Wakil Presiden Gibran Rakabuming.@Ajeng Dinar
Ulfiana / POOL / AFP
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyampaikan bahwa
kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek yang kini dapat dirasakan secara terbuka
di berbagai ruang publik merupakan buah dari keberanian para pemimpin bangsa
dalam merawat kebhinekaan Indonesia. "Kita
patut bersyukur dan menghargai bahwa indahnya lampion yang menghiasi jalan,
meriahnya barongsai yang tampil di ruang publik, serta suasana hangat, gembira
yang penuh kebersamaan dalam perayaan Imlek saat ini adalah buah dari
keberanian dan keteguhan pemimpin bangsa dalam merawat kebhinekaan kita,"
kata Gibran melalui keterangan dari Sekretariat Wakil Presiden di Jakarta,
Sabtu (28/2/2026), dikutip dari Antara. Gibran
menyebut suasana hangat dan penuh kebersamaan Imlek menjadi simbol kuat
hadirnya negara dalam menjamin hak setiap warga untuk mengekspresikan identitas
budayanya. Menurutnya,
perubahan besar itu berawal dari keputusan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid
atau Gus Dur melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut
berbagai pembatasan terhadap ekspresi budaya Tionghoa. Gibran lantas
mengutip pesan Gus Dur bahwa semua warga negara, apa pun agamanya, memiliki
pengakuan dan kedudukan yang sama di hadapan undang-undang. "Melalui
Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur membuat kebijakan yang bukan sekadar
administratif, tapi sebagai tonggak sejarah yang mengajarkan kita sebuah arti
toleransi dan persaudaraan yang sebenarnya," ujar Gibran. Lebih lanjut,
Gibran mengatakan kebijakan itu kemudian diperkuat oleh Presiden ke-5 RI
Megawati Soekarnoputri yang pada tahun 2002 menetapkan Imlek sebagai hari libur
nasional.
Penetapan
tersebut dinilai sebagai wujud pengakuan utuh bahwa setiap warga negara berhak
merayakan tradisi dan keyakinannya tanpa rasa takut ataupun terpinggirkan. Menurut
Gibran, Indonesia adalah rumah besar yang dibangun dari keberagaman, bukan
keseragaman. "Ini
adalah wujud nyata pengakuan utuh bahwa setiap warga negara memiliki hak yang
sama untuk mengekspresikan identitas budayanya karena Indonesia adalah rumah
besar yang dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari keberagaman,"
ujarnya. Kebudayaan,
kata Gibran, tidak boleh dipenjara oleh prasangka, dan hak untuk merayakan
tradisi merupakan bagian dari martabat kemanusiaan yang dijamin konstitusi. Gibran
menekankan bahwa demokrasi bukan semata soal suara terbanyak, melainkan juga
keberpihakan terhadap keadilan, di mana negara harus hadir untuk seluruh rakyat
tanpa terkecuali. Anak sulung
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) itu mengajak generasi muda untuk menjaga
semangat dan warisan pemikiran para pemimpin bangsa dalam merawat ruang publik
yang inklusif. Gibran pun
mengingatkan agar tidak ada lagi anak bangsa yang merasa asing di tanah airnya
sendiri, serta menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk
saling berseteru. "Tidak
akan ada Indonesia tanpa kebhinekaan," ujar Gibran. Sumber : CNN
Indonesia
0 Komentar