Abang
kandung korban saat membuat laporan ke Polda Sumut (Mhd Ilham Pradilla/detikcom)
MAJALAHJURNALIS.Com (Medan) - Kematian pria bernama Safii (44) seorang
pedagang martabak di Asahan, Sumatera Utara, yang disebut tewas gantung diri
dinilai janggal oleh pihak keluarga. Oleh karena itu, pihak keluarga meminta
agar dilakukan ekshumasi.
Abang
kandung Safii, Teguh, mengatakan ia datang dari Aceh ke Polda Sumut karena
menilai kematian adiknya janggal. Apalagi ditemukan sejumlah luka lebam di
tubuh adiknya.
"Kedatangan
saya kemari buat laporan tentang kematian adik saya. Itu karena cerita
kematiannya simpang siur, misteri," kata Teguh, Kamis (25/6/2026).
Teguh
bercerita adiknya ditemukan meninggal dunia di rumahnya, di Kecamatan Aek
Songsongan, Kabupaten Asahan, pada 2 Juni 2026 lalu. Saat itu jasad adiknya
ditemukan pertama kali oleh istri korban.
Sampai
hari ini pihak tidak menerima informasi utuh tentang kematian Safii. Hal itulah
yang membuat keluarga curiga.
"Jadi
kami bertanya-tanya, bagaimana kronologinya, kenapa bisa begitu. Jadi kami
mohon yang berkewajiban inilah untuk menelusurinya," ujarnya.
Menurut
Teguh, korban pertama kali ditemukan oleh istrinya di dalam rumah. Peristiwa
itu kemudian diberitahukan kepada kepala dusun setempat yang selanjutnya
mengevakuasi korban ke puskesmas atau klinik terdekat.
Namun,
kata Teguh, warga sekitar tidak melihat langsung korban dalam kondisi
tergantung. Informasi soal bunuh diri itu hanya diketahui dari keterangan istri
korban dan kepala dusun.
"Yang
bilang bunuh diri itu si kadus dan istri (kepada warga sekitar). Terus dibawa
ke puskesmas. Pulang dari puskesmas hingga ke rumah adik saya itu, bilang
kejadiannya bunuh diri," ucapnya.
Teguh
menyebut, hanya istri korban dan kepala dusun yang melihat korban dalam kondisi
tergantung. Sementara itu, keluarga mengaku tidak pernah diperlihatkan
dokumentasi saat korban ditemukan dalam kondisi tergantung.
"Itu
yang mengangkat mayatnya kadus. Itu yang menolong dia lah, katanya dibawa ke
puskesmas," katanya.
Dia juga
mengaku menerima informasi yang berbeda-beda terkait alat yang digunakan korban
untuk gantung diri. Ada yang menyebut benang nilon, ada pula yang menyebut kain
gorden.
"Katanya
talinya kecil, tali nilon itulah. Nggak ada ditunjukkan ke keluarga,"
ujarnya.
Saat
keluarga tiba di rumah korban, mereka tidak menemukan lagi lokasi maupun barang
bukti yang diduga berkaitan dengan peristiwa gantung diri. Korban saat itu
telah dibawa ke puskesmas dan lokasi disebut sudah dibersihkan.
Kecurigaan
keluarga semakin kuat setelah melihat adanya luka lebam pada tubuh korban.
"Curiganya
itulah, karena ada memar di dada sebelah kiri. Itu yang tahu yang
memandikannya. Kemudian ada jeratan di leher," ungkap Teguh.
Menurutnya,
selama ini korban tidak memiliki masalah yang diketahui keluarga. Korban juga
sehari-hari sibuk berjualan martabak.
"Karena
dia sehari-harinya sibuk jualan martabak, tiba-tiba meninggal," katanya.
Atas
dasar itu, Teguh membuat laporan ke Polda Sumut dengan nomor
LP/B/1010/VI/2026/SPKT/POLDA SUMATERA UTARA tertanggal 25 Juni 2026.
Dia
berharap polisi dapat melakukan ekshumasi dan autopsi ulang untuk mengetahui
penyebab pasti kematian adiknya.
"Saya
siap kalau nanti ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian," pungkasnya
Sementara,
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan mengatakan, pihaknya akan
menindak lanjutin laporan tersebut sesuai laporan yang dibuat.
"Tentunya
akan didalami. Apabila tidak bunuh diri, maka akan disampaikan. Begitu juga,
apabila memang bunuh diri akan disampaikan,"ucapnya.
Sumber : detiksumut
0 Komentar