Ilustrasi gambar Jemaah sedang Sholat Idul Fitri@Antara
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) -Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam
setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Hari raya ini bukan sekadar momentum kebahagiaan karena
berhasil menahan hawa nafsu, tetapi juga waktu yang tepat untuk mempererat
silaturahmi serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT . Dalam ajaran Islam, Idulfitri tidak hanya dirayakan
dengan tradisi berkumpul bersama keluarga atau menikmati hidangan khas Lebaran. Rasulullah SAW telah mencontohkan berbagai amalan sunah
yang dianjurkan untuk dilakukan agar makna hari raya menjadi lebih sempurna.
Amalan tersebut memiliki dasar dalil dari Al-Qur’an maupun hadis serta
dijelaskan dalam berbagai kitab fikih klasik. Berikut ini adalah amalan Idulfitri yang dianjurkan beserta
penjelasan dan dalilnya.
Amalan Sunah Idulfitri yang Dianjurkan Nabi Muhammad 1.Melaksanakan salat Idulfitri Salat Idulfitri merupakan amalan utama pada hari raya
dengan hukum sunah muakadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan. Bahkan,
sebagian ulama berpendapat hukumnya fardu kifayah, yakni kewajiban kolektif
bagi umat Islam. Dalil mengenai anjuran salat Idulfitri terdapat dalam
Al-Qur’an: فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ Artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”.
(QS Al-Kautsar: 2) Mayoritas ulama tafsir menjelaskan kata “salat” dalam
ayat tersebut merujuk pada salat hari raya, baik Idulfitri maupun Iduladha.
Salat Idulfitri dianjurkan dilaksanakan secara berjemaah. Jika masjid cukup luas, maka pelaksanaannya lebih utama
di masjid. Namun, jika tidak mencukupi, salat dapat dilakukan di lapangan
terbuka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Waktu pelaksanaannya dimulai sejak matahari terbit hingga
menjelang Zuhur. Para ulama menganjurkan agar salat dilakukan setelah matahari
naik setinggi satu tombak. 2. Mandi
sunah sebelum salat Id Salah satu amalan sunah sebelum berangkat salat Idulfitri
adalah mandi. Amalan ini dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk
bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Waktu mandi sunah Idulfitri dimulai sejak tengah malam
hingga sebelum pelaksanaan salat Id, dengan waktu paling utama setelah terbit
fajar. Berikut niat mandi sunah Idulfitri: نَوَيْتُ غُسْلَ
عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى Nawaitu ghusla ‘Idil fitri sunnatan lillāhi ta‘ālā. Artinya: “Aku niat mandi Idulfitri sebagai sunah karena
Allah Taala”. Mandi ini bertujuan untuk membersihkan diri sekaligus
menampilkan penampilan terbaik saat bertemu sesama muslim di hari raya. 3.
Menghidupkan malam Idulfitri dengan ibadah Malam sebelum Idulfitri dianjurkan untuk diisi dengan
berbagai ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak selawat,
dan berdoa. Hal ini berdasarkan hadis: “Barang siapa menghidupkan dua
malam hari raya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati banyak yang
mati”. (HR Al-Daruquthni) Meskipun hadis ini dinilai lemah, para ulama tetap
membolehkannya sebagai motivasi untuk memperbanyak amal kebaikan, khususnya
dalam keutamaan ibadah. Selain itu, malam Idulfitri juga termasuk waktu yang
dianjurkan untuk memperbanyak doa karena diyakini sebagai waktu yang mustajab.
4.
Memperbanyak takbir Takbir menjadi salah satu syiar yang sangat identik
dengan Idulfitri. Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sejak malam hari
raya hingga sebelum pelaksanaan salat Id. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT: وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
serta mengagungkan Allah”. (QS Al-Baqarah: 185) Takbir Idulfitri terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir
muqayyad (dibaca setelah salat) dan takbir mursal (dibaca kapan saja). 5. Makan
sebelum berangkat salat Id Amalan sunah lainnya adalah makan terlebih dahulu sebelum
berangkat salat Idulfitri. Hal ini berbeda dengan Iduladha yang dianjurkan
makan setelah salat. Dalam hadis disebutkan: “Rasulullah tidak berangkat salat
Idulfitri sebelum makan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil”. (HR
Bukhari) Amalan ini menjadi tanda umat Islam tidak lagi berpuasa
pada hari raya. 6. Berjalan
kaki menuju tempat salat Umat Islam dianjurkan berjalan kaki menuju tempat salat
Idulfitri apabila memungkinkan. Hal ini berdasarkan riwayat: “Termasuk sunah
Nabi adalah keluar menuju salat Id dengan berjalan kaki”. (HR Tirmidzi) Namun, bagi yang tidak mampu seperti lansia atau orang sakit,
diperbolehkan menggunakan kendaraan. 7.
Menggunakan rute berbeda saat pergi dan pulang Rasulullah SAW juga mencontohkan kebiasaan menggunakan
jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari salat Id. Dalam hadis
disebutkan: “Nabi ketika keluar untuk salat Id melewati satu jalan dan kembali
melalui jalan yang lain”. (HR Bukhari) Para ulama menjelaskan hikmah dari amalan ini adalah
untuk memperbanyak pahala langkah serta memperluas kesempatan bersilaturahmi. 8. Berhias
dan mengenakan pakaian terbaik Pada hari raya, umat Islam dianjurkan untuk berhias dan
mengenakan pakaian terbaik sebagai bentuk menampakkan kebahagiaan. Beberapa
bentuk berhias, antara lain membersihkan tubuh, memotong kuku, memakai
wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik. Para ulama juga menganjurkan memakai pakaian berwarna
putih jika tersedia. Namun, pakaian terbaik tidak harus baru, melainkan yang
paling layak dan bersih. Bagi perempuan, berhias tetap harus memperhatikan batasan
syariat, seperti tidak membuka aurat dan tidak memakai parfum berlebihan di
hadapan laki-laki nonmahram. 9. Memberi
ucapan selamat hari raya Memberi ucapan selamat atau tahniah pada hari raya juga
merupakan amalan yang dianjurkan. Para sahabat Nabi diketahui saling mengucapkan
selamat setelah Idulfitri. Salah satu ucapan yang populer adalah taqabbalallahu
minna wa minkum, yang artinya semoga Allah menerima amal ibadah kami dan
kalian. Selain itu, ucapan seperti selamat Idulfitri, minal aidin
wal faizin, atau mohon maaf lahir dan batin juga diperbolehkan selama
mengandung doa dan kebaikan. Tujuan dari tahniah adalah mempererat persaudaraan serta
menumbuhkan kebahagiaan di hari kemenangan. Amalan Idulfitri yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan
sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki nilai
spiritual tinggi. Mulai dari salat Id, memperbanyak takbir, mandi sunah,
hingga saling memberi ucapan selamat, semuanya mengandung hikmah untuk
memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat ukhuah sesama muslim. Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar