Menkominfo
Johnny G Plate. ©2023 Merdeka.com
MAJALAHJURNALIS.Com
(Jakarta)
- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate ditetapkan
menjadi tersangka dugaan kasus korupsi BTS
4G. Mantan Sekjen Partai NasDem itu pun langsung dijebloskan ke penjara.
Ditahannya
Plate tentu saja memunculkan isu reshuffle kabinet. Namun, NasDem bakal tetap
diberi jatah pergantian menteri atau justru didepak dari koalisi pemerintahan.
Kemungkinan
didepak bisa saja terjadi, mengingat NasDem berkoalisi dengan oposisi saat ini
yaitu PKS dan
Demokrat. Mereka mengusung Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden dengan
konsep perubahan.
Menanggapi
penetapan politisi NasDem, Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah sepakat untuk
segera dilakukan reshuffle kabinet. Bahkan, dia berkelakar jika dirinya menjadi
presiden sudah pasti ada reshuffle.
"Kalau
saya presiden, saya katakan ada, saya bukan presiden, saya enggak berani
(reshuffle)," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta,
Rabu (17/5/2023).
Kendati
demikian, dia menegaskan jika PDI Perjuangan tengah fokus mempersiapkan pileg
dan pilpres pada 2024 mendatang. Sehingga, dirinya enggan mengomentari lebih
jauh perihal kasus Johnny Plate.
"Kami
konsen untuk menghadapi pileg dan pilpres. Kami tidak lagi mau mengomentari
proses-proses hukum yang sedang berjalan di Kejagung, KPK, Kepolisian,
di APH, kami tidak akan ikut. Kami akan konsern betul bahwa fungsi-fungsi
legislatif akan berjalan, pasti pengawasan itu dilakukan," ujarnya.
Dorongan Reshuffle
Sementara
Ketua Dewan Pakar PAN Drajad Wibowo menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi)
sudah seharusnya melakukan perombakan kabinet atau reshuffel kabinet.
"Jika
Menkominfo menjadi tersangka, saya rasa secara politis dan tata pemerintahan,
Presiden tidak memiliki pilihan lain kecuali me-reshuffle Menkominfo,"
kata Djarat.
Dia
menyebut, akan menimbulkan kegaduhan jika Presiden tidak segera melakukan
reshuffle kabinet. Bahkan, Drajad meyakini kasus Johnny bakal menggangu kinerja
pemerintahan.
"Tidak
mungkin Presiden mempertahankan Menteri yg berstatus tersangka. Akan banyak
kegaduhan publik, dengan publikasi negatif. Tata pemerintahan terganggu karena
para birokrat menjadi gamang menjalankan perintah Menteri yang tersangka,
kinerja kementerian jadi terganggu," ujarnya.
NasDem Legono
Partai
NasDem pun legowo posisi Menkominfo direshuffle usai Johnny G Plate ditetapkan
tersangka. Bendahara Umum Partai NasDem Ahmad Sahroni mengatakan perombakan
kabinet merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi.
"Legowo,
enggak apa-apa itu kan hak prerogatifnya presiden," kata Sahroni.
Sahroni
mengungkapkan, Ketua Umum Partai NasDem telah menyatakan tidak mempersoalkan
bila kader NasDem didepak dari Kabinet Jokowi.
Saat ini,
ada 3 Menteri dari NasDem yang duduk di kabinet Jokowi, yakni Menteri
Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate, Menteri Pertanian
(Mentan) Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)
Siti Nurbaya.
"Dari
kemarin juga Pak Ketum menyampaikan kalau ada reshuffle enggak apa-apa, tidak
ada masalah," ujar Sahroni.
Surya Paloh Lapang Dada
Sementara
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berlapang dada bila Presiden Jokowi
me-reshuffle kabinetnya.
"Tadi
bagaimana dengan Pltnya Bung Jhonny Plate, di-reshuffle-nya, kita terima, kita
konsisten karena itu kita katakan kalau itu hak prerogatif Presiden," kata
Paloh.
Paloh menegaskan
pihaknya tak akan mengusulkan nama calon pengganti Plate dari Partai NasDem.
Sebab, menurut Paloh, Jokowi yang berwenang penuh menunjuk pengganti Plate.
"Enggak
ada yang lebih bodoh dari NasDem untuk tiba-tiba mengajukan nama baru tanpa
diminta oleh presiden. Sekali lagi itu adalah hak prerogatif Presiden,"
tambah Paloh.
Plate Pernah Siap Direshuffle
Jauh hari
sebelumnya, Plate mengatakan keputusan apapun soal kabinet menjadi hak
prerogatif Jokowi.
"Semua
partai, kalau saya bilang semua partai, tanpa terkecuali, karena itu hak
prerogatif yang dilindungi oleh konstitusi, jangan menabrak konstitusi, itu hak
presiden.," kata Johnny.
Johnny juga
mengatakan siap bila dicopot dari jabatan Menkominfo. Dia mengaku sebagai
pembantu presiden hanya menjalankan perintah Presiden.
Akan tetapi,
dia menegaskan, NasDem tidak setuju bila dituding mencemari ruang publik dengan
isu-isu tidak mendukung Presiden, tidak kompak atau mengganggu stabilitas
politik koalisi.
Johnny
mengajak semua partai koalisi Jokowi ikut membangun soliditas dan gotong royong
menghadapi tantangan bangsa ke depan.
"Kita
bangun itu, soliditas, bangun itu stabilitas politik dan bangun itu
kegotongroyongan," tutup Johnny.
Sumber : Merdeka.com
0 Komentar