Desa Sade di Nusa Tenggara Barat diserbu wisatawan
pada libur Nataru.@Beritasatu.com/Awaludin.
MAJALAHJURNALIS.Com (Lombok
Tengah) - Desa
wisata adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB),
mencatat lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru
(Nataru).
Jumlah pengunjung
mencapai seribuan orang per hari, jauh meningkat dibanding hari biasa yang
hanya sekitar 200 orang.
Kenaikan kunjungan
wisatawan berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat lokal. Warga yang
membuka jasa penyewaan baju adat tenun khas Sasak merasakan peningkatan
pendapatan signifikan.
Salah satu pemandu
wisata Desa Sade, Salam, mengatakan wisatawan datang dari berbagai daerah di
Indonesia, bahkan wisatawan mancanegara, terutama dari Australia.
“Kalau hari biasa
paling 200 orang per hari. Namun, kalau libur Nataru seperti sekarang ini, bisa
hampir seribuan orang per hari,” ujar Salam kepada wartawan, Jumat (2/1/2026).
Oni, warga setempat
yang menyewakan pakaian adat lengkap dengan aksesori mengaku, jumlah penyewa
meningkat drastis saat libur Nataru.
Menurunya, pada hari
biasa hanya dua hingga tiga pasang pakaian per hari dengan pendapatan Rp 75.000
hingga Rp 100.000. Sedangkan pada libur Nataru bisa mencapai tujuh hingga
10 pasang pakaian per hari dengan pendapatan hingga Rp 300.000.
Harga sewa satu set
baju lengkap dibanderol Rp 25.000, sementara kain tenun dan sarung khas Lombok
dijual mulai Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per lembar.
Mutiara wisatawan asal
Kediri, Jawa Timur, terkesan dengan pengalaman berkunjung ke Desa Sade.
“Tempatnya bagus dan
unik. Rumah adatnya masih asli, jadi beda dari tempat wisata lain,” ujarnya.
Ia mengaku, baru
pertama kali berkunjung dan berencana melanjutkan perjalanan ke destinasi lain
di Lombok Tengah, seperti Pantai Kuta Mandalika dan Bukit Merese.
Lonjakan kunjungan
selama libur Nataru menegaskan, Desa Adat Sade masih menjadi destinasi wisata
unggulan di NTB.
Tingginya kunjungan
wisata tidak hanya memperkuat sektor pariwisata budaya, tetapi juga mendorong
perekonomian masyarakat lokal, yang bergantung pada sektor pariwisata berbasis
kearifan lokal.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar