Dokter Forensik RS Bhayangkara
Medan, dr Mistar Ritonga.@CNN Indonesia/Farida
MAJALAHJURNALIS.Com
(Medan) -Kematian
L, mantan istri personel Polsek Medan Sunggal Bripda IH, yang ditemukan tewas
dengan luka tembak di sebuah rumah di Kompleks Bumi Asri, Medan, Sumatera Utara
(Sumut) menjadi sorotan. Pihak keluarga menduga L bukan mengakhiri hidup sendiri
menggunakan senjata api, melainkan sempat mendapat penganiayaan lantaran
ditemukan sejumlah luka lebam di tubuhnya. Dokter Forensik RS Bhayangkara Medan, dr Mistar Ritonga,
menjelaskan hasil pemeriksaan menunjukkan luka yang dialami korban merupakan
luka tembak tempel, yakni senjata api ditempelkan langsung ke kepala saat
ditembakkan. "Berdasarkan keilmuan yang kami miliki dan hasil pemeriksaan
langsung terhadap korban, kami menemukan ciri-ciri luka tembak tempel. Artinya
senjata memang ditempelkan tepat pada kepala atau kulit korban saat
ditembakkan," kata Mistar di Polrestabes Medan, Kamis (6/8/2026). Menjawab keraguan keluarga terkait proyektil yang tidak menembus
kepala korban, Mistar mengatakan kondisi tersebut masih sangat mungkin terjadi
secara medis dan forensik. Menurutnya, kecepatan peluru dapat berkurang akibat berbagai
faktor, termasuk ketika proyektil harus melewati bagian tubuh yang keras seperti
tulang tengkorak. "Untuk kecepatan anak peluru itu kan banyak faktor yang
mempengaruhi. Jadi kalau dia bergerak, kalau misalnya dia ada bias ataupun
gesekan-gesekan ke benda lain, tentu kecepatannya itu akan melambat. Jadi kalau
pada kasus ini kelihatannya itu, itu kan dia melalui beberapa yang keras,
tulang," jelasnya. "Dari luka tembak masuk yang di sebelah kanan ya, itu malah
dia menelusuri dasar tengkorak kepalanya itu, sampai retak malah. Baru dia
menembus ke sebelah kiri. Jadi tenaganya itu sudah apa, tidak kuat lagi untuk
menembus, jadi dia terhenti di bawah kulit," sambung Mistar.
Mistar juga menepis dugaan adanya penganiayaan yang sebelumnya
disampaikan pihak keluarga. Selama proses pemeriksaan luar maupun autopsi, dia
mengaku tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. "Kebetulan berdasarkan hasil pemeriksaan saya dari awal
sampai mulai itu, saya tidak ada melihat atau menjumpai tanda-tanda kekerasan
pada waktu itu. Hanya yang saya jumpai di situ tuh bekas bekas sayatan ya di
tangan, bekas luka yang lama warna cokelat, di tangan sebelah kiri bagian
dalam, bagian depan," urainya. Ia turut membantah adanya luka cekikan di leher korban sebagaimana
yang dicurigai keluarga. "Kalau bekas cekikan waktu kita lakukan pemeriksaan saat itu tidak
ada. Kalaupun mungkin ada perubahan-perubahan yang timbul itu biasanya secara
pembusukan misalnya seperti lebam mayat. Biru dia, biru," sebutnya. Sedangkan kondisi mata kiri korban yang tampak lebam, Mistar
memastikan hal tersebut bukan disebabkan pukulan atau kekerasan dari luar.
Menurutnya, lebam terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di dasar tengkorak
yang terdampak jalur peluru. Kondisi itu menyebabkan darah menumpuk di sekitar
kelopak mata hingga menimbulkan warna kebiruan. "Ya itu tadi, karena pecahnya akibat lukanya pembuluh darah
yang di dasar tengkorak itu, pecah dia, namanya sirkulus Willisii. Jadi memang
mungkin kalau orang awam kurang ngerti. Kalau itu pecah dia, pasti ini terjadi
penumpukan apa, pembendungan darah di kelopak matanya. Makanya disebut juga
hematom kacamata. Dan itu bukan karena kekerasan dari luar, karena pecahnya pembuluh
darah tadi," sebutnya. Mistar menambahkan warna kebiruan yang terlihat di sejumlah bagian
tubuh juga dapat muncul akibat lebam mayat, yaitu proses alami setelah
seseorang meninggal dunia. "Jadi makanya waktu pada pemeriksaan luar dia tidak dijumpai
adanya tanda-tanda kekerasan. Sama juga dengan lebam mayat, kan biru juga dia.
Biru juga dia itu, kan itu prinsipnya sama-sama penumpukan darah yang terlihat
dari luar," ucapnya. Mistar juga menjelaskan adanya jahitan pada bagian leher korban
yang sempat menimbulkan pertanyaan dari pihak keluarga. Menurutnya, jahitan
tersebut merupakan bagian dari prosedur autopsi lengkap yang dilakukan untuk
mengetahui penyebab kematian secara menyeluruh. "Kalau yang dijahit itu ya, itu kan waktu kita melakukan
autopsi kan pasti dibuka juga lehernya. Karena kita meng-autopsinya itu kan
yang secara lengkap. Bukan hanya leher, kepala juga. Itu kan dari apa, kita
buka itu kita insisi sampai ke ini, ke symphysis namanya, sampai ke perut
bawah. Sesudah itu, sesudah kita keluarkan organ, sudah kita periksa semua itu
ini, kita jahit kembali. Di kepala pun pasti ada jahitannya. Karena itu
tengkorak kepalanya semua itu kita buka," kata Mistar. Sumber : CNN Indonesia
0 Komentar