Belum selesai
perang dengan Iran, AS mulai operasi militer di Ekuador.@AFP/RODRIGO BUENDIA
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Pemerintah Amerika
Serikat memulai kerja sama operasi militer dengan Ekuador, untuk memerangi
"teroris" di negara Amerika Selatan tersebut.
Pada Rabu (4/5/2026), Komando Selatan
AS yang mengawasi operasi di Amerika Tengah dan Selatan, mengumumkan bahwa
sebuah upaya bersama telah dimulai di Ekuador.
"Pada tanggal 3 Maret, pasukan
militer Ekuador dan AS melancarkan operasi terhadap Organisasi Teroris yang
Ditunjuk di Ekuador," kata Jenderal Francis Donovan.
"Operasi ini merupakan contoh
kuat dari komitmen para mitra di Amerika Latin dan Karibia untuk memerangi
momok narkoterorisme," imbuhnya, dikutip Al Jazeera.
Kerja sama militer ini disebut menjadi
bagian dari dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap jaringan
kriminal dan kartel narkoba di Amerika Latin.
Lingkup operasi pasukan AS di Ekuador
belum diketahui. Namun beberapa media menyebut sejauh ini operasi tersebut
terbatas pada dukungan pasukan Ekuador lewat logistik dan sumber intelijen.
"Bersama-sama, kita mengambil
tindakan tegas untuk menghadapi teroris narkoba yang telah lama menebar teror,
kekerasan, dan korupsi kepada warga di seluruh belahan bumi," kata
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Sejak menjabat untuk masa jabatan
kedua sebagai Presiden AS, Trump mengeklaim telah memerangi narkoba dengan
menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa narkoba menuju AS.
Setidaknya 44 serangan udara telah
dilakukan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dan
kapal-kapal maritim lainnya di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Akibatnya tercatat sekitar 150 orang
tewas dan belum ada dakwaan yang diumumkan ke publik.
Pemerintahan Trump juga melancarkan
aksi militer di wilayah Venezuela, pertama pada akhir Desember dan kedua pada 3
Januari. Serangan kedua AS berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas
Maduro.
Operasi militer terbaru AS di Ekuador
juga dilakukan saat Washington bekerja sama dengan Israel membombardir Iran
sejak akhir Februari lalu.
Serangan itu terjadi saat negosiasi
nuklir tahap tiga antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan.
AS dan Israel menyerang Iran dengan
dalih sebagai serangan pendahuluan. Imbas serangan itu, Iran juga membalas
dengan menargetkan aset-aset yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk,
hingga penutupan jalur perairan di Selat Hormuz.
Sumber : CNN
Indonesia
0 Komentar