Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dampak Rupiah Melemah, Penjual Nasi Uduk Pun Ikut Lesu

 

Pedagang Nasi Uduk @Beritasatu.com/Budiman.

MAJALAHJURNALIS.Com (Lebak) – Pelemahan nilai tukar rupiah yang diikuti kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok mulai menunjukkan dampak nyata hingga ke lapisan ekonomi paling bawah.
 
Tekanan ekonomi tidak lagi hanya dirasakan sektor industri atau pelaku usaha berskala besar, tetapi juga menyasar pedagang keliling yang menggantungkan hidup dari keuntungan harian yang sangat tipis.
 
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana gejolak ekonomi makro merembet hingga ke sektor usaha mikro yang selama ini menjadi penopang perekonomian masyarakat. Kenaikan harga minyak goreng, bahan pangan, hingga perlengkapan kemasan membuat pedagang kecil berada dalam posisi sulit karena harus memilih antara menaikkan harga atau mempertahankan pelanggan.
 
Kondisi itu dialami Dini (37), pedagang nasi uduk dan aneka gorengan keliling asal Kampung Turus, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten. Setiap pagi ia berjalan kaki berkeliling ke sejumlah kampung menjajakan nasi uduk, risol ayam, cilok, dan berbagai gorengan sebagai sumber penghasilan utama keluarganya.
 
Namun, dalam beberapa bulan terakhir hampir seluruh komponen biaya produksi mengalami kenaikan.
 
"Parah sekarang, Pak. Harga minyak naik. Dahulu Rp 20.000, sekarang Rp 24.000. Kacang yang biasanya saya beli Rp 6.500, sekarang sudah Rp 10.500. Kertas nasi yang tadinya Rp 5.000 sekarang Rp 8.500. Plastik juga dari Rp 4.500 jadi Rp 8.500," ujar Dini kepada Beritasatu.com, Sabtu (11/7/2026).
 
Dini mengaku setiap hari berjualan di wilayah Bojong Suminta, Cipasung, Tengga, hingga Cakung. Namun, kenaikan biaya produksi tidak diikuti peningkatan daya beli masyarakat. Menurutnya, sebagian besar pembeli kini hanya mampu membeli jajanan dengan nilai sekitar Rp 1.000.
 
"Kalau misalkan dikecilin juga enggak akan laku. Ini aja masih banyak yang tersisa. Dijual Rp 5.000 dapat empat biji saja masih banyak yang nawar, pengennya Rp 1.000-an aja. Aduh, pusing saya," tuturnya.



Situasi tersebut menggambarkan terjadinya tekanan ganda terhadap pelaku usaha mikro. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat akibat kenaikan harga bahan baku. Di sisi lain, kemampuan belanja masyarakat justru melemah sehingga ruang untuk menaikkan harga jual nyaris tidak ada.
 
"Saya bingung. Dagangan masih banyak, tetapi orang-orang pengennya beli Rp 1.000-an saja. Kalau ukuran dikurangi juga enggak akan laku," katanya.
 
Minyak goreng menjadi salah satu beban terbesar dalam biaya produksi. Setiap hari Dini membutuhkan tiga liter minyak goreng untuk mengolah dagangannya. Selain itu, harga tepung, kacang tanah, plastik pembungkus, hingga kertas nasi juga terus mengalami kenaikan dalam waktu relatif singkat.
 
Akibatnya, margin keuntungan yang sebelumnya masih dapat disisihkan untuk tabungan kini hampir habis hanya untuk menutup modal dan biaya operasional.
 
"Kalau dahulu saya masih bisa simpen uang Rp 100.000 sehari. Tetapi sekarang mau Rp 25.000 saja belum tentu bisa disimpan. Sekarang tabung gas juga harus beli terus. Kalau semua habis, enggak ada yang tersisa," ujarnya.
 
Dini berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok agar pelaku usaha mikro dapat kembali menjalankan usahanya secara lebih layak.
 
"Harapan saya harga minyak sama sembako turun lagi, normal seperti dahulu. Supaya rakyat kecil kayak kami bisa jualan lagi dengan tenang," katanya.
 
Apa yang dialami Dini menunjukkan pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan bukan sekadar persoalan indikator ekonomi nasional, tetapi telah berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha mikro. Ketergantungan pada bahan baku yang harganya terus meningkat membuat pedagang kecil menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan inflasi.
 
Berbeda dengan pelaku usaha bermodal besar yang masih memiliki ruang efisiensi dan cadangan keuangan, pedagang keliling hidup dari perputaran uang harian. Ketika biaya produksi naik sementara daya beli masyarakat melemah, keuntungan yang tersisa semakin tipis bahkan berpotensi habis untuk menutup biaya operasional.
 
Kondisi pedagang kecil di Kabupaten Lebak menjadi potret bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak hanya diukur dari pergerakan nilai tukar atau inflasi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat kecil mempertahankan mata pencahariannya di tengah tekanan harga yang terus meningkat.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar