Ticker

7/recent/ticker-posts

LBH Medan dan Kontras Dampingi DS Korban Saat Demo Ricuh di Medan, Diseret dan Diinjak hingga Kejang-Kejang

 

LBH Medan dan Kontras Dampingi DS Korban Saat Demo Ricuh di Medan, Diseret dan Diinjak hingga Kejang-Kejang
DS (dua dari kiri) bersama LBH Medan dan Kontras saat memberikan keterangan .@Dok: Kartika Sari/detikSumut.

MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) - Video DS, pria yang diduga diinjak kepalanya saat aksi demo di DPRD Sumut viral di media sosial. Padahal, DS mengaku tidak terlibat dalam aksi demo tersebut.
 
Direktur LBH Medan Irvan Saputra yang merupakan kuasa hukum DS membeberkan kronologi bahwa DS awalnya berniat untuk mengerjakan tugas akhir.
 
"Prinsipnya sama sekali tidak ada niat untuk aksi, DS dan empat teman lainnya berniat untuk kumpul melakukan revisi skripsi. Namun, saat melewati jalan yang ditutup ditempat akses mereka kumpul, mereka bergabung dan memarkirkan (motor). Melihat adanya aksi mereka turun dan hanya melihat saja. Ternyata pasca melihat itu terjadi chaos dengan adanya tembakan gas air mata," ungkap Irvan, Sabtu (30/8/2025).
 
Irvan menyebutkan, saat ricuh tersebut para massa aksi berlari ke arah DS dan teman-temannya yang membuat DS ditangkap. Tak hanya ditangkap, ternyata dirinya dicekik dan dibanting ke lantai.
 
"Kemudian para kerumunan massa aksi berlari ke arah DS, sontak mereka juga turut merespons itu dan ternyata dalam kejadian itu, DS yang ditangkap dengan cara dicekik, dipiting, dan kemudian dibanting ke lantai tepatnya di lantai Bank Mandiri. Setelah dicekik, tindakan brutal itu tidak hanya memukuli wajah atau kepala DS tapi DS diseret, diangkat, dan dijatuhkan kembali yang mirisnya itu sampai diinjak wajahnya," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Irvan menyebut DS mengalami pendarahan. Namun, pelaku yang diduga pihak kepolisian tersebut justru meninggalkan dirinya dan juga diduga mengambil ponsel milik DS.
 
DS akhirnya ditolong oleh pegawai perbankan di sekitar lokasi dan dibawa ke RS Malahayati untuk mendapatkan pengobatan.
 
"Dan akibat tindakan penyiksaan tersebut, DS mengalami pendarahan di kepala, video itu telah beredar dan saat ini, DS sedang lakukan rawat jalan di RS Malahayati karena akibat injakan, pukulan yang dialaminya. Bukan hanya penyiksaan, barang DS juga hilang. HP milik DS diduga diambil oleh pihak kepolisian,saat itu DS sudah tidak sadarkan diri, dan melihat sebentar setelah kejadian itu bahwasannya hp diambil dan yang mengambil itu diduga adalah anggota kepolisian," jelasnya.
 
"Pasca kejadian itu, DS diselamatkan oleh pegawai Bank Mandiri dan dibawa ke RS Malahayati untuk mendapatkan pengobatan. DS tidak bisa berbicara banyak karena pengaruh di benturan kepalanya," sambung Irvan.
 
Irvan mengatakan bahwa dugaan kuat pelaku penyiksaan DS itu merupakan anggota kepolisian. Hal ini ia duga dari video yang beredar dan juga pihak kepolisian yang tiba-tiba menawarkan perawatan dan ingin menanggung biaya pengobatan DS.
 
"Dugaan kuat kita adalah pelaku penyiksaannya adalah anggota kepolisian, dalam video itu bisa terlihat dan terakhir semalam DS didatangi dua anggota kepolisian yang mengaku dari Paminal Polda untuk membawa DS berobat dan membiayai semua pengobatannya," ucap Irvan.
 
"Tetapi karena DS sudah menerima kuasa dari LBH dan Kontras, kita sampaikan DS sedang dalam pengobatan, artinya setelah kejadian dan ramai tentang penyiksaan itu barulah direspons. Inikan sangat tidak logis dan tidak manusiawi," lanjutnya.
 
Terkait hal ini, Irvan menyebut pihaknya akan melaporkan tindakan ini ke Polda Sumut. Ia akan mendampingi DS untuk membuat laporan siang ini.
 
"Secara hukum ini bertentangan dengan dugaan tindak pidana penyiksaan dan dugaan pelanggaran HAM. Oleh karena itu, kita akan melaporkan dugaan tindak pidana ini di Polda Sumut. Tidak hanya dugaan pidana saja tapi juga dugaan pelanggaraan etik," ucapnya.
 
"Karena dalam proses penanganan aksi maupun proses misalnya ada dugaan kejahatan yang dilakukan masyarakat itu harus ada proses sesuai dengan peraturan lainnya tapi tidak dijalankan maka ini bisa dinyatakan sebagai tindakan sewenang-wenang," tutup Irvan.'
 
Sebelumnya diketahui sejumlah pria diduga polisi yang berpakaian preman menyeret demonstran yang menuntut penghapusan tunjangan mewah DPR, di gedung DPRD Sumut, viral. Dalam video itu ada juga seorang pria yang disebut-sebut seorang personel polisi menginjak kepala korban hingga kejang-kejang.
 
Terkait hal ini, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan menyebut pihaknya tengah mengecek pria yang menginjak korban itu apakah personel polisi atau tidak. Jika terbukti merupakan anggota polri, Ferry menyebut pihaknya akan memprosesnya.
 
"Akan kami cek. Kalau itu benar anggota Polri akan kami proses sesuai prosedur yang berlaku," kata Ferry, Jumat (29/8/2025).
Sumber : detiksumut

Posting Komentar

0 Komentar