Potret Sambareh yang disajikan pada Tradisi Mandoa
Sambareh.@dok. Jurnal Ilmiah Langue and Parole.
MAJALAHJURNALIS.Com (Padang) - Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan
dalam kalender Hijriah. Diberbagai daerah, kedatangan bulan ini disambut dengan
beragam cara unik, salah satunya di Sumatera Barat (Sumbar).
Mengutip
artikel "Mandoa Sambareh Bulan Rajab Sebagai Tradisi Menyambut Bulan Suci
Ramadhan di Padang Pariaman" oleh Dinda Puspita, dkk. pada Jurnal Ilmiah
Langue and Parole, masyarakat setempat memiliki tradisi khusus yang disebut
dengan Mandoa Sambareh.
Tradisi ini
tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memuat nilai sejarah, sosial,
dan kuliner yang kental akan identitas masyarakat Padang Pariaman, khususnya di
daerah Ulakan. Berikut informasi lengkapnya.
Apa Itu Tradisi Mandoa Sambareh?
Bagi
masyarakat Padang Pariaman, Sumbar, bulan Rajab memiliki nama lain yang sangat
lekat dengan kearifan lokal, yaitu "Bulan Sambareh" atau bulan
serabi. Penamaan ini merujuk pada Sambareh, sejenis penganan tradisional
berbahan dasar tepung beras (serabi) yang menjadi hidangan utama dalam tradisi
ini.
Selain disebut
Bulan Sambareh, bulan Rajab juga dikenal sebagai "Bulan Anak". Hal
ini dikarenakan tujuan utama pelaksanaan tradisi Mandoa Sambareh adalah untuk
mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia, baik itu orang tua
maupun anak-anak, agar mendapatkan keselamatan di akhirat.
Sejarah dan Asal Usul Tradisi
Keberadaan
tradisi ini tidak lepas dari proses Islamisasi di Minangkabau. Tradisi ini
dibawa dan diajarkan oleh Syekh Burhanuddin, tokoh ulama besar yang menyebarkan
Islam di Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin membawa ajaran ini dari Aceh, tempat
beliau berguru kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili.Secara budaya,
tradisi Mandoa Sambareh memiliki kemiripan dengan tradisi Khanduri Apam di Aceh
yang juga dilaksanakan pada bulan Rajab untuk memperingati Isra Mikraj Nabi
Muhammad SAW. Kemiripan cara penyajian dan tujuan acara menunjukkan adanya akulturasi
budaya Islam yang dibawa dari Aceh ke Minangkabau.
Sumber :
detiksumut
0 Komentar