MAJALAHJURNALIS.Com - Indonesia dikenal sebagai Paru-Paru Dunia.
Kekayaan hutan tropis, savana yang luas, serta flora dan fauna yang beragam
adalah warisan alam yang tak ternilai. Namun
setiap tahun kita menghadapi tragedi yang sama. Kebakaran Hutan dan Lahan
(Karhutla) muncul dari Kalimantan, dari Sumatera, hingga lereng-lereng gunung.
Api merambat cepat, asap mengepung, bahkan melintasi batas negara. Dampaknya
nyata. Bayi, anak-anak sekolah, hingga orang tua terpaksa menghirup udara
beracun. Mata pedih, jarak pandang terbatas, aktivitas lumpuh. Di sisi lain,
flora dan fauna sebagai warisan alam terancam punah dilahap Si Jago Merah.
Hingga
akhirnya, negara tetangga pun menuntut pertanggungjawaban Indonesia. Pertanyaan
besarnya adalah: Apakah hutan ini terbakar secara alami akibat pemanasan
global, atau justru ada tangan-tangan yang sengaja membakar untuk membuka lahan
baru demi kebun sawit dan kepentingan korporasi besar? Pola
lama: Bakar, jadi abu, sulap jadi kebun, lalu jadi pundi-pundi uang. Sementara
rakyat yang menanggung sesaknya. Hutan
adalah warisan kehidupan, bukan untuk diwariskan dalam bentuk abu. (Penulis adalah
Aktivis Pemuda, Pemerhati Kebijakan Publik)
0 Komentar