Ticker

7/recent/ticker-posts

Sambut Bulan Rajab di Sumbar, Dimeriahkan ‘Tradisi Mandoa Sambareh’

 

Sambut Bulan Rajab di Sumbar, Dimeriahkan ‘Tradisi Mandoa Sambareh’
Potret Sambareh yang disajikan pada Tradisi Mandoa Sambareh.@dok. Jurnal Ilmiah Langue and Parole.

MAJALAHJURNALIS.Com (Padang) - Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Diberbagai daerah, kedatangan bulan ini disambut dengan beragam cara unik, salah satunya di Sumatera Barat (Sumbar).
 
Mengutip artikel "Mandoa Sambareh Bulan Rajab Sebagai Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Padang Pariaman" oleh Dinda Puspita, dkk. pada Jurnal Ilmiah Langue and Parole, masyarakat setempat memiliki tradisi khusus yang disebut dengan Mandoa Sambareh.
 
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memuat nilai sejarah, sosial, dan kuliner yang kental akan identitas masyarakat Padang Pariaman, khususnya di daerah Ulakan. Berikut informasi lengkapnya.
 
Apa Itu Tradisi Mandoa Sambareh?


Bagi masyarakat Padang Pariaman, Sumbar, bulan Rajab memiliki nama lain yang sangat lekat dengan kearifan lokal, yaitu "Bulan Sambareh" atau bulan serabi. Penamaan ini merujuk pada Sambareh, sejenis penganan tradisional berbahan dasar tepung beras (serabi) yang menjadi hidangan utama dalam tradisi ini.
 
Selain disebut Bulan Sambareh, bulan Rajab juga dikenal sebagai "Bulan Anak". Hal ini dikarenakan tujuan utama pelaksanaan tradisi Mandoa Sambareh adalah untuk mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia, baik itu orang tua maupun anak-anak, agar mendapatkan keselamatan di akhirat.
 
Sejarah dan Asal Usul Tradisi
 
Keberadaan tradisi ini tidak lepas dari proses Islamisasi di Minangkabau. Tradisi ini dibawa dan diajarkan oleh Syekh Burhanuddin, tokoh ulama besar yang menyebarkan Islam di Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin membawa ajaran ini dari Aceh, tempat beliau berguru kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili.

Secara budaya, tradisi Mandoa Sambareh memiliki kemiripan dengan tradisi Khanduri Apam di Aceh yang juga dilaksanakan pada bulan Rajab untuk memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Kemiripan cara penyajian dan tujuan acara menunjukkan adanya akulturasi budaya Islam yang dibawa dari Aceh ke Minangkabau.

Sumber : detiksumut 

Posting Komentar

0 Komentar