Ustaz Jojo Ali Yusuf
saat ini jadi idaman Gen Z.@Scarf
Media/DOK.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) -
Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh kemunculan sosok pendakwah
yang tampilannya jauh dari kesan kaku.
Ia adalah Ustaz Jojo Ali Yusuf.
Namanya mendadak jadi perbincangan hangat setelah wajahnya wara-wiri di
berbagai kanal YouTube populer yang menjadi kiblat Gen Z, mulai dari obrolan
santai di Grindboyz (bersama Gofar Hilman), candaan di Vindes, hingga
eksplorasi mendalam di Marapthon dan kanal dr. Richard Lee.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ustaz
Jojo membawa napas baru dalam dunia dakwah: gaya bahasa yang
"nyambung", tidak menghakimi, dan kisah masa lalu yang sangat jujur.
Sebelum dikenal sebagai ustaz, Jojo,
yang lahir dengan nama Josua Suit, adalah seorang pengedar narkotika di kawasan
hiburan malam Jakarta. Hidupnya saat itu hanya berputar di antara dentuman
musik diskotik dan transaksi ilegal.
"Saya di titik yang sudah merasa
hidup ini mentok, hampir setiap malam ke diskotik di daerah Kota. Tujuan saya
jadi pengedar bukan pengin kaya, tapi supaya bisa happy-happy setiap malam.
Waktu itu menurut saya, kehidupan paling menyenangkan ya seperti itu,"
ungkap Jojo dalam wawancara di kanal YouTube dr Richard Lee.
Kegilaan hidupnya mencapai titik di
mana ia kehilangan moralitas. "Dahulu orang menghindar karena saya sudah
keterlaluan. Saya cari uang pernah sampai menjual teman. Sampai kayak
begitu," akunya dengan jujur.
Tahun 2011 menjadi akhir dari
pelariannya. Jojo tertangkap razia dengan barang bukti narkoba yang sangat
banyak. Uniknya, saat ditangkap, ia justru merasa tenang, sebuah pertanda bahwa
batinnya sudah lama lelah dengan dunia hitam.
Ia dijatuhi vonis 5 tahun 1 bulan
penjara. Di dalam Lapas Salemba, pandangannya terhadap hidup mulai berubah saat
melihat rekan-rekan narapidananya beribadah. "Saya lihat orang pada salat
di penjara dari belakang. Di dalam, orang ibadahnya luar biasa, doanya sampai
menangis. Saya terkesan dan berpikir, sepertinya ini yang saya cari,"
kenangnya.
Tepat pada 11 November 2011, Jojo
memutuskan bersyahadat. Dari sana, penjara berubah menjadi pesantren. Ia
belajar mengaji dari nol, mulai dari huruf Alif, Ba, Ta, hingga mengikuti
bimbingan dai dari Al-Azhar.
Kini, setelah menghirup udara bebas,
Ustaz Jojo memilih jalan dakwah yang unik. Ia tidak meninggalkan komunitas
lamanya, melainkan merangkul mereka. Ia sadar banyak anak muda yang ingin
kembali ke jalan yang benar namun merasa takut dihakimi.
"Saya melihat banyak orang yang
punya pengalaman seperti saya, dan saya sadar ada bisikan dalam diri mereka
untuk kembali ke jalan yang benar. Saya ingin mencoba memberikan jalan
itu," tuturnya.
Kehadirannya di podcast seperti Vindes
dan Grindboyz membuktikan bahwa pesan kebaikan bisa disampaikan melalui
frekuensi yang sama dengan anak muda. Ia adalah bukti hidup bahwa sekelam apa
pun masa lalu seseorang, masa depan yang terang selalu tersedia bagi mereka
yang mau berbalik arah.
"Saya ingin mengajak orang taat
kepada Allah, itu yang membuat saya bahagia sekarang," tutup Ustaz Jojo.
Sumber :
Beritasatu.com
0 Komentar