MAJALAHJURNALIS.Com
- Hipertensi sering disebut sebagai “Silent
Killer” karena gejalanya sering kali tidak timbul, namun dampaknya bisa sangat
berbahaya apabila dibiarkan saja tanpa penanganan yang tepat, seperti
meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan penyakit ginjal. Salah
satu upaya untuk mencegah hipertensi serta komplikasinya adalah dengan
memperhatikan asupan garam. Simak lebih lanjut mengenai anjuran asupan garam
untuk penderita hipertensi di bawah ini. Anjuran Garam untuk
Penderita Hipertensi Garam
adalah bahan dapur yang lumrah dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga
hampir selalu ada dalam setiap makanan yang dikonsumsi. Namun,
perlu diketahui bahwa mengonsumsi garam terlalu banyak bisa meningkatkan risiko
terjadinya penyakit hipertensi. Pasalnya,
konsumsi garam secara berlebih dapat meningkatkan jumlah natrium dalam sel yang
bisa mengganggu keseimbangan cairan. Masuknya
cairan ke dalam sel akan membuat diameter pembuluh darah arteri mengecil
sehingga jantung harus memompa darah lebih kuat yang berakibat pada
meningkatnya tekanan darah. Oleh karena itu, penderita tekanan darah tinggi
disarankan untuk membatasi asupan garam. Menurut
Kementerian Kesehatan, asupan natrium harian yang dianjurkan untuk penderita
hipertensi sebaiknya tidak melebihi 1,5 gram atau setara dengan 3,5-4 gram
garam dapur per-hari. Sementara
itu, bagi individu tanpa hipertensi, asupan natrium sebaiknya dibatasi hingga
maksimal 2 gram per hari atau setara dengan 5 gram (sekitar satu sendok teh
kecil) garam dapur. Meskipun
tidak semua penderita hipertensi sensitif terhadap natrium, pembatasan asupan
natrium terbukti membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit
kardioserebrovaskular.
Hubungan Garam dan
Hipertensi Konsumsi
garam berlebih diketahui dapat meningkatkan risiko hipertensi atau memperparah
tekanan darah tinggi. Sebaliknya, pengurangan asupan natrium/garam dapat
membantu menurunkan tekanan darah. Berikut
adalah uraian selengkapnya mengenai hubungan garam dengan kejadian hipertensi:
Retensi air: Asupan garam yang
tinggi dapat menyebabkan tubuh menahan lebih banyak air. Akibatnya, volume
darah yang beredar atau bersirkulasi meningkat, aliran darah dari jantung
bertambah, dan tekanan perfusi ginjal meningkat. Jika kemampuan ginjal dalam
mengeluarkan natrium terganggu, hipertensi bisa terjadi.
Perubahan pada
pembuluh darah:
Konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan penyempitan diameter pembuluh
darah arteri dan memaksa jantung untuk memompa darah lebih keras melalui ruang
pembuluh darah yang lebih sempit sehingga meningkatkan tekanan darah.
Disfungsi endotel: Asupan garam yang
tinggi diketahui dapat menyebabkan penurunan tajam pada oksida nitrat endotel
yang bertanggung jawab dalam melebarkan atau merilekskan pembuluh darah.
Penurunan ini bisa menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah
(hipertensi).
Perubahan struktur
dan fungsi arteri elastis besar: Asupan garam yang tinggi dapat memengaruhi
sifat pembuluh darah arteri elastis besar, yang mengakibatkan terjadinya
peningkatan kekakuan pembuluh darah.
Memengaruhi modulasi
pada suplai saraf otonom dan aktivitas simpatis sistem kardiovaskular. Hal ini dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Makanan Tinggi Garam
yang Perlu Dibatasi Penderita Hipertensi Membatasi
asupan garam bisa dilakukan dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi garam.
Beberapa jenis makanan tersebut, di antaranya: 1. Daging Olahan Daging
olahan, seperti bacon, sosis, ham, roti isi sosis, dan olahan daging lainnya
termasuk dalam jenis makanan yang memiliki kandungan garam yang tinggi serta
lemak jenuh. Mengonsumsi olahan daging yang mengandung tinggi garam berkaitan
dengan meningkatnya risiko hipertensi. Karena itu, konsumsi jenis makanan ini
perlu dibatasi. 2. Roti Roti
memang tidak mengandung garam sebanyak beberapa jenis makanan lainnya. Namun,
jika sering mengonsumsinya secara berlebihan, jumlah garam yang masuk ke dalam
tubuh dapat bertambah. Bila ingin mengonsumsinya, pilihlah roti yang paling
rendah garam. Atau, bisa juga mengganti roti dengan bubur oat. 3. Hidangan Pasta dan
Nasi Pada
dasarnya, bukan pasta atau nasi yang menjadi satu-satunya penyebab masalah,
melainkan bahan-bahan masakan lainya yang sering kali ditambahkan ke dalamnya,
seperti misalnya daging olahan atau kecap asin. Namun, dengan memasak hidangan
sendiri, jumlah garam serta bahan-bahan tinggi natrium lainnya bisa dibatasi
penggunaannya. 4. Saus Gurih, Acar,
Kaldu, dan Bumbu-Bumbu Pelengkap Tambahan
sedikit dari bahan-bahan masakan seperti saus tomat, acar, kaldu, atau
bumbu-bumbu pelengkap masakan lainnya ke dalam makanan mungkin terlihat sepele,
tetapi bahan-bahan ini bisa menyumbang banyak garam ke dalam makanan. Sayuran
acar, seperti mentimun kecil (gherkin) dan bawang acar memiliki kadar garam
yang bervariasi, jadi periksa label dan pilih yang paling rendah garam. 5. Keju Cheddar Cheddar
menyumbang lebih dari setengah jumlah garam yang biasanya didapatkan dari keju.
Pasalnya, jenis keju ini paling sering dikonsumsi oleh masyarakat. Meski
begitu, keju tetap mengandung nutrisi sehat, seperti kalsium dan protein,
sehingga tidak perlu dihindari sepenuhnya. Hanya saja, batasi konsumsinya agar
tidak berlebihan. AHA merekomendasikan untuk membatasi porsi keju hingga 30
gram per hari. Sumber
:Siloam Hospitals
0 Komentar