Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI), Jeirry
Sumampow.@Istimewa
MAJALAHJURNALIS.Com
(Jakarta) - Koordinator Komite
Pemilih Indonesia (TePI), Jeirry Sumampow, menilai pada 2025 bukan menjadi fase
penguatan demokrasi, melainkan periode konsolidasi kekuasaan yang kian menjauh
dari prinsip kedaulatan rakyat.
Menurut Jeirry, stabilitas politik yang
terlihat sepanjang 2025 bersifat semu karena dibangun di atas melemahnya
kontrol publik, absennya oposisi yang efektif, serta menguatnya kepentingan
elite politik.
“Yang kita saksikan bukan konsolidasi
demokrasi, tetapi konsolidasi kekuasaan. Stabilitas tampak tenang di permukaan,
tetapi fondasi kedaulatan rakyat justru terus tergerus,” ujar Jeirry Sumampow
dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Kartelisasi Politik
dan Melemahnya Oposisi
Jeirry menyoroti fenomena kartelisasi
politik yang semakin menguat sepanjang tahun ini. Hampir seluruh kekuatan besar
politik nasional, kata dia, berada dalam satu poros kekuasaan dengan dalih stabilitas
dan pembangunan.
“Ketika hampir semua partai berada pada
gerbong kekuasaan, maka oposisi yang kredibel praktis menghilang. Padahal,
tanpa oposisi, akuntabilitas dan transparansi demokrasi akan mati,” katanya.
Ia menilai perombakan kabinet dan pergeseran
jabatan strategis pada berbagai lembaga negara sepanjang 2025 lebih
mencerminkan loyalitas politik ketimbang kompetensi dan keberpihakan pada
rakyat.
“Rakyat hanya menjadi penonton dari
sandiwara politik yang skenarionya disusun di ruang-ruang elite,” ujar Jeirry.
Kebijakan Dinilai
Minim Empati Publik
Jeirry juga mengkritik sejumlah
kebijakan ekonomi dan fiskal yang dinilainya minim empati sosial. Hal itu
terlihat mulai dari kenaikan beban pajak, penyesuaian tarif energi, hingga
pungutan baru yang menekan kelas menengah.
“Pertumbuhan ekonomi selalu dijadikan
alasan, tetapi pertanyaannya sederhana, yaitu pertumbuhan itu untuk siapa? Jika
indikator makro naik, tetapi meja makan rakyat makin kosong, maka politik telah
kehilangan nurani,” tegasnya.
5 Masalah Fundamental
Demokrasi
Dalam catatannya, Jeirry
mengidentifikasi lima persoalan utama yang melemahkan demokrasi Indonesia
sepanjang 2025, yakni menguatnya sentralisme eksekutif, hukum sebagai alat
barter politik, politik populisme berlebihan, dinasti politik dan nepotisme,
serta matinya ruang publik yang sehat.
“DPR yang seharusnya menjadi penyeimbang
justru lebih sering berperan sebagai stempel kebijakan eksekutif,” kata dia.
Jeirry juga menyoroti penggunaan hukum
yang dinilai selektif. Penegakan hukum terlihat tegas kepada kelompok kritis,
tetapi cenderung kompromistis ketika menyentuh lingkar kekuasaan. “Hukum tidak
lagi menjadi panglima, melainkan alat penjinak lawan politik,” ujarnya.
Dinasti Politik
dan Buzzer Digital
Fenomena dinasti politik dan nepotisme,
menurut Jeirry, semakin dinormalisasi sepanjang 2025. Jabatan publik kerap
diisi melalui relasi kekerabatan, bukan proses meritokrasi.
“Negara seperti dikelola layaknya
perusahaan keluarga. Dampaknya jelas, birokrasi menjadi tidak profesional dan
korupsi berpotensi dilakukan secara kolektif,” kata Jeirry.
Pada sisi lain, ruang publik dinilai
semakin bising oleh narasi buatan buzzer digital, yang
menenggelamkan kritik substantif dari akademisi, mahasiswa, dan masyarakat
sipil. “Kebenaran objektif dikalahkan oleh persepsi yang dimanipulasi secara
sistematis,” ujarnya.
Prediksi Politik 2026
Menghadapi 2026, Jeirry memprediksi
dinamika politik nasional akan memasuki titik jenuh. Ia memperkirakan potensi
retaknya koalisi besar, meningkatnya protes akar rumput, hingga menguatnya
sentimen antidinasti. “Jika saluran formal aspirasi buntu, rakyat akan mencari
jalannya sendiri. Isunya bukan lagi abstrak, melainkan persoalan perut,”
jelasnya.
Ia juga menilai Mahkamah Konstitusi akan
menjadi arena krusial pada 2026 melalui uji materi sejumlah undang-undang
kontroversial yang disahkan pada 2025. “Integritas MK akan diuji, apakah
berpihak pada konstitusi atau tunduk pada kepentingan oligarki,” pungkas
Jeirry.
Jeirry menegaskan, tanpa koreksi serius
pada 2026, demokrasi Indonesia berisiko semakin menjauh dari cita-cita
reformasi dan kedaulatan rakyat.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar