*
Johani
Dewita Nasution¹, Cecep Triwibowo², Ida Suryani Hasibuan³
¹²³Jurusan Keperawatan, Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan

ABSTRACT
MAJALAHJURNALIS.Com
- Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO)
merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan
pengobatan jangka panjang serta dukungan keluarga secara berkelanjutan.
Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai TB RO, tingginya stigma, dan rendahnya
keterlibatan keluarga dalam proses perawatan dapat memengaruhi kepatuhan
pengobatan dan kualitas hidup penyintas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat
ini bertujuan meningkatkan pengetahuan keluarga penyintas TB RO dan kader
kesehatan melalui pendekatan keluarga berbasis budaya dalam mendukung
keberhasilan pengobatan serta meningkatkan kualitas hidup penyintas.
Metode yang digunakan meliputi
pendidikan kesehatan, pelatihan kader, diskusi interaktif, demonstrasi media
edukasi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Kegiatan
dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kabupaten Deli Serdang pada
tahun 2026 dengan melibatkan 30 keluarga penyintas TB RO dan 10 kader
kesehatan. Media edukasi yang digunakan berupa leaflet, booklet, dan buku saku
mengenai Tuberkulosis Resisten Obat.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya
peningkatan pengetahuan keluarga setelah edukasi, dengan nilai rata-rata
meningkat dari 69,83 menjadi 89,67 dan hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan
yang signifikan (p=0,000). Pengetahuan kader kesehatan juga meningkat dengan
nilai rata-rata dari 67,00 menjadi 93,00, dengan hasil uji Wilcoxon menunjukkan
perbedaan yang signifikan (p=0,005). Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi
selama kegiatan, serta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai TB RO,
kepatuhan pengobatan, pencegahan penularan, dan pentingnya dukungan keluarga
berbasis budaya.
Kegiatan pengabdian ini terbukti
efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga dan kader kesehatan mengenai
Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). Pendekatan keluarga berbasis budaya dapat
dijadikan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kepatuhan
pengobatan, mengurangi stigma, memperkuat dukungan keluarga, dan meningkatkan
kualitas hidup penyintas TB RO.
Kata kunci: Tuberkulosis
Resisten Obat, pendekatan keluarga berbasis budaya, pemberdayaan keluarga,
kader kesehatan, pengabdian kepada masyarakat
ABSTRACT
Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) remains a major public health
challenge requiring prolonged treatment and continuous family support. Limited
family knowledge, persistent social stigma, and inadequate family involvement
in patient care may reduce treatment adherence and negatively affect the
quality of life of DR-TB survivors. This community service program aimed to
improve the knowledge of families and community health volunteers through a
culture-based family approach to support treatment success and enhance the
quality of life of DR-TB survivors.
The program was implemented through health education, community health
volunteer training, interactive discussions, educational media demonstrations,
and knowledge evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The activity
was conducted in 2026 at the Mulyorejo Primary Health Center, Deli Serdang
Regency, involving 30 family members of DR-TB survivors and 10 community health
volunteers. Educational media included leaflets, booklets, and pocketbooks
concerning Drug-Resistant Tuberculosis.
The results demonstrated a significant improvement in family knowledge
after the educational intervention, with the mean score increasing from 69.83
to 89.67 (Wilcoxon test, p=0.000). Community health volunteers also showed a
significant increase in knowledge, with the mean score improving from 67.00 to
93.00 (Wilcoxon test, p=0.005). Participants actively engaged throughout the
program and demonstrated better understanding of DR-TB, treatment adherence,
transmission prevention, and the importance of culture-based family support.
This community service program was effective in improving the knowledge
of families and community health volunteers regarding Drug-Resistant
Tuberculosis. A culture-based family approach can serve as an effective
community empowerment strategy to strengthen family support, improve treatment
adherence, reduce stigma, and enhance the quality of life of DR-TB survivors.
Keywords: Drug-Resistant Tuberculosis, culture-based family approach, family
empowerment, community health volunteers, community service.
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi
prioritas masalah kesehatan masyarakat di dunia. Salah satu tantangan terbesar
dalam pengendalian TB adalah munculnya Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO),
yaitu kondisi ketika Mycobacterium tuberculosis telah mengalami
resistensi terhadap satu atau lebih obat antituberkulosis lini pertama. Pengobatan
TB RO memerlukan waktu yang lebih lama, umumnya 18–24 bulan, dengan efek
samping obat yang lebih berat dibandingkan TB sensitif obat. Kondisi tersebut
menyebabkan penderita berisiko mengalami ketidakpatuhan pengobatan, putus
berobat, serta penurunan kualitas hidup. Selain itu, stigma masyarakat terhadap
penderita TB RO masih cukup tinggi sehingga berdampak pada kondisi psikologis,
sosial, dan ekonomi penyintas.
Keberhasilan pengobatan TB RO tidak hanya ditentukan oleh terapi medis,
tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Keluarga memiliki peran penting
dalam mengingatkan kepatuhan minum obat, memberikan dukungan emosional,
membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta menciptakan lingkungan rumah
yang mendukung proses penyembuhan. Namun, masih banyak keluarga yang belum
memahami karakteristik TB RO, mekanisme penularan, pentingnya kepatuhan
pengobatan, maupun cara memberikan dukungan yang tepat kepada anggota keluarga
yang sedang menjalani terapi. Kondisi tersebut mengakibatkan rendahnya keterlibatan
keluarga dalam proses perawatan dan berpotensi menghambat keberhasilan
pengobatan.
Di samping itu, faktor budaya juga memengaruhi cara keluarga memandang
penyakit, mengambil keputusan kesehatan, serta memberikan perawatan kepada
anggota keluarga yang sakit. Nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang berkembang
di masyarakat dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat dalam
keberhasilan pengobatan TB RO. Oleh karena itu, pendekatan keluarga berbasis
budaya menjadi salah satu strategi yang relevan untuk meningkatkan penerimaan
keluarga terhadap penderita, mengurangi stigma, serta memperkuat dukungan
keluarga selama proses pengobatan.
Berdasarkan hasil identifikasi awal di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo
Kabupaten Deli Serdang, sebagian besar keluarga penyintas TB RO belum pernah
memperoleh edukasi secara khusus mengenai Tuberkulosis Resisten Obat.
Pengetahuan masyarakat masih terbatas pada TB sebagai penyakit menular,
sedangkan pemahaman mengenai TB RO, lamanya pengobatan, efek samping terapi,
pencegahan penularan, serta pentingnya dukungan keluarga masih relatif rendah.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kegiatan edukasi yang tidak hanya
meningkatkan pengetahuan keluarga, tetapi juga memberdayakan kader kesehatan
sebagai mitra dalam melakukan pendampingan kepada penyintas TB RO di
masyarakat.
Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, tim pengabdi melaksanakan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan kesehatan kepada
keluarga penyintas TB RO serta pelatihan kader kesehatan dengan menggunakan
pendekatan keluarga berbasis budaya. Kegiatan dilaksanakan melalui ceramah
interaktif, diskusi, demonstrasi media edukasi, serta penggunaan leaflet,
booklet, dan buku saku sebagai media pembelajaran. Pelibatan kader kesehatan
diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan program melalui kegiatan edukasi dan
pendampingan keluarga secara berkesinambungan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan
pengetahuan keluarga penyintas TB RO dan kader kesehatan mengenai Tuberkulosis
Resisten Obat, kepatuhan pengobatan, pencegahan penularan, serta penerapan
pendekatan keluarga berbasis budaya dalam mendukung peningkatan kualitas hidup
penyintas. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat peran keluarga
dan kader kesehatan sebagai mitra tenaga kesehatan dalam mendukung keberhasilan
pengobatan serta pengendalian TB RO di masyarakat.
METODE PENELITIAN
Desain dan Lokasi Penelitian
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif
partisipatif dengan desain one group pre-test–post-test untuk mengevaluasi
perubahan pengetahuan peserta setelah diberikan intervensi berupa pendidikan
kesehatan dan pelatihan kader. Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di wilayah
kerja Puskesmas Mulyorejo, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sebagai
bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM). Sasaran kegiatan meliputi
keluarga penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO), penyintas TB RO, dan
kader kesehatan yang berperan dalam pendampingan Masyarakat.
Partisipan dan Teknik Pengambilan Sampel
Peserta kegiatan terdiri atas 30
responden yang meliputi penyintas TB RO beserta anggota keluarganya, serta 10
kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo. Pemilihan peserta
dilakukan secara purposive berdasarkan kriteria, yaitu keluarga yang memiliki
anggota keluarga penyintas TB RO, bersedia mengikuti seluruh rangkaian
kegiatan, dan menandatangani lembar persetujuan mengikuti kegiatan. Kader
kesehatan yang dilibatkan merupakan kader aktif yang bertugas di wilayah kerja
puskesmas dan bersedia mengikuti pelatihan hingga selesai.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini berupa kuesioner pengetahuan
yang diberikan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pelaksanaan edukasi.
Kuesioner disusun untuk mengukur pemahaman peserta mengenai Tuberkulosis
Resisten Obat (TB RO), mekanisme penularan, kepatuhan pengobatan, pencegahan
penularan, peran keluarga, dan pendekatan keluarga berbasis budaya dalam
meningkatkan kualitas hidup penyintas. Media edukasi yang digunakan meliputi
leaflet, booklet, dan buku saku yang dikembangkan oleh tim pengabdi sebagai
sarana penyampaian informasi kesehatan.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama Puskesmas
Mulyorejo dan pemerintah setempat untuk menentukan sasaran, jadwal, serta
teknis pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya peserta melakukan registrasi dan
mengisi lembar persetujuan mengikuti kegiatan. Sebelum penyampaian materi,
seluruh peserta mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal
mengenai TB RO.
Intervensi dilaksanakan melalui pendidikan kesehatan menggunakan metode
ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi media edukasi. Materi
yang disampaikan meliputi konsep dasar TB RO, cara penularan, kepatuhan pengobatan,
efek samping obat, pencegahan penularan, pentingnya dukungan keluarga, serta
penerapan pendekatan keluarga berbasis budaya dalam mendukung keberhasilan
terapi. Selain itu, dilakukan pelatihan kepada kader kesehatan mengenai teknik
edukasi masyarakat, pendampingan keluarga, komunikasi efektif, serta pemantauan
kepatuhan pengobatan penderita TB RO. Setelah seluruh rangkaian kegiatan
selesai, peserta kembali mengisi post-test menggunakan instrumen yang sama
untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan.
Analisis Data
Data karakteristik peserta dianalisis secara deskriptif dan disajikan
dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata, nilai minimum,
dan nilai maksimum. Perbedaan tingkat pengetahuan keluarga dan kader kesehatan
sebelum dan sesudah intervensi dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test
dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil analisis digunakan untuk menilai
efektivitas pendidikan kesehatan dan pelatihan kader dalam meningkatkan
pengetahuan mengenai Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) serta penerapan
pendekatan keluarga berbasis budaya dalam mendukung kualitas hidup penyintas
Persetujuan Etik
Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik
Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Medan. Seluruh responden telah
memberikan persetujuan tertulis (informed consent) sebelum penelitian
dilaksanakan.
HASIL
Karakteristik Responden
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 30 responden yang
terdiri atas penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) dan anggota
keluarganya, serta 10 kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo
Kabupaten Deli Serdang. Karakteristik responden disajikan pada Tabel 1.
Tabel
1 Karakteristik Responden Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Wilayah Kerja
Puskesmas Mulyorejo Kabupaten Deli Serdang Tahun 2026
|
No |
Varibel |
Jumlah (%) |
|
1 |
Umur -
20-35 tahun -
36-45 tahun -
>45 tahun |
9 (30.0) 11 (36.7.7) 10 (33.3) |
|
2 |
Pendidikan -
SD -
SMP -
SMA -
Perguruan
Tinggi |
7 (23.3) 8 (26.7) 12 (40.0) 3 (10.0) |
|
3 |
Pekerjaan -
Ibu Rumah
Tangga -
Wiraswasta -
Petani -
Pegawai |
15 (50.0) 8 (26.7) 4 (13.3) 3 (10.0) |
|
4 |
Hubungan
dengan Penderita -
Penderita TB RO -
Suami/Istri -
Anak -
Orang tua/Keluarga lain |
8 (26.7) 10 (33.3) 5(16.7) 7 (23.3) |
|
5 |
Lama
Pengobatan TB RO -
< 6 Bulan -
6 – 12 Bulan
-
> 12
Bulan |
9 (30.0) 13 (43.3) 8 (26.7) |
Karakteristik responden menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada
pada kelompok usia 36–45 tahun (36,7%), berpendidikan SMA (40,0%), dan bekerja
sebagai ibu rumah tangga (50,0%). Berdasarkan hubungan dengan penderita,
mayoritas merupakan suami atau istri penderita TB RO (33,3%), sedangkan
berdasarkan lama pengobatan sebagian besar penyintas telah menjalani terapi
selama 6–12 bulan (43,3%). Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa peserta
merupakan anggota keluarga yang berperan langsung dalam mendampingi penderita
selama menjalani pengobatan sehingga memiliki peran strategis dalam
keberhasilan terapi TB RO.
Temuan ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan komponen utama dalam
proses pendampingan penderita TB RO. Keterlibatan anggota keluarga yang tinggal
serumah sangat menentukan keberhasilan pengobatan karena keluarga berperan
dalam mengingatkan jadwal minum obat, memberikan dukungan emosional, membantu
memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta menciptakan lingkungan yang mendukung
proses penyembuhan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas keluarga melalui
edukasi kesehatan menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan
kualitas hidup penyintas TB RO
Peningkatan Pengetahuan Keluarga Penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB
RO)
Efektivitas pendidikan kesehatan dievaluasi melalui pengukuran
pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner pre-test dan
post-test. Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Edukasi
|
Kegiatan |
Variabel |
Jumlah (%) |
Nilai
Rata-rata |
Minimum |
Maksimum |
|
Pre Test |
-
Baik |
11 (36.7) |
69.83 |
30 |
90 |
|
|
-
Kurang |
19 (63.3) |
|
|
|
|
Post Test |
-
Baik |
27 (90.0) |
89.67 |
60 |
100 |
|
|
-
Kurang |
3 (10.0) |
|
|
|
Untuk mengetahui efektivitas intervensi pendidikan kesehatan dilakukan analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis disajikan pada Tabel 3.
|
Ranks |
||||
|
|
N |
Mean Rank |
Sum of Ranks |
|
|
Post test pengetahuan - pre test pengetahuan |
Negative Ranks |
1a |
8.00 |
8.00 |
|
Positive Ranks |
24b |
13.50 |
324.00 |
|
|
Ties |
5c |
|
|
|
|
Total |
30 |
|
|
|
|
P value |
|
0.00 |
|
|
Selain memberikan edukasi kepada keluarga penyintas TB RO, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga dilaksanakan melalui pelatihan kader kesehatan. Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam memberikan edukasi, melakukan pendampingan keluarga, serta mendukung keberhasilan pengobatan penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). Materi yang diberikan meliputi konsep dasar TB RO, mekanisme penularan, kepatuhan pengobatan, deteksi efek samping obat, komunikasi efektif, serta pendekatan keluarga berbasis budaya. Hasil pengukuran pengetahuan kader sebelum dan sesudah pelatihan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengetahuan Kader Sebelum dan Sesudah Pelatihan
|
Kegiatan |
Variabel |
Jumlah (%) |
Nilai
Rata-rata |
Minimum |
Maksimum |
|
Pre Test |
-
Baik |
4 (40) |
67.00 |
40 |
90 |
|
|
-
Kurang |
6 (60) |
|
|
|
|
Post Test |
-
Baik |
10 (100) |
93.00 |
80 |
100 |
|
|
-
Kurang |
0 (0) |
|
|
|
Peningkatan pengetahuan kader menunjukkan bahwa proses pelatihan yang dikombinasikan dengan ceramah, diskusi, dan demonstrasi media edukasi mampu meningkatkan kompetensi kader sebagai mitra tenaga kesehatan. Kader yang memiliki pengetahuan yang baik diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, melakukan pemantauan kepatuhan pengobatan, serta membantu mengurangi stigma terhadap penyintas TB RO di lingkungan masyarakat.
Efektivitas pelatihan kader dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil analisis disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Pengetahuan Kader Sebelum dan Sesudah Pelatihan
|
Ranks |
||||
|
|
N |
Mean Rank |
Sum of Ranks |
|
|
Post test pengetahuan - Pre test pengetahuan |
Negative Ranks |
0a |
.00 |
.00 |
|
Positive Ranks |
10b |
5.50 |
55.00 |
|
|
Ties |
0c |
|
|
|
|
Total |
10 |
|
|
|
|
P value |
|
0.005 |
|
|
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa pendekatan keluarga berbasis budaya melalui pendidikan kesehatan dan pelatihan kader kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga maupun kader mengenai Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). Peningkatan tersebut terlihat dari hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna setelah intervensi. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi yang disampaikan secara partisipatif dengan memanfaatkan media leaflet, booklet, dan buku saku mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep TB RO, mekanisme penularan, kepatuhan pengobatan, pencegahan penularan, serta pentingnya dukungan keluarga dalam proses penyembuhan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan kesehatan dan pelatihan kader kesehatan dengan pendekatan keluarga berbasis budaya terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) dan kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kabupaten Deli Serdang. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan keluarga dari 69,83 menjadi 89,67 dengan hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang bermakna (p = 0,000). Selain itu, pengetahuan kader kesehatan juga meningkat dari nilai rata-rata 67,00 menjadi 93,00 dengan hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,005).
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Medan yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM). Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Puskesmas Mulyorejo Kabupaten Deli Serdang, pemerintah setempat, kader kesehatan, keluarga penyintas Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO), serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terlaksananya kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan baik
1. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2023. Vol. t/malaria/, January. 2023.





0 Komentar