemimpin negara tetangganya, Venezuela, Nicolas Maduro.
 
Petro, seorang mantan gerilyawan yang telah berbulan-bulan menjadi sasaran hinaan dan ancaman dari Trump, menyampaikan pesannya melalui media sosial X.  "Saya bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi,  tetapi demi tanah air, saya akan angkat senjata kembali," tulis Petro, menggarisbawahi tekadnya untuk membela kedaulatan Kolombia dikutip Channel News Asia, Senin (5/1/2026).
 
Pernyataan ini muncul setelah Trump pada akhir pekan sebelumnya memperingatkan Petro untuk "mengawasi pantatnya" dan menyebut pemimpin sayap kiri pertama Kolombia itu sebagai "orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat."
 
Petro, yang pernah tergabung dalam kelompok gerilya urban M-19, memang telah bertukar sindiran dengan Trump sejak kembalinya Partai Republik tersebut ke Gedung Putih pada Januari lalu.
 
Petro dikenal sebagai kritikus vokal terhadap pengerahan militer AS di Karibia, yang dimulai dengan pengeboman kapal-kapal yang diduga membawa narkoba, kemudian meluas ke penyitaan kapal tanker minyak Venezuela, hingga akhirnya berpuncak pada penyerbuan ke Caracas untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro.



Petro menegaskan bahwa kebijakan anti-narkotik Kolombia yang ia jalankan sudah cukup kuat. Namun, ia menekankan adanya batas sejauh mana agresi militer dapat dilakukan.
 
Trump, tanpa memberikan bukti, telah menuduh Petro terlibat dalam perdagangan narkoba dan bahkan menjatuhkan sanksi keuangan terhadapnya dan keluarganya.
 
Washington juga telah menghapus Kolombia dari daftar negara yang diakui sebagai sekutu dalam perang AS melawan narkoba, sebuah langkah yang sangat menyinggung kedaulatan Bogota.
 
Dalam pesan panjangnya di X, Petro memberikan peringatan tegas mengenai potensi dampak buruk intervensi militer yang berlebihan di negaranya. Ia memperingatkan bahwa tanpa intelijen yang memadai, serangan udara bisa menewaskan banyak anak-anak dan petani, yang pada akhirnya akan membuat ribuan orang berubah menjadi gerilyawan di pegunungan.
 
Peringatan puncaknya adalah mengenai penangkapan seorang presiden. Petro menyatakan, "Dan jika Anda menahan presiden, yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat saya, Anda akan melepaskan 'jaguar populer'."
 
Istilah "jaguar populer" ini mengindikasikan bangkitnya perlawanan rakyat yang masif. Hal ini juga menggarisbawahi kedekatan antara pemerintahan Trump dengan oposisi sayap kanan di Kolombia, yang menaruh harapan besar untuk memenangkan pemilihan legislatif dan presiden pada tahun ini.
Sumber : beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar