Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Amalan Idulfitri Dicontohkan Rasulullah SAW, bukan sekadar tradisi tahunan agar lebih berkah

 

Amalan Idulfitri Dicontohkan Rasulullah SAW, bukan sekadar tradisi tahunan agar lebih berkah
Ilustrasi gambar Jemaah sedang Sholat Idul Fitri@Antara

MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
 
Hari raya ini bukan sekadar momentum kebahagiaan karena berhasil menahan hawa nafsu, tetapi juga waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT
.
Dalam ajaran Islam, Idulfitri tidak hanya dirayakan dengan tradisi berkumpul bersama keluarga atau menikmati hidangan khas Lebaran.
 
Rasulullah SAW telah mencontohkan berbagai amalan sunah yang dianjurkan untuk dilakukan agar makna hari raya menjadi lebih sempurna. Amalan tersebut memiliki dasar dalil dari Al-Qur’an maupun hadis serta dijelaskan dalam berbagai kitab fikih klasik.
 
Berikut ini adalah amalan Idulfitri yang dianjurkan beserta penjelasan dan dalilnya.


Amalan Sunah Idulfitri yang Dianjurkan Nabi Muhammad
 
1.  Melaksanakan salat Idulfitri
 
Salat Idulfitri merupakan amalan utama pada hari raya dengan hukum sunah muakadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan. Bahkan, sebagian ulama berpendapat hukumnya fardu kifayah, yakni kewajiban kolektif bagi umat Islam.
Dalil mengenai anjuran salat Idulfitri terdapat dalam Al-Qur’an:
 
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
 
Artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS Al-Kautsar: 2)
 
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan kata “salat” dalam ayat tersebut merujuk pada salat hari raya, baik Idulfitri maupun Iduladha. Salat Idulfitri dianjurkan dilaksanakan secara berjemaah.
 
Jika masjid cukup luas, maka pelaksanaannya lebih utama di masjid. Namun, jika tidak mencukupi, salat dapat dilakukan di lapangan terbuka sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
 
Waktu pelaksanaannya dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang Zuhur. Para ulama menganjurkan agar salat dilakukan setelah matahari naik setinggi satu tombak.
 
2. Mandi sunah sebelum salat Id
 
Salah satu amalan sunah sebelum berangkat salat Idulfitri adalah mandi. Amalan ini dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk bagi wanita yang sedang haid atau nifas.
 
Waktu mandi sunah Idulfitri dimulai sejak tengah malam hingga sebelum pelaksanaan salat Id, dengan waktu paling utama setelah terbit fajar. Berikut niat mandi sunah Idulfitri:
 
نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى
 
Nawaitu ghusla ‘Idil fitri sunnatan lillāhi ta‘ālā.
 
Artinya: “Aku niat mandi Idulfitri sebagai sunah karena Allah Taala”.
Mandi ini bertujuan untuk membersihkan diri sekaligus menampilkan penampilan terbaik saat bertemu sesama muslim di hari raya.
 
3. Menghidupkan malam Idulfitri dengan ibadah
 
Malam sebelum Idulfitri dianjurkan untuk diisi dengan berbagai ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak selawat, dan berdoa.
 
Hal ini berdasarkan hadis: “Barang siapa menghidupkan dua malam hari raya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati banyak yang mati”. (HR Al-Daruquthni)
 
Meskipun hadis ini dinilai lemah, para ulama tetap membolehkannya sebagai motivasi untuk memperbanyak amal kebaikan, khususnya dalam keutamaan ibadah.
Selain itu, malam Idulfitri juga termasuk waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa karena diyakini sebagai waktu yang mustajab.

 
4. Memperbanyak takbir
 
Takbir menjadi salah satu syiar yang sangat identik dengan Idulfitri. Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sejak malam hari raya hingga sebelum pelaksanaan salat Id. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
 
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ
 
Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya serta mengagungkan Allah”. (QS Al-Baqarah: 185)
 
Takbir Idulfitri terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir muqayyad (dibaca setelah salat) dan takbir mursal (dibaca kapan saja).
 
5. Makan sebelum berangkat salat Id
 
Amalan sunah lainnya adalah makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat Idulfitri. Hal ini berbeda dengan Iduladha yang dianjurkan makan setelah salat.
 
Dalam hadis disebutkan: “Rasulullah tidak berangkat salat Idulfitri sebelum makan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil”. (HR Bukhari)
 
Amalan ini menjadi tanda umat Islam tidak lagi berpuasa pada hari raya.
 
6. Berjalan kaki menuju tempat salat
 
Umat Islam dianjurkan berjalan kaki menuju tempat salat Idulfitri apabila memungkinkan. Hal ini berdasarkan riwayat: “Termasuk sunah Nabi adalah keluar menuju salat Id dengan berjalan kaki”. (HR Tirmidzi)
 
Namun, bagi yang tidak mampu seperti lansia atau orang sakit, diperbolehkan menggunakan kendaraan.
 
7. Menggunakan rute berbeda saat pergi dan pulang
 
Rasulullah SAW juga mencontohkan kebiasaan menggunakan jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari salat Id. Dalam hadis disebutkan: “Nabi ketika keluar untuk salat Id melewati satu jalan dan kembali melalui jalan yang lain”. (HR Bukhari)
 
Para ulama menjelaskan hikmah dari amalan ini adalah untuk memperbanyak pahala langkah serta memperluas kesempatan bersilaturahmi.
 
8. Berhias dan mengenakan pakaian terbaik
 
Pada hari raya, umat Islam dianjurkan untuk berhias dan mengenakan pakaian terbaik sebagai bentuk menampakkan kebahagiaan. Beberapa bentuk berhias, antara lain membersihkan tubuh, memotong kuku, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik.
 
Para ulama juga menganjurkan memakai pakaian berwarna putih jika tersedia. Namun, pakaian terbaik tidak harus baru, melainkan yang paling layak dan bersih.
 
Bagi perempuan, berhias tetap harus memperhatikan batasan syariat, seperti tidak membuka aurat dan tidak memakai parfum berlebihan di hadapan laki-laki nonmahram.
 
9. Memberi ucapan selamat hari raya
 
Memberi ucapan selamat atau tahniah pada hari raya juga merupakan amalan yang dianjurkan. Para sahabat Nabi diketahui saling mengucapkan selamat setelah Idulfitri.
 
Salah satu ucapan yang populer adalah taqabbalallahu minna wa minkum, yang artinya semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.
 
Selain itu, ucapan seperti selamat Idulfitri, minal aidin wal faizin, atau mohon maaf lahir dan batin juga diperbolehkan selama mengandung doa dan kebaikan.
 
Tujuan dari tahniah adalah mempererat persaudaraan serta menumbuhkan kebahagiaan di hari kemenangan.
 
Amalan Idulfitri yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi.
 
Mulai dari salat Id, memperbanyak takbir, mandi sunah, hingga saling memberi ucapan selamat, semuanya mengandung hikmah untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat ukhuah sesama muslim.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar