PM Israel
Benjamin Netanyah masih hidup dan menggelar rapat.@REUTERS/Nathan Howard
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih hidup
dan menggelar rapat darurat pada Senin (23/3/2026) malam waktu setempat, usai
Amerika Serikat disebut hampir mencapai kesepakatan dengan Iran.
Menurut
laporan media Israel seperti dilansir Anadolu Agency, Netanyahu memanggil para
pemimpin partai koalisi pemerintahannya untuk pertemuan mendesak.
Netanyahu
disebut meminta pertemuan itu dalam waktu satu jam, tanpa memberi tahu agenda
apa yang dibahas dalam rapat darurat tersebut.
Laporan media
mengatakan pertemuan Netanyahu dan para pemimpin partai diduga terkait dengan
perang yang sedang berlangsung, dan upaya AS untuk mengejar kemungkinan
kesepakatan dengan Iran.
Sebelumnya
Netanyahu mengeklaim bahwa dia telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump
pada Senin kemarin.
"Trump
percaya ada peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, untuk melindungi
kepentingan vital kita," kata Netanyahu.
Awal pekan
ini, Trump disebut mulai "melunak" terhadap Iran, dengan menunda
rencana serangan militer fasilitas energi Iran selama lima hari. Padahal
sebelumnya, Trump melontarkan ultimatum keras agar Teheran membuka blokade
Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Trump
mengeklaim penundaan serangan itu diambil setelah ada komunikasi "baik dan
produktif" antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.
"Saya
telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan
terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima
hari," tulis Trump di platform Truth Social.
Dia bahkan
mengeklaim AS dan Teheran memiliki titik kesepakatan besar dan membuka peluang
tercapainya kesepakatan untuk meredam konflik di Timur Tengah.
Meski
demikian, Iran membantah klaim Trump. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran,
Esmaeil Baghaei, mengaku Teheran tak melakukan perundingan apa pun dengan
Washington selama perang berlangsung.
"Iran
tidak mengadakan negosiasi apa pun dengan AS dalam 24 hari terakhir perang yang
dipaksakan," ungkap Baghaei.
Menurutnya,
Iran dalam beberapa hari terakhir memang menerima pesan dari AS lewat
negara-negara perantara yang dianggap "bersahabat". Pesan itu yakni
permintaan untuk membuka negosiasi demi mengakhiri perang.
Namun Baghaei
menegaskan Iran bakal merespons sesuai prinsip yang dipegang negara tersebut,
termasuk memberi peringatan keras terkait potensi serangan terhadap
infrastruktur vital. Dia menegaskan setiap serangan terhadap fasilitas energi
Iran akan dibalas.
Sumber : CNN
Indonesia
0 Komentar