Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kondisi Sangat Prihatin di Negara-Negara Asia Dampak dari Perang Iran

 

Kondisi Sangat Prihatin di Negara-Negara Asia Dampak dari Perang Iran
Penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran picu krisis energi di Asia. Negara-negara seperti India dan Filipina hadapi lonjakan harga hingga kelangkaan pasokan. India sudah merasakan krisis LPG yang membuat rumah tangga dan industri kesulitan.@PTI/DOK.


MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Perang Iran yang diikuti penutupan Selat Hormuz kini tidak lagi sekadar konflik geopolitik, dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari jutaan orang, terutama di negara-negara Asia.  Dari antrean panjang bahan bakar, lonjakan harga energi, hingga pekerja yang kehilangan penghasilan, krisis ini menjalar cepat setelah jalur vital pengiriman minyak dunia tersebut tersendat.
 
Dilaporkan BBC, Jumat (3/4/2026), sekitar 20% pasokan minyak global biasanya melewati selat ini, dan sebagian besar mengalir ke Asia, membuat kawasan ini menjadi yang paling terpukul . Harga minyak melonjak dan pasar keuangan bergejolak, sementara distribusi energi terganggu akibat terbatasnya kapal yang bisa melintas. Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan juga memperparah tekanan, mendorong harga semakin tinggi.
 
"Asia menjadi episentrum dampak krisis ini. Hampir 90% minyak dan gas yang melewati selat tersebut ditujukan ke negara-negara Asia, membuat pemerintah di berbagai negara terpaksa mengambil langkah darurat," jelas BBC.
 
Pemerintah mulai memerintahkan kerja dari rumah, memangkas hari kerja, menetapkan hari libur nasional, hingga menutup kampus lebih awal demi menghemat energi. Bahkan negara dengan cadangan besar seperti China pun ikut membatasi kenaikan harga bahan bakar saat masyarakat menghadapi lonjakan harga hingga 20%.
 
Berikut ini kondisi yang terjadi di beberapa negara Asia yang terdampak perang Iran dan penutupan selat Hormuz yang direkam BBC.
 
Filipina
Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional menyusul konflik tersebut dan “ancaman nyata yang ditimbulkan terhadap ketersediaan serta stabilitas pasokan energi negara”. Dampak perang yang berjarak lebih dari 7.000 km (4.300 mil) terasa sangat kuat di sini, dengan para pengemudi jeepney menjadi salah satu yang paling terdampak.
 
Dalam upaya terbaru untuk meringankan beban pengemudi, pemerintah kota Manila mengumumkan akan membayar lebih dari 1.000 pengemudi jeepney untuk memberikan layanan gratis kepada penumpang. Bukan hanya pengemudi jeepney yang khawatir akan masa depan. Nelayan dan petani juga kesulitan akibat tingginya biaya bahan bakar. Beberapa petani sayur di Bulacan bahkan terpaksa berhenti menanam. Pemerintah telah mengakui masalah ini dan memberikan bantuan tunai.
 
Thailand
Dalam hampir dua dekade sebagai pembawa berita, Sirima Songklin jarang tampil tanpa mengenakan jas.  Namun bulan lalu, ia dan rekan-rekannya di penyiar publik Thai PBS melepas blazer mereka saat siaran untuk menyampaikan pesan hemat energi dengan berpakaian sesuai cuaca di tengah krisis bahan bakar.
 
Ini merupakan salah satu dari serangkaian arahan pemerintah sejak selat tersebut secara efektif ditutup. Masyarakat Thailand juga diminta menjaga suhu AC di 26–27 derajat celsius, dan seluruh instansi pemerintah diperintahkan bekerja dari rumah.


Untungnya, situasi mulai membaik, menurut Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang mengumumkan bahwa Thailand telah mencapai kesepakatan dengan Iran agar kapal tanker dapat melintasi Selat Hormuz. Namun ia tetap mengimbau masyarakat untuk menghemat bahan bakar dengan berbagi kendaraan atau menggunakan transportasi umum.
 
Sri Lanka
Sri Lanka baru saja keluar dari krisis keuangan yang pada 2022 membuat negara itu kehabisan cadangan devisa dan tidak mampu mengimpor barang penting termasuk bahan bakar. Saat ini mereka mengklaim  kondisi mulai stabil. Namun menyadari risikonya, pemerintah menerapkan berbagai langkah penghematan, termasuk menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional.
 
Namun tidak semua orang bisa melihat sisi positif dari krisis energi ini, terutama mereka yang bergantung langsung pada bahan bakar untuk penghidupan.
 
Myanmar
Di Myanmar, otoritas yang didukung militer menerapkan kebijakan kendaraan pribadi bergantian hari untuk menghemat bahan bakar. Masyarakat juga diminta beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum untuk bekerja.
 
India
Negara dengan populasi terbesar di dunia ini sangat terdampak oleh peristiwa di Timur Tengah sejak 28 Februari 2026. Komunitas India yang berjumlah 10 juta orang di kawasan Teluk menghadapi dampak langsung perang, sementara di dalam negeri kekurangan minyak dan gas dirasakan di rumah tangga maupun bisnis.
 
Di negara bagian barat Gujarat, kekurangan gas, bukan minyak, membuat industri keramik di wilayah tersebut berhenti beroperasi selama hampir sebulan.  Tanpa kepastian kapan konflik Iran berakhir, 400.000 pekerja di sektor ini berada dalam ketidakpastian.
 
India sangat terpukul oleh penutupan selat tersebut. Sekitar 60% gas petroleum cair (LPG) diimpor, dan sekitar 90% pengiriman itu melewati Selat Hormuz.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar