Tampak
gedung Fakultas Kedokteran Unri tertutup kabut asap sore ini.@Raja Adil
Siregar/detikSumut.
MAJALAHJURNALIS.Com (Pekanbaru) - Kabut asap
kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau kian pekat. Kabut asap justru
semakin pekat setelah Pekanbaru diguyur hujan.
Kabut asap pekat terlihat di sejumlah wilayah
seperti Jalan HR Soebrantas, Kubang Raya hingga ke wilayah Rumbai. Kabut asap
pekat pada sore ini membuat aktivitas masyarakat di Kota Bertuah terganggu.
Tapi anehnya, bukan berdampak di Pekanbaru saja, ada beberapa wilayah provinsi di Indonesia yang terdampak kabut asap, anehnya Pemerintah Pusat tidak menetapkan peristiwa ini masuk bencana Nasional.
"Hari ini semakin pekat setelah kemarin turun
hujan. Padahal tadi pagi juga ada gerimis," kata seorang warga, Herman di
Pekanbaru, Sabtu (17/10/2026) dikutip dari laman detikSumut,
Akibatnya, aktivitas masyarakat kini mulai
terganggu. Bahkan, kondisi asap pekat itu membuat mata perih dan pernapasan pun
panas.
"Mata perih, tenggorokan panas. Jadi kalau
batuk, itu panas tenggorokan, napas juga beda dia panas," katanya.
Hal senada disampaikan Widi, ia mengaku kabut
asap pekat sejak siang hingga sore ini. Bahkan, kondisi itu membuat sejumlah
pengendara harus pakai masker.
"Pekat sore ini dari siang tadi. Mata perih,
wajib pakai masker karena sesak," katanya.
Sementara berdasarkan data IQAir untuk di
Pekanbaru kualitas udara berara di kategori Sangat Tidak Sehat. Angka
menunjukkan sore ini berada di angka 264.
Sedangkan polutan utama PM2.5 tercatat di data
IQAir. PM2.5 merupakan partikel yang mengambang di udara dengan ukuran diameter
2,5 mikrometer atau kurang.
Ukuran PM2.5 sangat kecil sehingga dapat diserap
ke dalam aliran darah saat bernapas. Karena alasan ini, biasanya polutan ini
menimbulkan ancaman kesehatan terbesar seperti iritasi mata, tenggorokan, sesak
napas, serangan asma hingga dampak jangka panjang kerusakan jaringan paru,
kanker dan serangan jantung. (red)
0 Komentar