Demo di Iran
mereda akibat aksi militer yang menembaki warga.@UGC/UGC via AP.
MAJALAHJURNALIS.Com (Teheran) - Gelombang protes anti pemerintah di Iran dilaporkan
mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun, meredanya aksi tersebut bukan
karena situasi membaik, melainkan akibat ketakutan mendalam warga setelah
penindakan keras aparat keamanan.
Melansir
Mirror, Jumat (16/1/2026), sejumlah sumber menyebut demonstrasi berubah
mematikan setelah aparat diperintahkan menembak massa.
Lembaga
berbasis Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency, mencatat
sedikitnya 2.615 orang tewas sejak aksi protes pecah. Meski pembunuhan massal
dilaporkan mereda untuk sementara, suasana mencekam justru semakin terasa.
Warga
menggambarkan kehadiran aparat bersenjata lengkap di jalan-jalan utama. Tank
dan truk militer dilaporkan berpatroli di sejumlah kota, dengan pasukan
bersenjata mengawasi warga sipil.
“Ada tank dimana-mana.
Truk berisi orang-orang bersenjata mengarahkan senjata ke siapa pun di jalan,”
ujar seorang sumber kepada media internasional.
Sumber lain
menyebut aparat kepolisian menghentikan warga secara acak di Teheran.
“Tidak ada
lagi protes karena pembunuhan besar-besaran. Orang-orang sangat ketakutan,” katanya.
Meski
aktivitas lalu lintas di ibu kota Teheran terlihat kembali normal, kondisi
tersebut dinilai mencerminkan tekanan psikologis, bukan stabilitas. Banyak
warga memilih tetap di rumah demi keselamatan.
Situasi ini
berkembang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan
peringatan keras kepada pemerintah Iran terkait rencana eksekusi terhadap
demonstran. Trump menyatakan akan mengambil tindakan sangat kuat jika eksekusi
berlanjut, seraya menyebut bantuan sedang dalam perjalanan.
Salah satu
kasus yang memicu kecaman global adalah ancaman eksekusi terhadap Erfan
Soltani, pemilik toko berusia 26 tahun yang ditangkap seusai diduga ikut
demonstrasi. Ancaman tersebut kemudian dilaporkan mereda setelah tekanan
internasional meningkat.
Pada sisi
lain, media pemerintah Iran bahkan menyiarkan ancaman pembunuhan terhadap
Trump, menambah ketegangan politik internasional di tengah krisis domestik
Iran.
Meski protes
jalanan tampak mereda, kelompok HAM menilai akar persoalan belum terselesaikan.
Penurunan aksi lebih disebabkan rasa takut, bukan hilangnya kemarahan publik.
Sumber :
Beritasatu.com
0 Komentar