Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Trump Diujung Tanduk

 

Trump Diujung Tanduk
Presiden Donald Trump berpidato di Kongres AS di Capitol di Washington. @AP/AP

MAJALAHJURNALIS.Com (Washington DC) - Perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki pekan ketiga. Namun hingga kini, Kongres Amerika Serikat (AS) belum secara terbuka menguji alasan yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait konflik tersebut.
 
Anggota Partai Republik di Kongres sejauh ini cenderung menghindari perdebatan publik mengenai perang itu. Kondisi tersebut terjadi meskipun senator dari Partai Demokrat berupaya menggunakan berbagai mekanisme parlemen untuk menuntut digelarnya sidang dengar pendapat dengan pejabat pemerintahan Trump.
 
Karena semakin frustrasi, Demokrat bahkan mengancam akan memaksa digelarnya serangkaian pemungutan suara terkait perang tersebut dalam pekan ini untuk menekan Partai Republik agar mengambil langkah.
 
“Kami sama sekali tidak memiliki pengawasan terhadap apa yang dilakukan eksekutif, sementara kita menghabiskan sekitar satu miliar dolar per hari. Kami juga gagal melakukan debat atau diskusi substantif mengenai hal ini,” kata Senator Partai Demokrat Cory Booker dari New Jersey dilansir dari AP, Senin (16/3/2026).
 
Peran Kongres dalam proses pengambilan keputusan terkait konflik ini menjadi perdebatan besar. Padahal para legislator sebenarnya memiliki kewenangan untuk memengaruhi arah perang tersebut.
 
Hingga saat ini setidaknya 13 anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dan miliaran dolar telah dikeluarkan untuk operasi militer. Presiden Trump juga belum meminta persetujuan Kongres sebelum melancarkan serangan terhadap Iran.
 
Pada hari ke-17 konflik yang jatuh pada Senin (16/3/2026), anggota parlemen dari Partai Republik masih terlihat enggan mendukung gagasan untuk segera menggelar kesaksian publik di Kongres.
 


Sikap Pimpinan Partai Republik
 
Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mengatakan tidak memperkirakan akan ada sidang khusus yang membahas perang Iran dalam waktu dekat. Meski demikian, menurutnya isu tersebut kemungkinan muncul dalam sidang rutin terkait kebijakan militer dan anggaran pertahanan.
 
“Mereka sudah memberikan penjelasan kepada kami,” kata Thune yang merujuk pada sesi pengarahan tertutup yang diberikan pemerintahan Trump kepada anggota Kongres, seperti dilansir AP.
 
Ia juga menyinggung konferensi pers rutin dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine yang dinilai telah menjawab berbagai pertanyaan publik.
 
Sejumlah ketua komite di Senat yang menangani isu keamanan nasional juga menyatakan belum memiliki rencana segera menggelar sidang khusus terkait konflik tersebut.
 
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker mengatakan pengawasan tetap akan dilakukan melalui sidang-sidang rutin di Capitol Hill.
 
“Kami akan melakukan pengawasan yang luas dan menyeluruh,” ujar Wicker.
 
Beberapa anggota Partai Republik juga mulai bersiap menghadapi kemungkinan permintaan tambahan anggaran dari pemerintahan Trump untuk membiayai operasi militer tersebut.


Kegelisahan Partai Republik
 
Meski sebagian besar Partai Republik mendukung keputusan Trump menyerang Iran, beberapa di antaranya mulai menunjukkan kegelisahan terhadap minimnya penjelasan dari pejabat tinggi pemerintahan.
 
Senator dari Alaska Lisa Murkowski mengatakan ia tidak ingin hanya menerima tagihan biaya perang dari departemen pertahanan tanpa pembahasan lebih lanjut dengan Kongres.
 
“Saya tidak ingin hanya diberi tagihan dari departemen pertahanan yang menyatakan berapa biaya yang harus dibayar. Saya ingin mereka terlibat langsung bersama kami,” ujarnya.
 
Senator Republik lainnya, John Kennedy dari Louisiana menyebut sesi pengarahan tertutup yang digelar pekan lalu sebagai pemborosan waktu.
 
Meski demikian sebagian besar anggota Partai Republik tetap mendukung keputusan Trump melancarkan serangan terhadap Iran, walaupun muncul kekhawatiran konflik dapat berlangsung lebih lama.
 
Trump sendiri beberapa kali menyampaikan tujuan perang yang berbeda-beda, mulai dari melemahkan kemampuan militer Iran hingga menuntut penyerahan tanpa syarat.
 
Demokrat Siap Paksa Voting
 
Pada sisi lain, Partai Demokrat bertekad menggunakan berbagai cara untuk mendorong pembahasan publik mengenai konflik tersebut.
 
Sekelompok enam senator Demokrat menyatakan jika tidak dijadwalkan sidang dengar pendapat dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta pejabat kabinet lainnya, mereka akan memaksa pemungutan suara terkait resolusi kewenangan perang.
 
Jika resolusi tersebut disahkan, Presiden Trump harus memperoleh persetujuan Kongres sebelum melancarkan serangan tambahan terhadap Iran.
 
Meski kemungkinan resolusi tersebut kecil untuk disetujui karena Kongres saat ini dikuasai Partai Republik, langkah itu tetap berpotensi memicu perdebatan publik yang lebih luas mengenai konflik tersebut.
 
Senator Demokrat Chris Murphy menegaskan partainya tidak akan membiarkan isu perang Iran diabaikan oleh Kongres.
 
“Kami tidak akan membiarkan Senat melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Kami tidak akan membiarkan Senat dibungkam,” tegasnya.
 
Diketahui, konflik dengan Iran juga memunculkan perbedaan sikap di internal basis pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA). Sebagian kelompok mendukung langkah militer terhadap Teheran, namun tidak sedikit pula yang menentangnya karena dianggap bertolak belakang dengan janji Donald Trump untuk menghindari keterlibatan Amerika Serikat dalam perang baru.
 
Walau menuai kritik dari sejumlah figur konservatif, Trump tetap menyatakan optimistis para pendukung utamanya akan terus berdiri di belakangnya dalam menghadapi situasi tersebut.
 
Di tengah dinamika politik yang berkembang, sejumlah pengamat menilai situasi ini bisa menjadi peluang bagi Partai Demokrat untuk meraih keuntungan politik pada pemilihan paruh waktu mendatang, terutama jika dampak ekonomi dari konflik tersebut semakin dirasakan oleh masyarakat.
Sumber : Beritasatu.com


Posting Komentar

0 Komentar