Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketegangan As vs Iran Meningkat. Bagaiman dengan Israel?

 

Ketegangan As vs Iran Meningkat. Bagaiman dengan Israel?

Benjamin netanyahu.@AFP.


MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat seiring dengan penguatan posisi militer AS di kawasan Timur Tengah dan persiapan untuk perundingan terbaru mengenai program nuklir Iran. Dalam situasi ini, sejumlah analis berpendapat bahwa Israel mendorong langkah agresif terhadap Iran, tetapi di sisi lain, Israel masih sangat bergantung pada kekuatan militer AS karena keterbatasan pertahanan yang dimilikinya.
 
AS baru-baru ini memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan mengirimkan USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah, bersama dengan tambahan jet tempur. Pengerahan ini dilakukan meskipun perundingan masih berlangsung.
 
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan terlihat apakah kesepakatan bisa dicapai, serta memperingatkan bahwa Washington dapat meningkatkan langkah-langkahnya jika diplomasi tidak membuahkan hasil.
 
Dalam konteks ini, analis menilai bahwa Israel menginginkan tindakan tegas dari AS. Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King's College London, mengatakan kepada Anadolu jika AS benar-benar menyerang Iran, Israel kemungkinan besar akan memberikan dukungan penuh dan mendorong agar operasi dilanjutkan selama mungkin untuk menimbulkan kerusakan maksimal.
 
"Singkatnya, ketika dan jika operasi dimulai, Israel ingin AS mengerahkan seluruh kemampuannya," kata Pinfold.
 
Namun, ia menambahkan bahwa meskipun Israel telah melobi selama bertahun-tahun untuk memperketat langkah keras terhadap Iran, saat ini Israel tidak secara aktif mendorong serangan segera.
 
"Israel kini berada dalam posisi yang aneh, di mana AS justru lebih bersikap hawkish (garis keras) dibanding mereka," ungkap Pinfold.
 
Menurutnya, sikap hati-hati Israel bukanlah akibat dari perubahan strategi atau ideologi, melainkan karena Israel belum siap menghadapi operasi semacam itu.
 
Pinfold menjelaskan bahwa stok sistem pertahanan rudal Israel semakin menipis setelah perang 12 hari dengan Iran tahun lalu. Selain itu, fokus militer Israel juga tersebar di berbagai front konflik, yang membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait tindakan terhadap Iran.
 
Serangan Militer Diperkirakan akan Menghancurkan Israel
 
Walaupun Israel tidak memulai konflik, banyak analis berpendapat bahwa negara tersebut tidak mungkin bisa terhindar dari perang jika Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran. Baru-baru ini, media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan badan penyelamat dan Komando Front Dalam Negeri untuk bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya perang dengan Iran.
 
Iran sendiri telah berulang kali mengingatkan bahwa mereka akan membalas setiap serangan dari AS dengan menyerang Israel. Dalam situasi seperti ini, menurut Pinfold, Israel tidak memiliki alasan untuk menjauh dari konflik yang akan terjadi.
 
Ahron Bregman, seorang analis politik dari Israel, menyatakan jika pasukan AS berfokus pada fasilitas nuklir Iran, Israel kemungkinan besar akan menargetkan sistem rudal dan kapasitas produksi rudal Iran.
 
"Jika Israel terlibat dalam konflik, hampir dapat dipastikan Iran akan membalas serangan terhadap Israel," ungkap Bregman.
 
Ia juga memperingatkan bahwa biaya yang harus ditanggung akibat konflik tersebut akan sangat besar.
 
"Pihak Iran benar bahwa setiap operasi militer akan menghancurkan Israel; akan ada banyak korban sipil, terutama jika operasi itu berlangsung lama," tegas Bregman.
 
Keterbatasan Pertahanan Israel
 
Israel saat ini termasuk dalam 20 besar kekuatan militer dunia menurut Global Firepower, dengan kemampuan udara, darat, dan laut yang sangat canggih. Jika konflik pecah, para analis memprediksi bahwa Israel akan menerapkan strategi yang mirip dengan konfrontasi tahun lalu melawan Iran, yaitu dengan memperkuat pertahanan sipil dan sistem pencegat rudal sambil melancarkan serangan terarah terhadap aset Iran yang telah teridentifikasi.
 
Pinfold menyebut strategi ini meliputi penguatan ketahanan di dalam negeri serta serangan presisi di wilayah Iran. Bregman menekankan pentingnya sistem pertahanan rudal berlapis yang dimiliki Israel.


"Sistem pertahanan ini mencakup Iron Dome untuk mencegat ancaman jarak pendek; David's Sling untuk ancaman jarak menengah; serta sistem Arrow yang dirancang untuk menghadapi rudal balistik jarak jauh," jelasnya.
 
Namun, Bregman mengingatkan bahwa meskipun sistem pertahanan yang canggih, perlindungan penuh tidak dapat dijamin. Dalam kunjungan terbarunya ke Israel, Bregman menyaksikan "kerusakan besar akibat rudal yang mendarat selama konflik sebelumnya dengan Iran".
 
Ia menekankan bahwa meskipun banyak proyektil dapat dicegat, sebagian tetap akan berhasil menembus pertahanan yang ada.
 
Ketidakpercayaan yang Mendalam Terhadap Diplomasi
 
Para analis mengungkapkan bahwa pemimpin Israel dari berbagai kalangan politik menunjukkan skeptisisme yang tinggi terhadap upaya diplomatik yang dilakukan dengan Iran. Pinfold, seorang pejabat Israel, menyatakan bahwa baik mereka yang mendukung maupun menentang Netanyahu tidak mempercayai solusi diplomatik.
 
"Para pemimpin Israel bersatu dalam penentangan mereka terhadap Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang mereka anggap sebagai kesepakatan buruk. Oleh karena itu, mereka kini tidak percaya bahwa AS dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih baik, meskipun secara teori Iran saat ini lebih lemah dan lebih terisolasi daripada sebelumnya," jelas Pinfold.
 
Di sisi lain, Bregman menambahkan bahwa masalah Iran merupakan salah satu dari sedikit isu yang berhasil menciptakan konsensus di masyarakat Israel.
 
"Yang terpenting di sini adalah persepsi: meskipun perang akan mahal bagi Israel, sebagian besar warga Israel merasa tidak ada alternatif lain selain berpihak pada AS, terutama karena Iran akan menyerang Israel," ungkap Bregman.
 
Dengan perundingan yang berlangsung di Jenewa pada hari Kamis (26/2) dan pengerahan militer AS yang terus berlanjut, situasi di Timur Tengah kini menjadi perhatian utama.
 
Para analis memperingatkan bahwa jika diplomasi tidak berhasil, konflik berskala besar dapat terjadi dan berpotensi memberikan dampak luas, terutama bagi Israel dan Iran.
Sumber : merdeka.com

Posting Komentar

0 Komentar