Dokter spesialis
gizi klinik menyarankan agar konsumsi gorengan saat berbuka puasa tidak
berlebihan.@ANTARA
FOTO/Antara.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) -
Aroma pisang goreng, tahu isi, hingga bakwan hangat hampir selalu menjadi
pembuka puasa favorit. Pada meja-meja keluarga, gorengan sering tampil sebagai
pahlawan lapar setelah seharian menahan dahaga dan perut kosong. Namun di balik
renyahnya gigitan pertama itu, tubuh justru sedang dipaksa kerja lembur.
Dietisien RSUP dr Hasan Sadikin
Bandung Yesi Herawati mengingatkan kebiasaan menyantap gorengan saat berbuka
bisa jadi bumerang bagi kesehatan. “Makan terlalu banyak gorengan pada saat
berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” ujarnya, Sabtu
(21/2/2026).
Menurut Yesi, masalahnya ada pada
lemak yang berlebihan. Saat puasa, tubuh beristirahat. Begitu waktu berbuka
tiba, organ pencernaan langsung dipaksa tancap gas. Jika yang masuk pertama
kali adalah makanan tinggi lemak, beban kerja organ meningkat drastis.
Organ yang paling pertama terdampak
adalah hati. Lemak berlebih akan disimpan di sana. Jika terus menumpuk, kondisi
itu bisa berkembang menjadi perlemakan hati, peradangan, sirosis, bahkan kanker
hati. Jantung dan pembuluh darah juga ikut kena imbas.
"Kolesterol yang melonjak bisa
memicu penyumbatan pembuluh darah, membuka jalan bagi aterosklerosis dan penyakit
jantung koroner," paparnya.
Tak berhenti di situ, pankreas dan
kantong empedu juga dipaksa bekerja keras. Asupan lemak tinggi dapat memicu
resistensi insulin, yang menjadi pintu masuk diabetes. Ginjal pun ikut
terbebani karena harus menyaring metabolisme lemak dalam jumlah besar, sehingga
berisiko memicu penyakit ginjal kronik.
Lemak yang menumpuk di perut juga bisa
menekan diafragma, membuat napas terasa lebih pendek. Bahkan sistem reproduksi
pun bisa terdampak akibat ketidakseimbangan hormon. Saluran cerna pun dipaksa
bekerja ekstra setelah “tidur” selama sekitar 12 jam.
Yesi menegaskan risiko ini makin besar
bagi mereka yang sudah kegemukan atau obesitas. Jika kebiasaan makan gorengan
terus berlangsung tanpa diimbangi serat dan aktivitas fisik, dampaknya bisa
berantai, yakni obesitas, penyakit jantung, stroke, diabetes, perlemakan hati,
hingga kanker.
Lalu, apakah gorengan harus
benar-benar dihapus dari menu buka? Tidak juga. Bagi orang dengan status gizi
normal, gorengan masih boleh dikonsumsi maksimal dua buah per hari, asalkan
tidak ditambah menu bersantan atau gorengan lain. Untuk yang kelebihan berat
badan, gorengan sebaiknya dibatasi hanya sekali seminggu. Minyak pun harus
baru, bukan jelantah.
Sebagai alternatif, Yesi menyarankan
berbuka dengan air putih terlebih dahulu, lalu takjil yang lebih ramah
metabolisme seperti kurma, air kelapa, buah segar, atau salad buah. Selain
mengembalikan cairan tubuh, menu ini lebih mudah dicerna dan tidak membuat
organ tubuh “kaget” bekerja.
Singkatnya, gorengan boleh saja jadi
teman berbuka puasa. Namun ingat, tubuh bukan mesin diesel yang bisa langsung
dipacu setelah berhenti lama. Renyah di mulut, berat di organ, pilihan ada di
tangan kita.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar