Oleh : Arya
Satria Wiraguna
MAJALAHJURNALIS.Com –
Manajemen
Bisnis Syariah-Manajemen Keuangan Syariah.
Apakah pasar modal sedang menjadi
tempat investasi—atau justru arena berjudi modern? Pertanyaan ini
menjadi relevan di tengah lonjakan jumlah investor baru di Indonesia. Data dari
Bursa Efek
Indonesia menunjukkan jumlah investor telah melampaui 11 juta SID. Ini kabar
baik. Namun, disaat yang sama, muncul gejala yang mengkhawatirkan: banyak pelaku
pasar yang bermental penjudi, bukan investor. Mereka masuk pasar
bukan karena memahami nilai, tetapi karena takut ketinggalan momentum.
Pemaparan
Masalah
Fenomena ini tidak terjadi begitu
saja. Ada empat faktor utama yang mendorong terbentuknya mental penjudi di pasar
modal.
Pertama, rendahnya literasi keuangan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan
menunjukkan literasi keuangan masyarakat masih sekitar 49 persen, jauh di bawah
tingkat inklusi.
Artinya, banyak orang sudah bisa berinvestasi, tetapi belum paham cara
mengelola risiko.
Kedua, kuatnya pengaruh influencer. Di
era media sosial, banyak orang membeli saham karena rekomendasi yang
viral, bukan karena analisis. Informasi menyebar cepat, tetapi tidak selalu
benar.
Ketiga, kemudahan akses. Membuka akun
saham kini hanya butuh beberapa menit. Tanpa edukasi yang cukup, kemudahan
ini justru mendorong perilaku impulsif.
Keempat, mindset ingin cepat kaya.
Narasi “cuan instan” membuat banyak orang melihat pasar modal sebagai jalan
pintas, bukan proses jangka panjang.
Dampaknya jelas: volatilitas
meningkat, keputusan irasional meluas, dan banyak investor ritel berakhir merugi.
Analisis
& Argumentasi
Perbedaan antara investor dan penjudi
sebenarnya sangat mendasar: cara berpikir.
Investor mengambil keputusan berbasis
data dan analisis. Mereka memahami risiko, memiliki rencana, dan berpikir jangka
panjang. Sebaliknya, penjudi mengandalkan emosi, mengikuti tren, dan mengejar keuntungan cepat.
Dalam kajian behavioral finance,
fenomena ini dikenal sebagai herd behavior kecenderungan mengikuti kerumunan. Ketika
banyak orang membeli, individu lain ikut membeli tanpa analisis. Ketika harga turun, mereka panik
dan menjual.
Contoh nyata terlihat pada kasus
global GameStop pada 2021. Harga saham melonjak drastis karena dorongan komunitas
daring. Namun setelah euforia mereda, harga jatuh dan banyak investor ritel mengalami kerugian.
Di Indonesia, pola serupa terlihat
pada volatilitas saham seperti PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), yang sempat naik
tajam lalu terkoreksi signifikan. Banyak investor masuk di puncak harga karena FOMO.
Namun, ada juga pandangan berbeda.
Sebagian pihak menilai investor ritel justru memperkuat likuiditas pasar. Ini benar
partisipasi ritel penting bagi pasar yang sehat.
Masalahnya, jika partisipasi tersebut
didominasi oleh mental penjudi, maka likuiditas yang tercipta menjadi rapuh dan
mudah berubah menjadi kepanikan massal.
Investor legendaris seperti Warren
Buffett memberikan perspektif yang kontras. Ia menekankan bahwa investasi adalah
tentang kesabaran, nilai, dan konsistensi. Kekayaan tidak dibangun dalam
semalam, tetapi
melalui proses panjang.
Dengan kata lain, pasar modal bukan
tempat untuk “menang cepat”, melainkan untuk “tumbuh perlahan”.
Solusi
& Ajakan
Mengubah mental penjudi menjadi mental
investor membutuhkan upaya bersama.
Pertama, edukasi harus diperkuat.
Literasi keuangan tidak cukup hanya mengenalkan saham, tetapi juga harus mengajarkan
risiko, manajemen emosi, dan strategi jangka panjang.
Kedua, perlu pengawasan terhadap
influencer keuangan. Rekomendasi investasi harus disertai tanggung jawab dan
transparansi. Masyarakat juga harus lebih kritis dalam menyaring informasi.
Ketiga, platform digital perlu
berperan lebih aktif. Fitur seperti simulasi investasi, pengingat risiko, dan pembatasan
transaksi bagi pemula dapat membantu membentuk perilaku yang lebih sehat.
Keempat, perubahan mindset. Ini yang
paling penting. Selama masyarakat masih melihat pasar modal sebagai jalan cepat
kaya, maka mental penjudi akan terus ada.
Pasar modal seharusnya dilihat sebagai
alat untuk membangun masa depan finansial, bukan sekadar mencari keuntungan
sesaat.
Pada akhirnya, perbedaan antara
investor dan penjudi bukan terletak pada apa yang dibeli, tetapi pada cara berpikir di
balik keputusan tersebut.
Pasar modal bisa menjadi alat yang
sangat kuat untuk menciptakan kesejahteraan. Namun tanpa literasi dan disiplin, ia
juga bisa menjadi jebakan yang merugikan.
Pilihan ada di tangan kita: menjadi
investor yang rasional, atau penjudi yang bergantung pada keberuntungan.
(Penulis merupakan Mahasiswa
Program Studi Manajemen Bisnis Syariah dengan Pemfokusan
Manajemen Keuangan Syariah Di Universitas Tazkia Bogor, Tertarik dengan Pasar
Modal, Pendidikan,
Ekonomi, Public Speaking, serta Pengembangan Diri dan Tim).
0 Komentar