Sejumlah santri korban keracunan MBG masih berdatangan ke RSUD RT
Notopuro Sidoarjo untuk mendapatkan perawatan medis, Rabu 2 September
2026.@Beritasatu/Slamet Wibowo.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta)
– Komisi IX DPR meminta
Badan Gizi Nasional (BGN) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis
(MBG) menyusul kasus dugaan keracunan yang dialami ratusan santri di Pondok
Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Sebanyak 293 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan
setelah menyantap makanan dalam program MBG hingga harus mendapatkan perawatan
di sejumlah rumah sakit.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini mengatakan pembentukan
satgas diperlukan untuk memperkuat pengawasan terhadap setiap satuan pelayanan
pemenuhan gizi (SPPG) yang menjalankan program MBG.
Menurut Yahya, Satgas MBG perlu melibatkan BGN, Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM), pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah, hingga
orang tua murid.
"Saya minta BGN meningkatkan pengawasan secara berkala dan
presisi terhadap setiap dapur dengan membentuk satgas MBG dengan melibatkan
BPOM, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah dan orang tua
murid," kata Yahya saat dihubungi, Rabu (2/9/2026).
Yahya menilai masih terjadinya kasus dugaan keracunan
menunjukkan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG masih perlu diperkuat.
Karena itu, dia meminta monitoring terhadap seluruh dapur MBG dilakukan secara
rutin.
"Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan masih
lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN. Monitoring perlu dilakukan setiap
minggu terhadap seluruh kepala dapur," lanjutnya.
Selain pengawasan, Yahya menyoroti tata kelola program MBG yang
dinilai masih perlu diperbaiki. Menurut dia, instruksi perbaikan yang selama
ini dikeluarkan BGN belum diterapkan secara menyeluruh di semua SPPG.
Dia meminta evaluasi tata kelola berjalan beriringan dengan
investigasi menyeluruh terhadap kasus dugaan keracunan santri di Sidoarjo.
Yahya mengapresiasi langkah BGN menutup sementara dapur MBG yang
diduga menjadi sumber makanan dalam kasus tersebut. BGN juga disebut telah
mencopot kepala dapur terkait.
"Saya menghargai tindakan tegas BGN yang menutup sementara
dapur yang menyebabkan keracunan dan mencopot kepala dapurnya. Tindakan tegas
tersebut perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola,
pengawasan dan SDM pengelola dapur," katanya.
Sebelumnya, ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam, Desa Putat,
Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diduga mengalami keracunan setelah menyantap
makanan dari program MBG.
Insiden tersebut diperkirakan terjadi setelah para santri
melaksanakan salat zuhur. Gejala keracunan mulai dirasakan saat memasuki waktu
asar. Menjelang magrib, jumlah santri yang mengalami gejala semakin banyak
sehingga mereka dilarikan ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan
medis.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar