MAJALAHJURNALIS.Com (Bengkulu
Kaur) - Proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di
Kabupaten Kaur telah selesai dikerjakan. Namun dibalik selesainya proyek
tersebut, masih menyisakan duka dan tanda-tanya besar terkait meninggalnya
salah seorang pekerja akibat runtuhnya crane beberapa bulan lalu. Tragedi itu terjadi pada kisaran April
2026, atau sekitar 4 bulan lalu. Peristiwa runtuhnya crane dalam proyek
pembangunan Sekolah Rakyat tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga
memunculkan dugaan kuat adanya arogansi dan kelalaian serius dari pihak
kontraktor pelaksana. Forum Aktivis Bengkulu Bersatu
mendesak pihak Kepolisian Kaur untuk mengusut tuntas permasalahan ini. Menurut
mereka, publik berhak mengetahui penyebab pasti insiden tersebut dan siapa yang
harus bertanggung jawab.
Dugaan kelalaian teknis dalam
pengoperasian alat berat semakin menguat. Hal ini seiring minimnya transparansi
terkait standar operasional di lapangan selama pengerjaan proyek. Sementara
pihak kontraktor yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas keselamatan
tenaga kerjanya, hingga kini belum menunjukkan itikad baik maupun membuat
pernyataan resmi. "Kasus ini harus dibuka
seterang-terangnya, jangan sampai terkesan ada yang ditutup-tutupi," tegas
Amli, anggota Forum Aktivis Bengkulu Bersatu.
Publik kini mendesak aparat penegak
hukum dan instansi terkait untuk segera melakukan audit total terhadap
pelaksanaan proyek Sekolah Rakyat tersebut. Audit diharapkan mencakup
penelusuran potensi pelanggaran SOP dan tanggung jawab hukum kontraktor. Jika
terbukti lalai, publik menuntut sanksi tegas baik administratif maupun pidana
agar kejadian serupa tidak terulang. Hingga berita ini diterbitkan, pihak
kontraktor masih bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi. Kondisi ini
memperkuat kesan lepas tangan atas tragedi 4 bulan lalu yang terjadi di proyek
Sekolah Rakyat Kabupaten Kaur. (red)
0 Komentar