Presiden
Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pertama pada Sidang Tahunan MPR
RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPR RI,
Jakarta, pada Jumat, 15 Agustus 2025.@ BPMI Setpres.
Perlu dicatat, Prabowo dan Partai Gerindra sudah melontarkan berbagai gagasan pilkada tidak langsung sejak 2014, jauh sebelum ia menjabat presiden pada 2024
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Usulan Presiden Prabowo Subianto agar kepala daerah
dipilih oleh DPRD dan bukan oleh rakyat memicu perdebatan di kalangan partai
politik. Para pakar mengatakan, hal itu akan jadi kemunduran bagi demokrasi dan
tidak bisa menghilangkan risiko korupsi.
Partai-partai politik berbeda pendapat soal apakah
gubernur, wali kota dan bupati akan terus dipilih oleh rakyat melalui Pemilihan
Kepada Daerah (Pilkada) atau dipilih oleh anggota dewan.
Perdebatan ini muncul setelah pada 5 Desember lalu
Prabowo mengusulkan agar pilkada dihapuskan dan diganti pemilihan oleh DPRD.
"Saya mengajak kekuatan politik. Ayo marilah kita
berani memberi solusi kepada rakyat kita, demokratis, tetapi jangan buang-buang
uang," ujar Prabowo dalam perayaan ulang tahun ke-61 Partai Golkar di
Jakarta.
"Kalau sudah sekali memilih DPRD kabupaten, DPRD
provinsi, ya kenapa tidak langsung saja pilih gubernurnya dan bupatinya,
selesai."
Tahun lalu Indonesia menggelar dua pemilu: Pemilihan Presiden
beserta anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota pada bulan
Februari; dan pilkada pada November untuk memilih 37 Gubernur, 415 Bupati, dan
93 Walikota.
Prabowo Ingin Menghapus Pilkada
Namun para pakar memperingatkan bahwa langkah itu bisa
menyeret Indonesia kembali ke masa Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto
dengan tangan besi selama lebih dari 3 dekade hingga 1998.
Pada rezim Orde Baru yang ditandai dengan kendali
militer atas warga sipil, rakyat hanya boleh memilih satu dari tiga partai yang
disetujui negara Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai
Demokrasi Indonesia (PDI).
Rakyat tidak punya suara dalam menentukan pemimpin
provinsi maupun daerah, yang ketika itu ditunjuk oleh Pemerintah Pusat.
Guntur Romli, juru bicara Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) mengatakan partainya masih mengkaji usulan presiden, namun
cenderung mendukung Pilkada Langsung.
“Pemilihan kepala daerah oleh DPRD akan menimbulkan
pertanyaan soal legitimasi karena masyarakat tidak merasa merekalah yang
memilih pemimpin daerahnya,” kata Guntur kepada CNA.
PDIP saat ini adalah partai terbesar di DPR, menguasai
110 dari 580 kursi. Partai itu menjadi satu dari hanya dua partai yang berada
di luar koalisi pemerintahan Prabowo.
Golkar, partai terbesar kedua di parlemen dengan 102
kursi dan bagian dari koalisi Prabowo, mendorong penghapusan pilkada langsung.
Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia, mengatakan
kepada CNA bahwa partainya telah menghabiskan satu setengah tahun terakhir
mengkaji “berbagai opsi untuk menyempurnakan sistem politik Indonesia”.
“Di antara opsi itu adalah menyerahkan pemilihan
kepala daerah kepada DPRD. Namun kami juga mempertimbangkan opsi campuran yang
menggabungkan unsur pemilihan tidak langsung (ala Orde Baru) dengan sistem
langsung yang berlaku saat ini,” ujarnya.
Mardani Ali Sera, anggota DPR dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), mengatakan partainya tengah mencari jalan tengah dengan
memperbolehkan sebagian posisi kepala daerah dipilih langsung dan sebagian
lainnya ditunjuk DPRD.
"Pilkada langsung bisa memunculkan mutiara daerah
walau berasal dari partai kecil atau NGO. Bagus untuk daerah perkotaan tetap
pilkada langsung. Dan di rural (pedesaan) bisa dipertimbangkan melalui
DPRD," kata dia dikutip dari CNN Indonesia pada 8 Desember lalu.
Mardani menilai biaya pemilihan wali kota di wilayah
yang kecil lebih murah daripada pilkada di kabupaten yang penduduknya tersebar
dan banyak desanya sulit diakses.
PKS menguasai 53 kursi di parlemen dan menjadi bagian
dari koalisi Indonesia Maju yang dipimpin Prabowo.
Prabowo berpendapat bahwa Pilkada Langsung yang
dimulai sejak 2005 menjadi “sumber korupsi yang sangat besar” dan menguntungkan
kandidat dengan dana kampanye besar.
Selain itu, penyelenggaraan pilkada juga membuat
negara harus mengeluarkan anggaran yang luar biasa.
Pilkada November 2024 yang pertama kalinya digelar
serentak secara nasional telah menghabiskan anggaran hingga Rp41 triliun, meski
seluruh 545 pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dilakukan dalam satu hari
pemungutan suara.
![]() |
Warga memasukkan surat suara untuk pemilihan gubernur Jakarta pada 27 November 2024 di TPS Jembatan Lima, Jakarta Barat.@ CNA/Wisnu Agung Prasetyo. |






0 Komentar