![]() |
| Ritual adat seba.@CNN Indonesia/Yandhi |
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Langit masih gelap
ketika sebagian besar orang terlelap. Jarum jam baru menunjuk pukul 03.00 WIB,
saat puluhan warga Baduy Dalam mulai melangkah pelan menembus hutan di kawasan
Gunung Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Tanpa lampu, tanpa alas kaki modern,
hanya berbekal keyakinan dan tradisi, mereka berjalan dalam sunyi.
Langkah-langkah itu bukan sekadar perjalanan fisik. Ia
adalah bagian dari napas panjang tradisi yang disebut Seba, ritual tahunan yang
telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.
Tahun ini, sekitar 2.000 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar
ikut serta. Mereka datang dari kampung-kampung inti di Desa Kanekes seperti
Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik, menempuh perjalanan hingga 200 kilometer
pulang-pergi menuju Rangkasbitung dan Kota Serang.
Bagi warga Baduy Dalam, perjalanan ini harus ditempuh
dengan berjalan kaki. Pakaian putih yang mereka kenakan menjadi simbol
kesederhanaan sekaligus ketaatan pada adat. Sementara warga Baduy Luar diperbolehkan
menggunakan kendaraan.
Di sepanjang perjalanan, bekal mereka sederhana, hanya
nasi, umbi-umbian, dan hasil ladang. Namun bagi mereka, kesederhanaan itu justru
menjadi kekuatan.
"Kami berjalan kaki untuk mengikuti Seba setelah
menjalani Kawalu selama tiga bulan. Ini sudah menjadi aturan dari
leluhur," ujar Rahman (50), warga Baduy Dalam.
Seba bukan sekadar seremoni. Ia adalah bentuk silaturahmi
sekaligus dialog adat antara masyarakat Baduy dan pemerintah. Dalam tradisi
ini, mereka mendatangi kepala daerah, yang disebut sebagai 'Bapak Gede' untuk
menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi, buah-buahan, hingga laksa.
Di balik simbol itu, terselip pesan sederhana namun
mendalam: harapan akan kehidupan yang aman, damai, dan alam yang tetap terjaga.
"Kami berterima kasih karena sekarang kondisi sudah
aman. Tidak ada lagi ternak hilang dan hutan juga tidak dirusak," kata
Rahman.

Ritual adat seba.@CNN Indonesia/Yandhi
Bagi sebagian warga, Seba adalah kewajiban yang tak bisa
ditinggalkan. Ato (55) menyebut, ketidakhadiran dalam ritual ini diyakini dapat
membawa konsekuensi buruk menurut kepercayaan adat.
"Ini sudah berlangsung sejak zaman leluhur dan
Kesultanan Banten. Harus tetap dilaksanakan," ujarnya.
Setibanya di Pendopo Kabupaten Lebak, ribuan warga Baduy
disambut berbagai kegiatan budaya. Pameran UMKM, wayang golek, tarian
tradisional, hingga pertunjukan debus digelar untuk menyambut mereka.
Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menyebut
masyarakat Baduy sebagai teladan dalam menjaga kehidupan.
"Mereka menjaga alam, budaya, adat istiadat,
disiplin, hidup dari bertani, dan memiliki keyakinan kuat. Itu yang harus
diteladani," katanya.
Di balik seluruh rangkaian Seba, tersimpan makna yang
lebih dalam. Tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menjelaskan
bahwa penyerahan hasil bumi adalah simbol penghormatan sekaligus pengingat akan
pentingnya menjaga hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah.
Namun, kekuatan utama masyarakat Baduy justru terletak
pada cara mereka merawat alam.
Di wilayah adat seluas sekitar 5.200 hektare, mereka
mempertahankan hutan sebagai kawasan lindung. Puluhan aliran sungai yang
berhulu dari wilayah ini tetap jernih, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat
di hilir Banten.
"Kami menjaga hutan karena itu amanah leluhur. Kalau
hutan rusak, kehidupan juga akan terganggu," ujar Saidi Yunior, tetua adat
Baduy Tangtu.



0 Komentar