MAJALAHJURNALIS.Com (Maros)
–Pembangunan Masjid Batak Dalihan Na Tolu di Maros,
Sulawesi Selatan (Sulsel) masih memerlukan bantuan dana Sebagai wujud pemersatu warga Sumatera
Utara khususnya suku Batak, di Sulawesi Selatan, saat ini tengah dibangun
sebuah masjid bernuansa etnis Batak pertama di Sulawesi yang terletak di Dusun
Mangempang, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulsel. Masjid ini diharapkan menjadi simbol
akulturasi budaya dan inklusivitas, serta sekretariat permanen utamanya etnis
Batak Dalihan Na Tolu yang menjadi symbol sistem kekerabatan sebagai pilar
utama pemersatu.
Dr Haidir Fitra Siagian, S.Sos, M.Si,
Ph.D salah satu pengurus masjid saat ditemui, Jumat (19/6/2026) mengungkapkan kondisi masjid yang pertama kali
diresmikan Bupati Maros Dr. HAS. Chaidir Syam, SIP., MH, Sabtu 26 Juli 2025
tahun lalu sudah mencapai 70 persen. “Alhamdulillah, saat ini progres
fisiktarget pengerjaan pembangunan
keseluruhan masjid sudah mencapai 70 persen. Sehingga fokus utama saat ini
adalah menyelesaikan plesteran dinding seluas 1.789 meter persegi”, ungkap
Haidir yang memproyeksikan pelesteran ini rampung dalam beberapa bulan ke
depan. Wakil Ketua di Lembaga Pengembangan
Pesantren (LP2) PW MuhammadiyahSulsel
itu juga meng-update pendanaan plesteran.
“Hingga saat ini, panitia telah
berhasil mengumpulkan sekitar 60 Persen dana dari total kebutuhan untuk sektor
plesteran dinding. Program yang ditawarkan kepada publik adalah 1 Orang, 1
Meter Plesteran dengan nilai donasi yang sangat terjangkau, yaitu Rp40.000 per
meter”, harap Haidirang juga salah satu Dosen di Universitas Islam Alauddin
(UINAM) Makassar. Mengingat sisa kebutuhan dana
plesteran yang masih harus dipenuhi, panitia, sambung Haidir, maka sangat
diharapkan partisipasi aktif dan uluran tangan dari umat Islam lainnya,
khususnya warga Batak. “Setiap donasi diharapkan menjadi
investasi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi para dermawan selama
masjid digunakan untuk ibadah dan kegiatan kebaikan”, tambahnya.
Selain itu, dirinya juga menegaskan
jika masjid ini terbuka luas untuk seluruh umat Islam dari latar belakang suku
mana pun, bukan hanya eksklusif untuk orang Batak. “Sematan nama ‘Batak’ murni hanya
sebagai identitas kultural dari pihak pengelola/perintis, sedangkan fungsi dan
pemanfaatan masjid sepenuhnya milik publik (kaum muslimin)”, katanya.
Disisi lain mewakili panitia, Haidir
Fitrah menyampaikan rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya atas
dukungan dari instansi dan lembaga yang telah membantu masjid ini berdiri di antaranya
pemerintah kabupaten Maros, Bulog Peduli dan Yayasan Haji Kalla. “Apresiasi tinggi juga disampaikan
kepada seluruh donatur perorangan, termasuk kepedulian dari keluarga diaspora
Batak yang tinggal di Singapura yang telah mengirimkan bantuannya. Dan seluruh
warga Batak, kami mengucapkan banyak terima kasih”, tandasnya. (rel/TN)
0 Komentar