Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Waspada Bagi Suka Menahan Buang Air Kecil

 

Waspada Bagi Suka Menahan Buang Air Kecil

Getty Images/SimpleImages


MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) - Tidak sedikit orang yang suka menahan buang air kecil karena alasan kesibukan. Ternyata kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
 
Spesialis urologi Prof dr Harrina Erlianti Rahardjo, SpU(K), PhD mengungkapkan menahan pipis merupakan salah satu faktor risiko tersering terjadinya infeksi saluran kemih (ISK). Kebiasaan ini kerap terjadi karena kondisi yang tidak bisa dihindari, misalnya saat terjebak macet atau berada di tempat umum dengan toilet yang kotor sehingga seseorang memilih menunda buang air kecil.
 
"Menahan kencing merupakan salah satu faktor resiko yang tersering dan terbanyak," ucapnya dikutip detikHealth.
 
Semakin lama dan semakin sering seseorang menahan kencing, maka risiko terjadinya ISK juga akan semakin besar. Meski demikian, tidak ada patokan pasti berapa lama menahan kencing yang langsung membuat seseorang terkena ISK.
 
"Tapi sebenarnya nggak ada patokan berapa lamanya kemudian menjadi suatu faktor resiko yang lebih berat atau apa. Tapi semakin lama kita menahan kencing dan semakin sering kita punya kebiasaan itu, itu akan lebih beresiko," lanjutnya.
 
Selain menahan kencing, faktor lain yang sering memicu ISK adalah kurang minum. Prof Harrina menjelaskan, asupan cairan yang cukup akan membuat volume urine lebih banyak dan warnanya lebih jernih.


Kondisi ini membantu 'membilas' kuman yang mungkin sudah mulai berkumpul di saluran kemih agar keluar bersama urine. Sebaliknya, kurang minum justru membuat urine menjadi lebih pekat sehingga koloni kuman lebih mudah terbentuk.
 
Tak hanya itu, kondisi kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko ISK. Salah satunya adalah diabetes, yang membuat pengidap lebih rentan mengalami infeksi. Risiko juga meningkat pada pasien yang mengonsumsi obat-obatan yang menurunkan daya tahan tubuh, seperti steroid, maupun pada pengidap penyakit autoimun.
 
"Ada sebab-sebab lain, faktor resiko lain seperti keadaan di badannya sendiri," katanya lagi.
 
Pada perempuan, perubahan hormonal juga berperan. Prof Harrina menyebutkan perempuan yang memasuki masa perimenopause atau menopause memiliki risiko ISK yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang belum memasuki fase tersebut. Hal ini berkaitan dengan penurunan hormon estrogen.
 
"Karena estrogen itu mempunyai fungsi protektif terhadap saluran kencing dan vagina. Jadi kalau estrogennya turun pada fase perimenopause dan menopause itu perlindungan terhadap infeksi juga akan lebih kurang," tuturnya lagi.
Sumber : detiksumut  

Posting Komentar

0 Komentar