Ketua DPC Gerindra
Medan Ikhwan Ritonga.@Foto: Dok. gerindra medan.
MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) - Satu video memperlihatkan seorang selebgram asal
Medan yang mengaku mendapatkan tawaran untuk tidak membahas terkait kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) membuat heboh. Partai Gerindra meminta agar
kepolisian menyelidiki kebenaran hal itu. Dalam
video yang beredar, selebgram pria itu berbicara mengenai ada pesan yang masuk
kepadanya tentang tawaran kerjasama. Dalam penawaran itu, diminta agar tidak
membuat konten secara spesifik membahas persoalan karhutla. Selebgram
itu juga mengunggah tangkapan layar penawaran tersebut. Terlihat dalam
tangkapan layar itu, tawaran untuk meredam isu karhutla ini mencapai Rp 80 juta. Menanggapi
hal itu, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Medan, Ikhwan Ritonga, meminta
kepolisian menyelidikinya. Ikhwan meminta kepolisian menelusuri kebenaran
informasi tersebut, termasuk mengidentifikasi pihak yang diduga menawarkan
kerja sama itu. Menurutnya,
persoalan ini perlu diusut secara serius agar tidak menimbulkan spekulasi di
tengah masyarakat. Kepolisian juga diminta memastikan apakah tawaran tersebut
benar-benar terjadi dan siapa pihak yang berada di baliknya. "Kalau
memang benar ada tawaran seperti itu, harus ditelusuri oleh Kapolda atau
Dirsiber siapa yang menawarkan dan apa tujuannya. Jangan sampai ada pihak yang
menggunakan isu karhutla untuk kepentingan tertentu," ujar Ikhwan. "Kapolda
harus segera memanggil konten kreator tersebut agar meminta penjelasan terkait
penawaran kerjasama yang diterimanya," sambungnya.
Ia
menegaskan, apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya kebohongan atau
penipuan yang mengatasnamakan penanganan karhutla, pihak yang terbukti terlibat
harus diproses secara tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. "Kalau
benar ada yang menawarkan, pihak yang menawarkan itu harus ditangkap. Tapi
ternyata kebohongan, kami meminta agar konten kreator itu yang ditangkap karena
membuat resah," sebut Ikhwan. Wakil
Ketua DPRD Sumut ini menilai, dugaan tawaran kerjasama tersebut berpotensi
merusak citra pemerintah. Sebab, jika informasi itu tidak diluruskan,
masyarakat bisa menangkap kesan seolah-olah pemerintah menyiapkan anggaran
untuk meredam pemberitaan atau pembahasan mengenai persoalan karhutla. "Ini
bisa membuat citra pemerintah menjadi buruk. Masyarakat bisa beranggapan
seolah-olah ada anggaran yang disiapkan untuk meredam isu karhutla. Karena itu,
kebenarannya harus diungkap agar tidak berkembang menjadi persepsi yang
keliru," katanya. Ia
menilai, persoalan karhutla seharusnya menjadi perhatian bersama karena
berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan lingkungan. Penanganan masalah
tersebut perlu dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab. Karena
itu, Ikhwan meminta kepolisian tidak hanya memeriksa kebenaran informasi yang
beredar, tetapi juga menelusuri identitas pihak yang diduga menawarkan kerja
sama tersebut. "Langkah
penyelidikan diperlukan untuk memastikan duduk perkara yang sebenarnya
sekaligus mencegah munculnya dugaan-dugaan yang dapat merugikan berbagai
pihak," jelas Ikhwan. Sumber : detiksumut
0 Komentar