Ticker

7/recent/ticker-posts

Maroko Diambang Juara Piala Afrika 2025

 

Maroko Diambang Juara Piala Afrika 2025

Maroko selangkah lagi mengakhiri penantian hampir 50 tahun juara Piala Afrika pada 2025.@AP Photos/Mosa'ab Elshamy.

MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Maroko berada pada ambang sejarah baru Piala Afrika. Menjelang laga final melawan Senegal, Senin (19/1/2026), Singa Atlas berada pada titik krusial untuk menuntaskan penantian panjang yang telah berlangsung hampir setengah abad.
 
Status sebagai tuan rumah bukan hanya menghadirkan ekspektasi publik, tetapi juga membuka peluang historis untuk mengulang kejayaan yang terakhir diraih pada 1976.
 
Perjalanan menuju partai puncak edisi kali ini menggambarkan evolusi sepak bola Maroko. Dari fase pembangunan mental, kegagalan berulang, hingga kemunculan generasi emas yang matang, semua menjadi bagian dari proses panjang yang kini bermuara pada satu kesempatan besar di hadapan pendukung sendiri.
 
Jalan Maroko Menuju Final Piala Afrika 2025
 
Langkah Maroko menuju final Piala Afrika 2025 berlangsung dengan ritme yang terukur dan penuh kedewasaan. Fase grup dijalani tanpa tergesa-gesa.
 
Hasil imbang melawan Mali pada awal turnamen direspons dengan penampilan lebih solid pada laga berikutnya, yang berujung pada kemenangan penentu posisi puncak grup sekaligus tiket ke fase gugur tanpa harus bergantung pada hasil tim lain.
 
Memasuki babak perempat final, karakter Maroko sebagai tim turnamen semakin terlihat. Menghadapi Kamerun yang memilih bermain bertahan dengan garis rendah, Maroko tetap sabar mengendalikan tempo.
 
Dominasi penguasaan bola akhirnya berbuah hasil ketika Brahim Díaz memecah kebuntuan, sebelum Ismaël Saibari menambah gol untuk memastikan kemenangan 2-0.
 
Tantangan paling berat hadir dalam partai semifinal melawan Nigeria di Rabat. Pertandingan berlangsung sangat ketat selama 120 menit tanpa gol, mencerminkan kehati-hatian dan disiplin taktik kedua tim.
 
Adu penalti menjadi penentu, dan Yassine Bounou tampil gemilang dengan dua penyelamatan krusial. Kemenangan 4-2 memastikan Maroko melangkah ke final Piala Afrika pertama sejak 2004, sekaligus membuka peluang nyata untuk mengakhiri puasa gelar sejak 1976 di kandang sendiri.
 
Partai final akan mempertemukan Maroko dengan Senegal di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat. Duel ini mempertemukan tuan rumah yang menyimpan dahaga gelar dengan juara bertahan edisi 2021, menjadikannya lebih dari sekadar perebutan trofi, tetapi juga adu gengsi dua kekuatan utama sepak bola Afrika modern.
 
Sejarah Panjang Maroko pada Piala Afrika
 
Jejak Maroko di Piala Afrika ditandai oleh satu puncak kejayaan yang hingga kini terus menjadi rujukan utama, yakni gelar juara pada 1976. Keikutsertaan perdana Maroko terjadi pada edisi 1972 di Kamerun.
 
Saat itu, Singa Atlas hanya mampu meraih tiga hasil imbang pada fase grup dan harus angkat koper lebih awal, sebuah pengalaman awal yang membentuk fondasi mental tim pada level kontinental.
 
Empat tahun kemudian, Maroko mencatat sejarah emas pada Piala Afrika 1976 yang digelar di Ethiopia. Turnamen tersebut menggunakan format final round, bukan satu laga final.
 
Maroko tampil konsisten sejak awal. Pada fase grup, mereka menahan Sudan 2-2, lalu menaklukkan juara bertahan Zaire 1-0 serta mengalahkan Nigeria 3-1 untuk melaju ke babak penentuan.
 
Pada fase final round, karakter juara Maroko terlihat jelas. Dua kemenangan beruntun atas Mesir dan Nigeria dengan skor identik 2-1 menempatkan mereka di posisi teratas.
 
Pada laga terakhir melawan Guinea, Maroko hanya membutuhkan hasil imbang. Setelah sempat tertinggal, gol telat Ahmed Makrouh pada menit-menit akhir memastikan hasil 1-1 sekaligus mengunci gelar juara Piala Afrika pertama dan satu-satunya hingga kini.


Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran pelatih asal Rumania, Virgil Mărdărescu, serta kepemimpinan Ahmed Faras yang menjadi top skor tim dengan tiga gol. Gelar 1976 kemudian menjadi tolok ukur sekaligus beban sejarah bagi generasi Maroko berikutnya.
 
Setelah itu, performa Maroko pada Piala Afrika cenderung berfluktuasi. Mereka sempat beberapa kali menembus semifinal dan laga perebutan tempat ketiga pada akhir 1970-an hingga 1980-an, tetapi gagal kembali ke podium tertinggi.
 
Harapan besar kembali muncul pada 2004 ketika Maroko mencapai final sebelum harus puas sebagai runner-up. Hingga kini, capaian tersebut masih menjadi prestasi terbaik setelah gelar 1976.
 
Pada era selanjutnya, hasil Maroko kembali beragam. Beberapa edisi berakhir dengan kegagalan melangkah jauh, termasuk tersingkir di babak 16 besar pada 2019 dan 2023. Meski demikian, rangkaian pengalaman ini membentuk fondasi berharga yang kini menjadi modal penting menjelang Piala Afrika 2025.
 
Generasi Emas Jadi Alasan Maroko Difavoritkan
 
Maroko memasuki Piala Afrika 2025 dengan status sebagai salah satu kekuatan utama Afrika, didorong oleh generasi emas yang telah teruji pada level tertinggi sepak bola Eropa.
 
Pencapaian semifinal pada Piala Dunia 2022 menjadi bukti konkret kualitas skuad sekaligus titik balik kepercayaan diri nasional.
 
Achraf Hakimi menjadi salah satu figur sentral. Bek kanan Paris Saint-Germain ini tidak hanya kokoh dalam bertahan, tetapi juga memberi dimensi ofensif yang signifikan.
 
Kontribusinya pada level klub dan tim nasional membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik afrika CAF 2025. Pada lini depan, Youssef En-Nesyri menjadi tumpuan utama pencetak gol, dengan dukungan Ayoub El Kaabi yang memiliki rekam jejak produktif di kompetisi kontinental.
 
Brahim Díaz turut memperkaya variasi serangan Maroko. Pemain yang berkarier di klub elite Eropa ini tampil menentukan sejak fase kualifikasi hingga babak gugur.
 
Pada lini tengah, Azzedine Ounahi berperan sebagai pengatur tempo, menjaga keseimbangan permainan, dan memastikan transisi berjalan efektif.
 
Di bawah mistar, Yassine Bounou menghadirkan ketenangan dan pengalaman juara. Perannya sebagai penentu kemenangan melalui adu penalti di semifinal menjadi simbol kepercayaan diri tim.
 
Selain itu, keberhasilan pembinaan jangka panjang melalui Akademi Mohammed VI telah menghasilkan banyak pemain berkualitas yang kini tersebar di berbagai klub Eropa, memperkuat kedalaman skuad lintas generasi.
 
Di tangan pelatih Walid Regragui, kombinasi pemain berpengalaman, talenta muda, dan fleksibilitas taktik membuat Maroko layak dijagokan.
 
Dukungan penuh publik tuan rumah, ditambah familiaritas dengan kondisi dan lingkungan kompetisi, semakin memperbesar peluang Singa Atlas untuk melangkah hingga puncak.
 
Perjalanan Maroko pada Piala Afrika 2025 merupakan pertemuan antara sejarah panjang, ambisi besar, dan momentum generasi emas. Dari kejayaan 1976, fase pasang surut selama puluhan tahun, hingga kebangkitan tim modern yang matang, semuanya bermuara pada satu kesempatan besar di Rabat.
 
Final kali ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan peluang untuk menutup lingkaran sejarah yang telah terbuka hampir 50 tahun. Kini, Maroko hanya berjarak satu langkah dari mewujudkan mimpi besar mereka di Piala Afrika.
Sumber : beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar