Foto bersama
para kepala negara sebelum menyaksikan parade militer di China.@Sergei
Bobylev/TASS/picture alliance.
MAJALAHJURNALIS.Com (Beijing) - Presiden Prabowo Subianto,
beserta pimpinan negara dan perwakilan asing lainnya menghadiri parade militer
skala besar di Beijing, China. Acara perayaan yang memperingati 80 tahun
kekalahan Jepang di akhir Perang Dunia II (PD II) ini cenderung dihindari oleh
para pemimpin Barat.
Prabowo bertolak ke Beijing pada Selasa (2/9/2025), di
tengah dinamika situasi politik Indonesia setelah unjuk rasa berhari-hari yang
menyebabkan ribuan orang ditangkap dan 10 orang tewas. Setibanya di Tianamen,
Prabowo disambut oleh Presiden China Xi Jinping.
Beberapa media nasional di Indonesia menyebut bahwa
Prabowo hanya hadir selama 8 jam dalam parade tersebut. Berdasarkan keterangan
pers Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Prabowo mendarat di
tanah air pada Rabu (3/9/2025) malam.
Pertemuan singkat dengan Xi Jinping dan Putin
Dalam kunjungan yang terbilang singkat tersebut,
Prabowo sempat melakukan pertemuan bilateral dengan Xi Jinping di Great Hall of
the People pada Rabu (3/9/2025). Dalam pertemuan itu, Prabowo kembali
menegaskan komitmen Indonesia untuk memperdalam kemitraan strategis dengan
China.
Prabowo membahas proyek Giant Sew Wall yang
direncanakan akan membentang di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa dengan
pemerintahan Xi Jinping.
Selain itu, Prabowo juga menghadiri pertemuan khusus
dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela lawatan tersebut. Obrolan Prabowo
dan Putin disebut menjadi salah satu agenda penting karena membahas soal kerja
sama strategis, khususnya di bidang ekonomi dan investasi.
"Selain menghadiri acara tersebut, Presiden
Prabowo juga mengadakan pertemuan khusus dengan Presiden Xi Jinping dan
Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, masing-masing untuk menindaklanjuti dan
memastikan jalannya berbagai investasi ekonomi yang sudah terjalin di antara
kedua negara," papar Menteri Sekretaris Kabinet (Seskab) Mayor Teddy Indra
Wijaya.
Setibanya di Jakarta, Prabowo menyebut bahwa pertemuan
itu menandakan hubungan Indonesia dan China berada pada periode terbaik dalam
sejarah.
"Indonesia berharap dapat memperkuat kerja sama dengan China di
bidang perdagangan, investasi, keuangan dan infrastruktur," kata Prabowo,
sambil menambahkan bahwa dia akan mendorong tercapainya lebih banyak hasil
nyata dalam hubungan Indonesia dengan Beijing.
Parade di China tanda "pergeseran geopolitik"?
Dalam parade militer tersebut, selain Presiden Prabowo
Subianto, turut hadir sejumlah pemimpin negara lainnya. Sebut saja, Perdana
Menteri India Narendra Modi, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un.
Rangkaian ini dapat dibaca sebagai sebuah pesan
mencolok, atau bahkan menantang, kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Ini
sedikit banyaknya menjadi bukti tambahan dari pergeseran menuju tatanan dunia
baru yang tak lagi sepenuhnya didominasi AS dan Barat.
Pertemuan ini mencerminkan tradisi panjang manuver
diplomatik yang penuh dengan kepentingan masing-masing dalam kekuatan politik
regional.
Singkatnya, masing-masing pemimpin negara yang hadir
punya kepentingannya sendiri. Misalnya, China, yang membutuhkan energi murah
dari Rusia hingga persoalan kestabilan perbatasan dengan Korea Utara.
Sementara, Putin ingin keluar dari sanksi Barat dan
isolasi akibat perang Ukraina. Kemudian, jika ditelaah, Kim membutuhkan uang,
legitimasi hingga cara untuk mengungguli Korea Selatan. Kemudian, Narendra Modi
tengah berusaha menjaga hubungan baik dengan Rusia dan China di tengah
keretakan hubungannya dengan AS.
Pamor China naik?
Saat ini, China dilanda banyak masalah domestik,
misalnya ketidaksetaraan ekonomi dan gender, hingga ketegangan dengan Taiwan.
Namun, Xi Jinping berusaha memosisikan China sebagai pemimpin bagi
negara-negara yang merasa dirugikan oleh tatanan dunia pascaPerang Dunia II.
"Parade ini menunjukkan kenaikan pamor China,
didorong oleh diplomasi Trump yang buruk dan kelihaian strategi Presiden
Xi," kata Jeff Kingston, seorang profesor studi Asia di Temple University,
Jepang. "Konsensus Washington telah runtuh dan Xi menggalang dukungan
untuk alternatifnya."
Beberapa pakar mengingatkan agar tidak berlebihan
membaca hubungan Rusia, China, dan Korea Utara. China tetap waspada terhadap
program nuklir Korea Utara yang kian berkembang dan kerap mendukung sanksi
internasional untuk menekan Pyongyang.
"Meski ikatan Rusia, Korea Utara kembali seperti
aliansi militer, China tidak berniat kembali ke tahun 1950," kata Zhu
Feng, dekan Fakultas Hubungan Internasional Universitas Nanjing.
"Salah jika percaya China, Rusia, dan Korea Utara
sedang membangun blok kekuatan baru."
Rusia cari bantuan China demi kurangi isolasi
Sementara bagi Kremlin, kehadiran Putin di Beijing
bersama para pemimpin dunia adalah cara menepis isolasi yang dikenakan Barat,
setelah invasi skala besar Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Putin dapat kembali tampil di panggung dunia sebagai
sosok negarawan, bertemu berbagai pemimpin termasuk Modi, Presiden Turki Recep
Tayyip Erdogan, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sambutan Xi Jinping juga
menegaskan bahwa Rusia masih punya mitra dagang besar, meski pasar Barat banyak
yang tertutup akibat sanksi.
Namun, di saat bersamaan, Rusia tak ingin membuat
Trump marah, karena Trump lebih terbuka dibanding pendahulunya untuk mendengar
syarat Moskow terkait perang Ukraina.
"Rusia sangat diuntungkan dari kemampuan China
menyediakan barang dual-use dan teknologi untuk mengakali sanksi serta menjaga
mesin militernya tetap hidup. China juga menjadi sumber utama pemasukan ekspor
Rusia yang mengisi kas perang Putin," kata Alexander Gabuev, Direktur
Carnegie Russia Eurasia Center. "Bagi China, perang Rusia di Ukraina
justru menjadi distraksi bagi AS."
Nasib Korea Utara
Kunjungan Kim Jong Un memperdalam ikatan baru dengan
Rusia, sekaligus menegaskan hubungan rapuh dengan sekutu terpentingnya
sekaligus penopang ekonominya, China.
Kim Jong Un telah mengirim ribuan pasukan dan banyak
perlengkapan militer untuk membantu Rusia menahan serangan Ukraina.
Tanpa menyebut perang Ukraina secara eksplisit, Kim
Jong Un berkata kepada Putin: "Jika ada hal yang bisa saya lakukan untuk
Anda dan rakyat Rusia, jika ada yang lebih perlu dilakukan, saya akan
menganggapnya sebagai kewajiban persaudaraan yang memang harus kami
jalani."
Lembaga Institute for National Security Strategy, yang
terafiliasi dengan badan intelijen Korea Selatan menyebut kunjungan Kim Jong
Un, yang merupakan penampilan pertamanya di forum multilateral sejak berkuasa
2011, ditujukan untuk memperkuat hubungan dengan negara sahabat sebelum
kemungkinan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Trump. Diplomasi
nuklir kedua pemimpin itu runtuh pada 2019.
"Kim juga bisa mengklaim kemenangan diplomatik,
karena Korea Utara kini beralih dari negara yang sebelumnya secara bulat
disanksi oleh Dewan Keamanan PBB (DK PBB) atas program nuklir dan misil
ilegalnya, menjadi negara yang justru dirangkul oleh anggota tetap DK PBB,
yakni Rusia dan China," kata Leif-Eric Easley, profesor studi
internasional di Universitas Ewha Womans, Seoul.
Peran Narendra Modi
Kehadiran Narendra Modi dalam perayaan tersebut
merupakan kunjungan pertamanya ke China sejak hubungan kedua negara memburuk
setelah bentrokan mematikan di perbatasan India-China pada 2020.
Namun, pemulihan ini masih terbatas. Namun, menurut
Praveen Donthi, seorang pakar senior di International Crisis Group, Modi tidak
ikut parade militer Beijing karena "rasa saling curiga dengan China masih
ada."
"India berjalan hati-hati di antara Barat dan
negara-negara lain, terutama terkait AS, Rusia, dan China," kata Donthi.
"Karena India tidak percaya pada aliansi formal, pendekatannya adalah
memperkuat hubungan dengan AS, mempertahankannya dengan Rusia, dan mengelolanya
dengan China."
Meski begitu, Amerika Serikat tetap ada dalam perhitungan
Modi.
India dan Washington sebelumnya merundingkan
perjanjian perdagangan bebas, hingga pemerintahan Trump memberlakukan tarif 25%
untuk impor minyak Rusia oleh India, membuat total tarif naik jadi 50%.
Perundingan pun terhenti dan hubungan merosot tajam.
Pemerintah Modi berjanji tidak akan tunduk pada tekanan AS, bahkan memberi
sinyal siap mendekat ke China dan Rusia.
Namun, kata Donthi, India tetap ingin menjaga celah
terbuka bagi Washington.
"Jika Modi bisa berjabat tangan dengan Xi lima tahun
setelah bentrokan perbatasan India-China, maka akan jauh lebih mudah baginya
untuk berjabat tangan dengan Trump dan kembali memperkuat hubungan, karena
keduanya memang sekutu alami," ujarnya. (Artikel ini pertama
kali terbit dalam bahasa Inggris. Diadaptasi oleh: Muhammad Hanafi)
Sumber: detiknews
0 Komentar