Ticker

7/recent/ticker-posts

Israel Seperti Negara Tak Berdosa Terus Hantam Tenda Pengungsian Gaza, 32 Korban Tewas

 

Israel Seperti Negara Tak Berdosa Terus Hantam Tenda Pengungsian Gaza, 32 Korban Tewas
Menurut Trump, Dewan Perdamaian Gaza dirancang untuk mengawasi pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina yang masih akan dibentuk, sekaligus memantau proses rekonstruksi di Jalur Gaza.


MAJALAHJURNALIS.Com (Gaza) – Israel seperti Negara tak berdosa, lebih dari 32 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), menurut informasi dari otoritas setempat. Di antara korban yang jatuh, terdapat perempuan dan anak-anak.
 
Badan pertahanan sipil Gaza, yang berada di bawah pengelolaan Hamas, menyatakan bahwa salah satu serangan tersebut mengenai tenda pengungsian di Khan Younis, yang terletak di bagian selatan Gaza, setelah diserang oleh helikopter tempur Israel. Sejumlah keluarga pengungsi dilaporkan menjadi korban dalam insiden ini.
 
Warga Palestina menganggap rangkaian serangan ini sebagai yang paling mengerikan sejak dimulainya fase kedua gencatan senjata awal bulan ini.
 
Gencatan senjata tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat dan diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Oktober yang lalu, sebagaimana dikutip dari laman BBC pada Minggu (1/2/2026).
 
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan sejumlah serangan udara, yang mereka klaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas pada hari Jumat.
 
Israel dan Hamas saling menuduh telah melanggar kesepakatan yang telah disepakati sejak gencatan senjata diberlakukan.
 
Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebutkan bahwa delapan anggota Hamas teridentifikasi keluar dari infrastruktur teror bawah tanah di wilayah Rafah timur, di mana pasukan Israel masih ditempatkan sesuai dengan perjanjian gencatan senjata.
 
IDF mengungkapkan bahwa mereka, bersama dengan Badan Keamanan Israel (ISA), menyerang beberapa target, termasuk empat komandan Hamas, fasilitas penyimpanan senjata, lokasi pembuatan senjata, serta dua titik peluncuran di Gaza tengah.
 
Hamas mengecam keras serangan ini dan mendesak Amerika Serikat untuk segera mengambil tindakan.
 
Kelompok tersebut menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran berkelanjutan yang, menurut mereka, menunjukkan bahwa pemerintah Israel terus melanjutkan "perang genosida brutal" terhadap Gaza.
 
Hamas menyatakan bahwa tujuh dari korban tewas berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis. Seorang juru bicara pertahanan sipil mengungkapkan bahwa serangan Israel menghantam apartemen tempat tinggal, tenda pengungsian, tempat penampungan, serta sebuah kantor polisi.
 
Di Kota Gaza, pejabat Rumah Sakit Shifa melaporkan bahwa serangan udara mengenai sebuah apartemen, mengakibatkan tewasnya tiga anak dan dua perempuan.
 
"Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan. Mereka bilang ada gencatan senjata. Apa salah anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?" ungkap Samer al-Atbash, paman dari tiga anak yang tewas, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.


Rekaman video dan foto dari berbagai lokasi di Gaza menunjukkan proses evakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan tersebut.
 
Serangan ini terjadi menjelang rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah, yang merupakan perbatasan antara Gaza dan Mesir, pada hari Minggu.
 
Pembukaan ini direncanakan setelah militer Israel menemukan jenazah sandera Israel terakhir awal pekan ini.
 
Mesir mengutuk serangan Israel dan mendesak semua pihak untuk "menunjukkan pengekangan maksimal," sebagaimana dinyatakan oleh Kementerian Luar Negeri Mesir yang dilihat oleh AFP. Qatar, yang merupakan salah satu mediator utama dalam gencatan senjata, juga mengecam apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran berulang oleh Israel."
 
Gencatan Senjata
 
Menurut Trump, Dewan Perdamaian Gaza dirancang untuk mengawasi pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina yang masih akan dibentuk, sekaligus memantau proses rekonstruksi di Jalur Gaza. Tam
 
Menurut Trump, Dewan Perdamaian Gaza dirancang untuk mengawasi pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina yang masih akan dibentuk, sekaligus memantau proses rekonstruksi di Jalur Gaza. Tam © 2026 Liputan6.com
 
Pada bulan Januari, utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengumumkan bahwa fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata telah dimulai. Fase pertama mencakup penghentian sementara pertempuran, pertukaran sandera dan tahanan, penarikan sebagian pasukan Israel, serta peningkatan bantuan kemanusiaan.
 
Witkoff menjelaskan bahwa fase kedua akan meliputi pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina di Gaza, rekonstruksi wilayah, serta demiliterisasi penuh yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.
 
Perang di Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin oleh Hamas terhadap Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera.
 
Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer yang sangat besar di Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola oleh Hamas mencatat bahwa lebih dari 71.660 warga Palestina telah kehilangan nyawa mereka sejak perang dimulai.
 
Diketahui juga bahwa setidaknya 509 orang tewas sejak gencatan senjata diterapkan pada 10 Oktober 2025, sementara di pihak Israel, empat tentara dilaporkan tewas.
 
Meskipun sebelumnya menolak untuk mengakui angka korban yang dilaporkan oleh pihak Gaza, seorang sumber keamanan senior Israel dilaporkan oleh media lokal mengakui bahwa jumlah korban tewas Palestina telah melebihi 70.000 orang.
 
Data yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan Gaza selama ini dianggap dapat diandalkan oleh PBB dan berbagai organisasi hak asasi manusia internasional. Namun, Israel tidak mengizinkan media asing untuk masuk ke Gaza guna melakukan peliputan secara independen.
Sumber : merdeka.com

Posting Komentar

0 Komentar