Getty Images/SimpleImages
MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) -
Tidak sedikit orang yang suka menahan buang air kecil karena alasan kesibukan.
Ternyata kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Spesialis urologi Prof dr Harrina
Erlianti Rahardjo, SpU(K), PhD mengungkapkan menahan pipis merupakan salah satu
faktor risiko tersering terjadinya infeksi saluran kemih (ISK). Kebiasaan ini
kerap terjadi karena kondisi yang tidak bisa dihindari, misalnya saat terjebak
macet atau berada di tempat umum dengan toilet yang kotor sehingga seseorang
memilih menunda buang air kecil.
"Menahan kencing merupakan salah
satu faktor resiko yang tersering dan terbanyak," ucapnya dikutip detikHealth.
Semakin lama dan semakin sering
seseorang menahan kencing, maka risiko terjadinya ISK juga akan semakin besar.
Meski demikian, tidak ada patokan pasti berapa lama menahan kencing yang
langsung membuat seseorang terkena ISK.
"Tapi sebenarnya nggak ada
patokan berapa lamanya kemudian menjadi suatu faktor resiko yang lebih berat
atau apa. Tapi semakin lama kita menahan kencing dan semakin sering kita punya
kebiasaan itu, itu akan lebih beresiko," lanjutnya.
Selain menahan kencing, faktor lain
yang sering memicu ISK adalah kurang minum. Prof Harrina menjelaskan, asupan
cairan yang cukup akan membuat volume urine lebih banyak dan warnanya lebih
jernih.
Kondisi ini membantu 'membilas' kuman
yang mungkin sudah mulai berkumpul di saluran kemih agar keluar bersama urine.
Sebaliknya, kurang minum justru membuat urine menjadi lebih pekat sehingga koloni
kuman lebih mudah terbentuk.
Tak hanya itu, kondisi kesehatan
tertentu juga dapat meningkatkan risiko ISK. Salah satunya adalah diabetes,
yang membuat pengidap lebih rentan mengalami infeksi. Risiko juga meningkat
pada pasien yang mengonsumsi obat-obatan yang menurunkan daya tahan tubuh,
seperti steroid, maupun pada pengidap penyakit autoimun.
"Ada sebab-sebab lain, faktor
resiko lain seperti keadaan di badannya sendiri," katanya lagi.
Pada perempuan, perubahan hormonal
juga berperan. Prof Harrina menyebutkan perempuan yang memasuki masa
perimenopause atau menopause memiliki risiko ISK yang lebih tinggi dibandingkan
perempuan yang belum memasuki fase tersebut. Hal ini berkaitan dengan penurunan
hormon estrogen.
"Karena estrogen itu mempunyai
fungsi protektif terhadap saluran kencing dan vagina. Jadi kalau estrogennya
turun pada fase perimenopause dan menopause itu perlindungan terhadap infeksi
juga akan lebih kurang," tuturnya lagi.
Sumber : detiksumut
0 Komentar